
Siswa kelas XI dan XII SMK Al Falah Jakarta mengikuti kunjungan industri di Universitas AMIKOM Yogyakarta pada Jumat, 12 Juni 2026. Kegiatan tersebut membekali peserta dengan wawasan mengenai pendidikan tinggi, adaptasi budaya kerja, kemandirian, kreativitas, pengalaman industri, serta pentingnya karakter dalam mencapai keberhasilan.
Rombongan didampingi Kepala Sekolah SMK Al Falah Jakarta, Masruroh, S.Ag., M.Pd., bersama pimpinan Yayasan Wakaf Al Falah dan para guru. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah memberikan pengalaman belajar di luar kelas sekaligus membantu siswa mempersiapkan pilihan setelah lulus.
Masruroh menyampaikan bahwa peserta perlu mampu beradaptasi ketika memasuki dunia kerja maupun perguruan tinggi. Setiap lingkungan memiliki budaya, aturan, dan prosedur yang harus dipahami serta dijalankan secara bertanggung jawab.
Ia turut mengajak siswa melatih kemandirian dengan menentukan target pendidikan dan karier. Guru dapat memberikan pendampingan, dorongan, dan doa, tetapi keberhasilan juga membutuhkan kesungguhan dari setiap peserta didik.
“Kalian perlu mempunyai target ke depan. Apa pun pilihan yang diambil, baik memasuki dunia industri, dunia kerja, maupun perguruan tinggi, mudah-mudahan diberikan kemudahan, kelancaran, dan kesuksesan,” ujar Masruroh.
Direktur Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional sekaligus Wakil Dekan II Bidang Nonakademik Fakultas Ekonomi dan Sosial Universitas AMIKOM Yogyakarta, Erik Hadi Saputra, S.Kom., M.Eng., kemudian menyampaikan motivasi mengenai kreativitas, keberanian mengeksekusi gagasan, dan pengalaman industri.
Erik menyambut rombongan dan menyampaikan bahwa SMK Al Falah Jakarta menjadi rombongan kunjungan ke-77 yang diterima Universitas AMIKOM Yogyakarta sepanjang 2026. Ia turut mengapresiasi hubungan kunjungan yang telah terjalin selama lebih dari satu dekade.
Dalam pemaparannya, Erik menjelaskan bahwa banyak individu maupun institusi memiliki sumber daya dan gagasan yang baik. Namun, keberanian mengambil tindakan menjadi salah satu faktor yang membedakan gagasan yang berhenti sebagai rencana dengan gagasan yang berkembang menjadi karya.
“Banyak orang mempunyai ide, tetapi tidak semuanya berani mengeksekusi. Keberanian menjalankan gagasan menjadi hal penting ketika kita ingin berkembang,” jelas Erik.
Menurut Erik, keberanian dapat tumbuh melalui peningkatan kapasitas dan pengalaman. Siswa perlu memperoleh kesempatan untuk mencoba, menghadapi tantangan, bekerja sama, dan mempelajari proses di lingkungan industri agar lebih siap menghadapi situasi baru.
Pengalaman tersebut juga membantu seseorang menyikapi kegagalan maupun penolakan dengan lebih matang. Setiap proses dapat digunakan untuk memperbaiki kemampuan, memperluas cara pandang, dan membangun kepercayaan diri.
“Pengalaman membuat kita berbeda. Karena itu, kalian membutuhkan pengalaman di industri agar menjadi lebih kuat dan semakin siap menghadapi dunia kerja,” ujar Erik.
Peserta kemudian memperoleh gambaran mengenai fasilitas teknologi dan laboratorium di Universitas AMIKOM Yogyakarta. Fasilitas tersebut mendukung pembelajaran pemrograman, pengembangan aplikasi, produksi konten digital, animasi, simulasi, dan berbagai karya berbasis teknologi.
Informasi mengenai fakultas dan program studi turut disampaikan melalui tayangan pengenalan akademik. Peserta dapat melihat berbagai pilihan pendidikan yang menghubungkan teknologi dengan bidang komunikasi, ekonomi, bisnis, sosial, industri kreatif, serta sains dan perencanaan wilayah.
Erik juga menggunakan film animasi Battle of Surabaya sebagai contoh pengembangan karya yang menggabungkan teknologi, kreativitas, cerita, dan nilai kemanusiaan. Produksi film tersebut melibatkan talenta dari berbagai bidang serta menghadirkan Maudy Ayunda dan Reza Rahadian sebagai pengisi suara.
Film tersebut diperkenalkan sebagai karya yang tidak hanya mengejar aspek hiburan, tetapi juga membawa pesan mengenai perjuangan, keberanian, perdamaian, dan sikap saling menolong. Menurut Erik, karya kreatif dapat digunakan untuk menyampaikan nilai serta memberikan manfaat kepada masyarakat.
“Buatlah karya dan konten yang memberikan banyak manfaat. Kemampuan yang kita miliki sebaiknya digunakan untuk menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi orang lain,” jelas Erik.
Erik turut menceritakan keterlibatan alumni Universitas AMIKOM Yogyakarta dalam industri animasi nasional. Sejumlah alumni yang pernah terlibat dalam produksi Battle of Surabaya kemudian mengembangkan pengalaman mereka dan berkontribusi dalam produksi film animasi Jumbo.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keterampilan dan portofolio yang dibangun melalui proyek dapat membuka peluang karier pada masa mendatang. Konsistensi, profesionalisme, kemampuan bekerja sama, dan kesiapan memanfaatkan kesempatan menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut.
Ketua Yayasan Wakaf Al Falah, Rita Zahara Fitriyah, selanjutnya mengajak siswa merangkum pembelajaran yang diperoleh selama kunjungan. Ia menekankan bahwa keberhasilan membutuhkan ilmu pengetahuan, semangat, kerja keras, dan karakter yang baik.
Menurut Rita, kemampuan akademik dan teknis perlu diimbangi dengan kejujuran, kerendahan hati, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap lingkungan. Karakter tersebut menentukan bagaimana pengetahuan digunakan ketika seseorang berada di lingkungan pendidikan maupun dunia kerja.
“Pengetahuan harus terus berkembang, tetapi karakter harus menjadi pendamping utama. Kita perlu menjadi orang yang berilmu, bekerja keras, dan mempunyai akhlak yang baik,” ujar Rita.
Ia juga mengapresiasi sambutan dan lingkungan Universitas AMIKOM Yogyakarta yang dinilai memberikan contoh mengenai keramahan, kebersihan, dan pengelolaan fasilitas. Pengalaman tersebut diharapkan dapat diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan dilanjutkan dengan pertukaran cendera mata dan foto bersama. Para peserta kemudian mengikuti kunjungan laboratorium untuk melihat fasilitas pembelajaran dan pemanfaatan teknologi secara lebih dekat.
Kunjungan industri tersebut diharapkan membantu siswa SMK Al Falah Jakarta memperluas wawasan mengenai pendidikan dan dunia industri sekaligus mendorong mereka membangun pengalaman, keberanian, kemandirian, serta karakter sebagai bekal menghadapi masa depan.
Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional




