Universitas Amikom Yogyakarta Perkuat Pemahaman Layanan Kampus Inklusif melalui Pelatihan “Disability Awareness: Pengenalan Daksa, Netra, dan Tuli”

28 August 2026 | Berita Utama

Universitas AMIKOM Yogyakarta melalui Amikom Disability Empowerment and Learning (ADEL) menggelar pelatihan “Disability Awareness: Pengenalan Daksa, Netra, dan Tuli” di Ruang 3.3.3, Gedung 3 Lantai 3, Kamis (27/8/2026). Menghadirkan Tim Bawayang Production, kegiatan ini membekali perwakilan unit kerja dengan pemahaman dan keterampilan komunikasi untuk mendukung layanan kampus yang inklusif bagi mahasiswa penyandang disabilitas.

Pelatihan menggabungkan pemaparan pengalaman narasumber, demonstrasi alat bantu, praktik bahasa isyarat, serta diskusi. Melalui interaksi langsung, peserta diajak mengenali kebutuhan yang berbeda pada setiap individu dan memahami cara memberikan bantuan tanpa mengabaikan kemandirian mereka.

Ketua ADEL, Yusuf Amri Amrullah, S.E., M.M., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dilatarbelakangi kebutuhan mempersiapkan layanan bagi calon mahasiswa penyandang disabilitas yang akan mengikuti pembelajaran. Menurutnya, kesiapan perlu dibangun bersama oleh unit yang berinteraksi dengan mahasiswa dalam kegiatan sehari-hari.

Karena itu, pelatihan menyasar perwakilan program studi dan berbagai layanan kampus, termasuk akademik, customer service, Amikom Resource Center, keamanan, serta petugas kebersihan. Amri berharap pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada peserta yang hadir, tetapi diteruskan kepada rekan kerja di unit masing-masing.

“Harapannya, Bapak Ibu sekalian yang ada di sini akan menyalurkan informasi ke teman-teman yang lainnya,” ujar Amri.

Ia juga membuka ruang masukan dari Tim Bawayang mengenai aksesibilitas fasilitas kampus. Amri menyampaikan bahwa pengelolaan layanan disabilitas masih memerlukan pembelajaran agar kampus dapat memberikan pelayanan yang lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.

Mengenali Kebutuhan Daksa dan Netra

Penggerak Komunitas Bawayang, Broto Wijayanto, memandu pembelajaran dengan menghadirkan pengalaman langsung para narasumber. Ia menekankan pentingnya komunikasi sebelum memberikan bantuan karena tindakan yang didasari niat baik belum tentu sesuai dengan kebutuhan orang yang dibantu.

“Yang paling utama adalah komunikasi. Jika ingin membantu, ditanyakan dulu, butuh dibantu atau tidak,” kata Broto.

Pada pengenalan disabilitas daksa, Sulistyo menjelaskan perbedaan kursi roda standar dan kursi roda aktif, termasuk penggunaannya untuk mendukung mobilitas sehari-hari. Ia mengingatkan bahwa alat bantu perlu dirawat agar tetap dapat digunakan dengan aman saat dibutuhkan.

Desta Ariyana Pertiwi melengkapi penjelasan tersebut dengan menunjukkan bahwa sesama pengguna kursi roda dapat memiliki kebutuhan bantuan yang berbeda. Kondisi tubuh dan kemampuan menjaga keseimbangan turut menentukan cara pendampingan. Karena itu, orang yang membantu perlu berkomunikasi terlebih dahulu sebelum mendorong atau memindahkan kursi roda.

Sementara itu, Yuda Wira Jaya, mahasiswa Jurusan Teater Institut Seni Indonesia Yogyakarta, memperkenalkan keragaman pengalaman penyandang disabilitas netra. Ia membahas perbedaan low vision atau penglihatan terbatas dengan kehilangan penglihatan total, serta penggunaan tongkat dan penanda lingkungan untuk orientasi dan mobilitas.

Yuda juga memperagakan penggunaan ponsel melalui pembaca layar untuk membaca dan mengetik pesan serta mengakses layanan transportasi daring. Demonstrasi aplikasi Cash Reader memperlihatkan bagaimana kamera ponsel dapat membantu mengenali nominal uang. Pengalaman tersebut memberikan gambaran mengenai peran teknologi dalam mendukung kemandirian penyandang disabilitas netra.

Belajar Bahasa Isyarat dan Membangun Komunikasi Setara

Pada sesi pengenalan Tuli, Arif Wicaksono memandu peserta mempraktikkan alfabet bahasa isyarat. Peserta diajak memperhatikan bentuk tangan, ekspresi wajah, dan gestur untuk membangun komunikasi yang lebih mudah dipahami.

Broto menjelaskan pentingnya komunikasi tatap muka dan kesediaan untuk terus belajar melalui interaksi dengan teman Tuli. Dalam diskusi, peserta turut mengangkat persoalan perbedaan bahasa isyarat antardaerah serta pengalaman berkomunikasi dan mendampingi mahasiswa penyandang disabilitas.

Menanggapi pertanyaan mengenai cara memahami kebutuhan mahasiswa, Broto menekankan perlunya membuka ruang dialog. Dosen dan tenaga kependidikan perlu mengenali cara berkomunikasi serta belajar setiap mahasiswa, kemudian mendiskusikan pendekatan yang dapat membantu mereka mencapai tujuan pembelajaran.

Melalui pelatihan ini, ADEL berharap pemahaman peserta dapat diterapkan dan dibagikan kepada seluruh rekan kerja. Kebiasaan bertanya, mendengarkan, dan menghargai kebutuhan individu menjadi langkah untuk membangun layanan kampus yang lebih nyaman, setara, dan aksesibel.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional