S1 Teknologi Informasi Raih Akreditasi Unggul LAM INFOKOM

14 August 2026 | Berita Utama

Program Studi S1 Teknologi Informasi Universitas AMIKOM Yogyakarta meraih peringkat Akreditasi Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Informatika dan Komputer (LAM INFOKOM). Pencapaian tersebut ditetapkan di Jakarta pada 20 Juli 2026 setelah program studi menjalani evaluasi dokumen dan asesmen lapangan secara luring pada 7–9 Juli 2026 untuk memastikan mutu pendidikan, sumber daya manusia, fasilitas, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta kompetensi lulusan.

Peringkat tersebut tertuang dalam Keputusan LAM INFOKOM Nomor 054/SK/LAM-INFOKOM/Ak/S/VII/2026. Sertifikat Akreditasi Unggul Program Studi S1 Teknologi Informasi Universitas AMIKOM Yogyakarta berlaku mulai 20 Juli 2026 hingga 20 Juli 2029.

Ketua Program Studi S1 Teknologi Informasi Universitas AMIKOM Yogyakarta, Agus Purwanto, M.Kom., menyampaikan bahwa pencapaian tersebut merupakan hasil kerja bersama berbagai unsur di lingkungan universitas. Proses akreditasi tidak hanya melibatkan pengelola program studi, tetapi juga fakultas, unit penjaminan mutu, direktorat, pengelola sumber daya manusia, keuangan, laboratorium, serta sarana dan prasarana.

“Pencapaian ini tidak hanya merupakan hasil kerja program studi. Saya mengapresiasi dan bangga kepada seluruh tim internal, fakultas, penjaminan mutu, serta direktorat yang telah membantu proses akreditasi,” ujar Agus.

Dua Asesor Lakukan Verifikasi Lapangan

Berdasarkan Surat Tugas LAM INFOKOM Nomor 120/ST/DE/LAM-INFOKOM/VI/2026, asesmen lapangan Program Studi S1 Teknologi Informasi dilaksanakan secara luring pada Selasa–Kamis, 7–9 Juli 2026.

LAM INFOKOM menugaskan dua asesor, yaitu Cecilia Esti Nugraheni, Dr.rer.nat., S.T., M.T. dari Universitas Katolik Parahyangan dan Windra Swastika, Ph.D. dari Universitas Ma Chung.

Dibalik Akreditasi Unggul S1-Teknologi Informasi, Proses Asesmen Lapangan

Kedua asesor melakukan verifikasi terhadap data dan informasi yang sebelumnya telah disampaikan program studi. Proses tersebut mencakup pemeriksaan dokumen, konfirmasi pelaksanaan kegiatan, penilaian sumber daya manusia, keuangan, kurikulum, luaran mahasiswa, alumni, serta dukungan sarana dan prasarana.

Asesor juga mendalami keterkaitan antara pembelajaran dan bidang pekerjaan alumni. Selain itu, tim asesor memeriksa pelaksanaan pembelajaran berbasis produk melalui mata kuliah Gelar Karya yang berfungsi sebagai Capstone Project bagi mahasiswa.

Menurut Agus, asesmen lapangan tidak hanya memeriksa kelengkapan laporan. Program studi perlu menunjukkan bahwa informasi dalam dokumen memiliki bukti dan sesuai dengan kegiatan yang telah dilaksanakan.

“Akreditasi sebenarnya merupakan proses menangkap berbagai kegiatan yang telah dilakukan program studi. Tantangannya adalah mencari dan menyiapkan kembali data, bukti, serta laporan yang dibutuhkan dalam penilaian,” jelas Agus.

Agus menjelaskan bahwa akreditasi mencakup berbagai unsur yang saling berkaitan. Program studi perlu menunjukkan kualitas pembelajaran, kompetensi dosen, dukungan fasilitas, kondisi keuangan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta luaran mahasiswa dan alumni.

Salah satu tantangan dalam proses tersebut adalah mengumpulkan kembali data dan bukti dari berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan. Sejumlah kegiatan telah berjalan melalui mekanisme rapat dan prosedur yang berlaku, tetapi tim tetap perlu memastikan seluruh dokumen pendukung tersedia dan dapat ditelusuri.

Dukungan unit-unit di lingkungan Universitas AMIKOM Yogyakarta membantu program studi memenuhi kebutuhan tersebut. Data mengenai sumber daya manusia, keuangan, fasilitas, laboratorium, serta kegiatan tridarma dikumpulkan dan disajikan sebagai bukti pelaksanaan.

Agus menyampaikan bahwa fasilitas laboratorium yang digunakan secara bersama telah mendukung kebutuhan pembelajaran Program Studi S1 Teknologi Informasi. Fakultas dan unit terkait juga membantu menyiapkan berbagai materi serta dokumen yang dibutuhkan selama asesmen.

Creative Digital Menjadi Kekhasan Program Studi

Agus menjelaskan bahwa Program Studi S1 Teknologi Informasi memiliki karakter yang menggabungkan teknologi, komunikasi, dan seni. Program studi menempatkan teknologi sebagai dasar dalam pengembangan produk Creative Digital, meliputi animasi, animasi 3D, game, efek visual, dan sinematografi.

Perbedaan utamanya terletak pada pendekatan pembelajaran. Program studi tidak hanya membahas aspek artistik, tetapi juga mempelajari bagaimana teknologi komputer digunakan dalam proses produksi, pengembangan, dan pengelolaan produk Creative Digital.

“Program Studi S1 Teknologi Informasi memiliki karakter yang cukup unik karena menggabungkan unsur teknologi, komunikasi, dan seni. Namun, kekuatan utama kami tetap berada pada teknologinya, terutama dalam pengembangan Creative Digital Visual,” kata Agus.

Dibalik Akreditasi Unggul S1-Teknologi Informasi, Proses Pendidikan Berbasis Creative Digital

Perkembangan teknologi komputer telah membawa perubahan besar dalam industri kreatif. Pemanfaatan computer-generated imagery (CGI), efek visual, dan kecerdasan buatan membuat proses produksi film, animasi, dan game semakin berkaitan dengan ilmu komputer.

Agus menilai mahasiswa perlu memahami teknologi sekaligus memiliki ketertarikan pada bidang kreatif. Perpaduan tersebut menjadi dasar bagi mereka untuk terlibat dalam perkembangan industri Creative Digital.

Salah satu hal yang mendapat perhatian asesor adalah bidang pekerjaan alumni. Sebelumnya, program studi memisahkan alumni yang bekerja pada bidang teknologi informasi dengan alumni yang berkarier sebagai animator dan pekerja Creative Digital.

Namun, asesor menilai pekerjaan sebagai animator, pengembang game, dan pengembang produk visual tetap berkaitan dengan teknologi informasi dan ilmu komputer. Penilaian tersebut memperkuat posisi keilmuan Program Studi S1 Teknologi Informasi.

“Ketika kami menjelaskan ada alumni yang bekerja sebagai animator, asesor menyampaikan bahwa pekerjaan tersebut masih termasuk bidang teknologi informasi. Pernyataan itu menjadi penguatan bagi program studi karena Creative Digital tetap berada dalam rumpun ilmu komputer,” tutur Agus.

Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa teknologi informasi tidak terbatas pada pemrograman aplikasi. Teknologi juga berperan dalam produksi animasi, game, film, efek visual, dan berbagai bentuk karya digital lainnya.

Menurut Agus, pandangan asesor memiliki arti penting karena disampaikan oleh pihak yang memiliki kompetensi dalam menilai program studi di bidang informatika dan komputer. Penilaian tersebut sekaligus menjawab kekhawatiran mengenai posisi Creative Digital dalam rumpun ilmu komputer.

Pembelajaran Berangkat dari Minat Mahasiswa

Program Studi S1 Teknologi Informasi mengembangkan pembelajaran dengan memperhatikan minat mahasiswa. Agus menilai proses belajar akan berjalan lebih baik ketika mahasiswa memiliki keinginan untuk mengembangkan diri, bukan hanya menjalankan kewajiban akademik.

“Belajar bukan hanya sesuatu yang harus dilakukan mahasiswa, tetapi sesuatu yang ingin dilakukan mahasiswa. Karena itu, kami berfokus pada bagaimana menumbuhkan keinginan tersebut,” katanya.

Program studi berusaha mengenalkan ruang lingkup pembelajaran sejak awal agar mahasiswa memahami bidang yang akan dijalani. Ketertarikan tersebut kemudian dikembangkan melalui praktikum, produksi karya, kompetisi, dan kegiatan yang membangun atmosfer kreatif.

Menurut Agus, kualitas animasi, game, atau produk visual akan berkembang melalui proses. Hal yang perlu dibangun terlebih dahulu adalah konsistensi, minat, dan kemauan mahasiswa untuk terus mempelajari bidang yang dipilihnya.

Gelar Karya Menjadi Capstone Project

Pembelajaran berbasis karya menjadi salah satu bagian yang diperiksa dalam asesmen lapangan. Pada semester enam, mahasiswa mengikuti mata kuliah Gelar Karya yang berfungsi sebagai Capstone Project.

Dalam mata kuliah tersebut, mahasiswa bekerja secara berkelompok untuk menghasilkan produk. Mereka tidak hanya mengembangkan aspek teknis, tetapi juga mempelajari kekayaan intelektual, manajemen produksi, pembagian kerja, dan pemasaran.

Saat asesor menanyakan keberadaan Capstone Project, program studi dapat menunjukkan mata kuliah Gelar Karya beserta daftar produk yang telah dihasilkan mahasiswa. Asesor memberikan apresiasi karena program studi memiliki mata kuliah khusus yang mengarahkan mahasiswa pada proses produksi secara menyeluruh.

Agus menyebut mahasiswa dapat menghasilkan lebih dari 100 karya dalam satu tahun. Produk tersebut dapat dikembangkan menjadi bahan tugas akhir, portofolio, kekayaan intelektual, maupun rintisan usaha.

“Mahasiswa tidak hanya membuat produk untuk menyelesaikan mata kuliah. Mereka juga belajar mengelola produksi, memahami kekayaan intelektual, dan memasarkan karya yang dihasilkan,” jelasnya.

Alumni Menjangkau Pasar Global

Pendekatan berbasis minat dan karya turut memengaruhi pilihan karier alumni. Banyak alumni memilih bekerja secara lepas karena proyek animasi, game, dan efek visual memberikan tantangan yang berbeda.

Setiap proyek membutuhkan konsep, aset, gaya visual, dan cara produksi yang tidak selalu sama. Kondisi tersebut mendorong alumni untuk terus memperbarui keterampilan dan mempertahankan ketertarikannya pada bidang Creative Digital.

Sejumlah alumni juga mengerjakan proyek untuk klien dari luar negeri meskipun bekerja dari rumah. Pola tersebut menunjukkan bahwa kompetensi di bidang animasi, game, dan efek visual dapat membuka akses terhadap pasar kerja global.

Data alumni tersebut turut menjadi bagian yang dikonfirmasi dalam asesmen lapangan. Pengalaman alumni membantu asesor melihat hubungan antara pembelajaran, kompetensi yang dikembangkan program studi, dan kebutuhan pekerjaan setelah lulus.

Menjadi Kampus Ramah Gen Z

Setelah meraih Akreditasi Unggul, Program Studi S1 Teknologi Informasi berkomitmen mempertahankan mutu sekaligus mengembangkan pengalaman belajar yang belum seluruhnya tercakup dalam instrumen akreditasi.

Agus ingin membangun program studi yang ramah bagi Generasi Z, yaitu lingkungan yang membuat mahasiswa merasa aman, diterima, dan memiliki ruang untuk bertumbuh sesuai dengan minatnya.

“Tidak semua mahasiswa masuk kampus hanya untuk mencari prestasi. Ada mahasiswa yang mencari tempat untuk merasa aman, diterima, dan dapat bertumbuh. Lingkungan seperti itulah yang ingin kami bangun,” ujarnya.

Dibalik Akreditasi Unggul S1-Teknologi Informasi, Menuju Kampus Ramah Gen Z

Rencana pengembangan tersebut mencakup pembelajaran yang lebih banyak menggunakan praktikum, dosen sebagai fasilitator, penyediaan perangkat untuk kebutuhan produksi, layanan informasi berbasis AI, fasilitas kesehatan mental, serta ruang pengembangan musik, komedi, dan olahraga elektronik.

Program studi juga merencanakan pengembangan industri mini di lingkungan kampus, seperti televisi kampus dan industri animasi. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, menghasilkan karya, membangun portofolio, dan mengenal proses kerja dalam industri.

Pencapaian Akreditasi Unggul diharapkan memperkuat komitmen Program Studi S1 Teknologi Informasi Universitas AMIKOM Yogyakarta dalam menjaga budaya mutu. Melalui pengembangan Creative Digital, pembelajaran berbasis karya, dan lingkungan yang mendukung pertumbuhan mahasiswa, program studi diharapkan terus menghasilkan lulusan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With : Agus Purwanto