
Yogyakarta, 18 Juni 2026 — Dosen S1 Teknik Komputer, Wahyu Sukestyastama Putra, S.T., M.Eng.,, menandai pencapaian penting dalam perjalanan akademiknya melalui Ujian Tertutup Doktor Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada pada Kamis, 18 Juni 2026, di Yogyakarta. Dalam agenda tersebut, Wahyu memaparkan disertasi berjudul “Prediksi Gempa Bumi Berbasis Fluktuasi Konsentrasi Gas Radon Menggunakan Metode Monte Carlo Aggregating,” sebuah riset yang berfokus pada pengembangan Early Warning System (EWS) Gempa untuk mendukung mitigasi bencana berbasis data.
Pencapaian ini menjadi bagian dari perjalanan panjang Wahyu dalam mengembangkan riset teknologi kebencanaan. Melalui EWS Gempa, ia berupaya menghadirkan sistem yang dapat membaca indikasi awal potensi gempa melalui pemantauan gas radon, level air tanah, serta pengiriman data sensor secara real time. Riset tersebut tidak hanya menunjukkan ketekunan akademik, tetapi juga komitmen untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi Indonesia sebagai negara rawan bencana.
“Tujuan mulianya adalah membuat suatu inovasi yang bisa menginformasikan bencana alam beberapa hari sebelum kejadian. Sehingga mitigasinya bisa lebih siap dan meminimalkan risiko,” jelas Wahyu.
EWS Gempa yang dikembangkan Wahyu berangkat dari persoalan mendasar dalam mitigasi bencana, yakni keterbatasan waktu untuk melakukan persiapan sebelum gempa terjadi. Selama ini, gempa bumi sering dipahami sebagai peristiwa yang sulit diprediksi. Melalui riset tersebut, Wahyu dan tim mencoba menghadirkan pendekatan teknologi yang dapat membantu membaca perubahan alam sebelum kejadian, sehingga hasil analisisnya dapat menjadi bahan pertimbangan bagi lembaga terkait.
Secara sederhana, EWS Gempa bekerja dengan memasang perangkat sensor di sejumlah titik pemantauan. Sensor tersebut merekam perubahan konsentrasi gas radon dan level air tanah. Data yang terkumpul kemudian dikirimkan ke sistem pusat secara real time untuk dianalisis. Dari data yang dikumpulkan dalam beberapa tahun terakhir, sistem membangun model prediksi dengan target keluaran berupa perkiraan waktu, magnitudo, dan posisi kejadian gempa.
“Semua alat itu mengirimkan data secara real time ke sistem. Dari data yang terkumpul dalam beberapa tahun terakhir, kemudian dibuat suatu model prediksi dengan target keluaran berupa perkiraan waktu, magnitudo, dan posisi,” ungkap Wahyu.
Inovasi ini tidak hanya mengandalkan satu perangkat, tetapi menghubungkan beberapa komponen dalam satu sistem. Perangkat sensor di lapangan terhubung dengan mikroprosesor, jaringan internet, cloud server, penyimpanan data, serta sistem analisis. Integrasi ini membuat data dari berbagai titik pemantauan dapat masuk ke sistem pusat dan diproses secara berkelanjutan.
Hingga agenda ujian tertutup berlangsung, sensor EWS Gempa telah dipasang di sekitar dua puluh titik. Pemasangan ini menjadi bagian penting dari pengembangan sistem, karena model prediksi membutuhkan data lapangan yang cukup, konsisten, dan berkelanjutan. Wahyu menyebut proses pengumpulan data dalam riset gempa memiliki tantangan tersendiri, sebab data tidak dapat diambil sewaktu-waktu sesuai kebutuhan peneliti.
“Kuncinya sabar. Step by step, yang penting konsisten. Kalau saya, harus menunggu gempa bumi untuk mendapatkan data. Jadi memang perlu kesabaran,” tuturnya.

Salah satu kekuatan inovasi ini berada pada upayanya mengubah data alam menjadi informasi yang dapat dianalisis. Perubahan konsentrasi gas radon dan level air tanah dibaca sebagai data awal yang kemudian dikaitkan dengan fenomena kegempaan. Itulah kenapa, dalam mengembangkan EWS Gempa ini, data ditempatkan sebagai fondasi utama. Data yang terkumpul dari sensor selama beberapa tahun ini menjadi dasar untuk membangun model prediksi.
Meski demikian, Wahyu menegaskan bahwa hasil analisis dari sistem ini tidak dapat langsung diumumkan secara mandiri oleh akademisi. Informasi resmi terkait potensi bencana tetap berada pada kewenangan lembaga yang memiliki otoritas. Dalam konteks ini, peran akademisi berada pada pengumpulan data, analisis fenomena, dan penyampaian hasil kajian kepada pihak terkait untuk ditindaklanjuti.
“Sebagai akademisi, kami hanya bisa mengumpulkan informasi, menganalisis fenomena alam, lalu hasil analisis itu dapat diberikan kepada pihak yang berwenang untuk ditindaklanjuti,” jelasnya.
Kehati-hatian tersebut menjadi penting karena informasi mengenai potensi bencana berkaitan langsung dengan keselamatan masyarakat. Karena itu, EWS Gempa tidak diposisikan sebagai alat untuk mengambil keputusan secara tunggal, melainkan sebagai sistem pendukung yang dapat memperkaya data bagi lembaga kebencanaan. Dengan pendekatan ini, inovasi yang dikembangkan tetap berada dalam koridor ilmiah, etis, dan kelembagaan.
Selain aspek riset, EWS Gempa juga menunjukkan arah hilirisasi teknologi kebencanaan. Dalam pameran yang menyertai agenda ujian tertutup, Wahyu dan tim menampilkan perangkat serta prototipe yang memperlihatkan alur kerja sistem dari sensor lapangan hingga keluaran analisis. Menurut Wahyu, perguruan tinggi berperan mengembangkan riset, sementara mitra industri membantu proses pengembangan produk, termasuk aspek kelayakan dan sertifikasi perangkat.
Dengan model tersebut, EWS Gempa tidak berhenti sebagai kajian akademik. Inovasi ini diarahkan agar hasil penelitian dapat terus dikembangkan menjadi perangkat yang memiliki potensi penggunaan di lapangan. Proses ini membutuhkan pengujian berkelanjutan, penyempurnaan sistem, dan koordinasi dengan pihak yang memiliki otoritas dalam penanganan bencana.
“Ini baru awal. Sistem yang kami kembangkan masih memiliki kekurangan dan akan terus kami upayakan untuk disempurnakan melalui koordinasi dan kerja sama dengan lembaga terkait, sehingga inovasi ini bisa memberikan manfaat secara langsung,” ujar Wahyu.
Wahyu menutup pencapaian ini dengan refleksi bahwa gelar akademik bukan tujuan akhir, melainkan awal dari pengabdian yang lebih luas. Baginya, teknologi harus terus dikembangkan agar mampu memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Doktor itu bukan akhir, tetapi awal dari tanggung jawab. Dengan teknologi, saya punya tanggung jawab kepada bangsa Indonesia untuk mengembangkan sistem yang lebih baik,” tuturnya.
Melalui pencapaian ini, Wahyu Sukestyastama Putra diharapkan dapat terus memperkuat kontribusi Universitas AMIKOM Yogyakarta dalam pengembangan riset teknologi kebencanaan. Perjalanan akademik dan inovasi EWS Gempa yang ia bangun menjadi pijakan penting untuk menghadirkan riset yang tidak hanya bernilai ilmiah, tetapi juga relevan bagi keselamatan dan kesiapsiagaan masyarakat.
Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With : Wahyu Sukestyastama Putra
Koresponden : Dony Ariyus




