Workshop “1 Miliar Pertama dari Affiliate” Bahas Strategi Kreator

28 August 2026 | Berita Utama

Amikom Business Park (ABP) bersama JJ Glow dan Nobi Project menyelenggarakan Workshop & Talkshow “1 Miliar Pertama dari Affiliate” di Ruang Cinema Universitas Amikom Yogyakarta, Rabu (26/8/2026). Kegiatan ini mempertemukan mahasiswa, calon afiliator, dan pelaku affiliate untuk mempelajari strategi membangun konten, mengembangkan personal branding, serta meningkatkan kemampuan pemasaran melalui media sosial.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari JJ Glow Live Bootcamp Jogja 2026, program pembelajaran gratis selama tiga hari yang memadukan pemaparan materi, diskusi, pendampingan, dan praktik. Melalui rangkaian tersebut, peserta mendapatkan kesempatan mempelajari aktivitas affiliate sekaligus mencoba menerapkan strategi konten dan live streaming dengan bimbingan mentor.

Tiga narasumber hadir dalam sesi talkshow, yakni Owner JJ Glow Maharani Kemala, Mega Influencer sekaligus alumni Amikom Dara Sarasvaati, serta afiliator Yogyakarta Sahril Putra. Ketiganya berbagi perspektif mengenai hubungan antara brand, kreator, dan audiens, mulai dari membangun kepercayaan hingga menghadapi tantangan dalam menghasilkan penjualan.

JJ Glow dan Nobi Project Dorong Konsistensi serta Pendampingan

Dalam sambutannya, Maharani Kemala mengajak peserta berani memulai usaha tanpa menunggu seluruh kondisi menjadi ideal. Ia menceritakan perjalanan bisnisnya sejak 2007 ketika masih menjadi mahasiswa. Saat itu, ia berjualan produk fashion sebelum kemudian mengembangkan usaha di bidang kosmetik.

Keinginan hidup mandiri menjadi salah satu alasan Maharani mulai berbisnis. Aktivitas usaha tersebut tetap dijalankan ketika dirinya bekerja di perbankan setelah menyelesaikan kuliah. Pengalaman itu menjadi dasar pesannya bahwa membangun usaha membutuhkan tujuan yang jelas dan kemauan menjalani proses.

“Satu, harus konsisten. Kedua, harus punya tujuan hidup,” ujar Maharani.

Ia menekankan pentingnya memperlakukan kegiatan membuat konten maupun live streaming sebagai pekerjaan yang dilakukan secara disiplin. Maharani juga mendorong peserta memanfaatkan pendampingan selama bootcamp untuk memperbanyak praktik dan bertanya. Menurutnya, pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan sesuai minat masing-masing, termasuk pada bidang fashion, makanan, dan kebutuhan rumah tangga.

Founder Nobi Project Dadang Kurnia menjelaskan bahwa pengembangan afiliator membutuhkan dukungan tim. Melalui program tersebut, peserta memperoleh pendampingan dari pengelola kreator dan advertiser, termasuk dukungan iklan serta pemanfaatan program promosi dari brand.

Dadang menekankan bahwa afiliator tidak menjalani proses pengembangan penjualan sendirian. Kolaborasi antara kreator, brand, dan tim pendukung menjadi bagian dari upaya membantu peserta meningkatkan kemampuan serta performa penjualannya.

Dalam sesi pemaparan, Irawan Sidik dari Nobi Project memperkenalkan tiga jalur affiliate, yaitu video pendek, live streaming, serta pemanfaatan kartu produk dan berbagi tautan. Ia mengajak peserta memilih pendekatan sesuai kemampuan komunikasi, keterampilan membuat konten, kenyamanan tampil, dan waktu yang tersedia.

Irawan turut membahas penguasaan informasi produk, penyiapan naskah sederhana untuk live, kualitas pencahayaan dan suara, serta evaluasi data performa. Peserta diajak menelaah penyebab perubahan jumlah penonton dan penjualan agar dapat menentukan langkah perbaikan secara lebih terarah.

Talkshow Kupas Kepercayaan, Perjalanan Afiliator, dan Personal Branding

Pada sesi talkshow, Maharani Kemala menjelaskan bahwa brand dan afiliator memiliki hubungan yang saling membutuhkan. Afiliator membantu memperkenalkan produk dan mendorong penjualan, sementara brand mengerjakan berbagai kebutuhan di belakang layar, mulai dari pengembangan produk, ketersediaan barang, hingga dukungan pemasaran.

Ia juga membedakan peran influencer yang membantu menyampaikan citra dan pesan brand dengan afiliator yang lebih berfokus pada konversi penjualan. Keduanya dapat saling melengkapi, tetapi membutuhkan kepercayaan audiens sebagai dasar hubungan dengan konsumen.

“Jangan sampai kita jadi influencer itu bohong,” tegas Maharani.

Ia mengingatkan peserta agar tidak sekadar mengejar endorsement atau komisi. Kreator perlu memahami produk, memberikan ulasan secara jujur, dan menghindari klaim berlebihan karena reputasi akan memengaruhi kepercayaan audiens terhadap rekomendasi berikutnya.

Pengalaman menjalani proses sebagai afiliator disampaikan Sahril Putra, yang dikenal melalui akun Anak Rantau. Ia menceritakan peralihannya dari pekerjaan di perbankan setelah sekitar sepuluh tahun bekerja di sektor tersebut.

Sahril mengungkapkan bahwa perjalanannya tidak langsung menghasilkan penjualan besar. Pada tahap awal, ia menjalani siaran panjang dengan jumlah penonton dan transaksi yang terbatas. Kondisi itu menuntutnya tetap aktif menjelaskan produk meskipun belum banyak orang bergabung dalam siaran.

“Tantangan terbesar itu adalah viewers nol, tetapi saya harus tetap berbicara, harus tetap tersenyum,” ungkap Sahril.

Ia menekankan pentingnya menetapkan target realistis, menjaga kemauan belajar, dan memilih produk yang dapat dijelaskan dengan percaya diri. Menurutnya, perkembangan seorang afiliator juga berkaitan dengan dukungan brand dalam membangun penjualan.

Menanggapi pengalaman tersebut, Maharani menceritakan kebiasaannya memantau live afiliator, membagikan ulang siaran, serta memberikan masukan terhadap penjelasan produk. Ia juga menyoroti layanan setelah pembelian yang dilakukan Sahril melalui tindak lanjut terhadap pengalaman konsumen. Pendekatan tersebut dibahas sebagai cara menjaga hubungan dengan pembeli dan memberikan nilai tambah dalam pelayanan.

Sementara itu, Dara Sarasvaati menyoroti pentingnya identitas yang autentik dalam membangun personal branding. Menurutnya, kreator perlu mengenali minat, nilai, dan karakter diri, kemudian menyampaikannya secara konsisten kepada audiens.

Ia menjelaskan bahwa tayangan tinggi belum tentu menghasilkan kepercayaan maupun peluang kerja sama yang kuat. Kreator juga membutuhkan ciri khas dan segmen audiens yang jelas agar brand dapat melihat kesesuaian pesan serta tujuan kerja sama.

Dalam sesi tanya jawab, peserta mengangkat persoalan kurang percaya diri, kesulitan membangun identitas, serta konten yang belum mendapatkan perhatian. Dara mengajak peserta menelaah akar persoalan sebelum menentukan langkah perbaikan.

“Saya adalah alumni dari Amikom. Saya dididik untuk punya kerangka berpikir yang diawali dari latar belakang atau masalah itu sendiri, kemudian kita bisa menemukan solusi,” tuturnya.

Dara mengingatkan bahwa mengikuti tren perlu dilakukan tanpa meninggalkan karakter diri. Perbedaan dapat dibangun melalui sudut pandang, gaya penyampaian, dan cara mengemas topik agar relevan dengan audiens. Maharani turut menambahkan bahwa ciri khas dapat muncul melalui bahasa, suara, penampilan, maupun cara mengulas produk.

Pada akhir diskusi, Dara menegaskan bahwa konsistensi perlu disertai evaluasi, analisis, dan inovasi. Peserta didorong mempelajari konten yang berhasil maupun yang belum mencapai harapan, kemudian menggunakan temuan tersebut untuk memperbaiki karya berikutnya.

Kepercayaan, pemahaman produk, dan kemauan belajar menjadi pesan utama dalam diskusi ketiga narasumber. Bekal tersebut selanjutnya dapat diterapkan peserta melalui praktik dan pendampingan dalam rangkaian bootcamp sesuai minat serta kemampuan masing-masing.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional