Kuliah Umum Mahasiswa Baru, Kenalkan Ekosistem Creative Economy Park Amikom

10 August 2026 | UMUM

Universitas AMIKOM Yogyakarta menyelenggarakan kuliah umum tentang Amikom Creative Economy Park (ACEP) bagi mahasiswa baru di Cinema Universitas AMIKOM Yogyakarta, Kamis (6/8/2026). Rektor Universitas AMIKOM Yogyakarta, Prof. Dr. M. Suyanto, M.M., memperkenalkan ekosistem yang menghubungkan pendidikan, penelitian, kewirausahaan, teknologi, dan industri kreatif untuk mendukung mahasiswa menghasilkan karya bernilai ekonomi.

Dalam pemaparannya, Prof. Suyanto menjelaskan bahwa ACEP menjadi bagian dari pengembangan universitas generasi keempat. Perguruan tinggi tidak hanya mempersiapkan ilmuwan dan tenaga profesional, tetapi juga mendorong lahirnya wirausahawan serta praktisi kreatif dari berbagai program studi.

Menurutnya, mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan tersebut melalui mata kuliah, kegiatan riset, inkubasi bisnis, dan keterlibatan dalam berbagai proyek. Ekosistem ini dirancang agar karya akademik tidak berhenti sebagai tugas perkuliahan, tetapi dapat dikembangkan menjadi portofolio, produk, perusahaan rintisan, maupun kekayaan intelektual.

“Creative Economy Park itu ekosistemnya memiliki banyak perusahaan. Inilah yang akan kita jadikan sebagai salah satu program unggulan untuk menghasilkan pendapatan dan mendukung para entrepreneur,” ujar Prof. Suyanto.

ACEP menghubungkan lingkungan pendidikan dengan sejumlah unit usaha dan industri dalam ekosistem Amikom, antara lain MSV Studio, PT Time Excelindo, PT GIT Solution, serta Amikom Business Park Incubator (ABP Incubator). Berbagai unit tersebut bergerak dalam bidang animasi, teknologi informasi, pengembangan sistem, kewirausahaan, dan produksi kreatif.

Prof. Suyanto menyampaikan bahwa ABP Incubator menjadi ruang pendampingan bagi mahasiswa dan pengembang perusahaan rintisan. Dalam pemaparannya, ia menyebutkan bahwa sebanyak 48 perusahaan rintisan telah bergabung dalam ekosistem inkubasi tersebut. Mahasiswa dapat memanfaatkan lingkungan ini untuk mempelajari pengembangan produk, pengelolaan bisnis, dan pemasaran.

Selain perusahaan rintisan, kuliah umum membahas pengembangan teknologi drone untuk pertanian, pemetaan, dan perencanaan wilayah. Contoh tersebut menunjukkan bahwa inovasi dalam ACEP dapat melibatkan mahasiswa dari berbagai bidang, seperti Geografi, Perencanaan Wilayah dan Kota, Informatika, dan Teknik Komputer.

Mahasiswa juga diperkenalkan dengan peluang industri kreatif melalui fotografi, desain grafis, multimedia, perdagangan elektronik, dan pembuatan konten. Prof. Suyanto mendorong mahasiswa membangun portofolio sejak awal perkuliahan sekaligus mempelajari cara memasarkan karya melalui platform digital.

Sesi kuliah umum dilanjutkan dengan diskusi bersama mahasiswa. Seorang mahasiswa baru Program Studi Teknologi Informasi menanyakan cara mengembangkan kemampuan menggambar dan menulis menjadi cerita yang dapat dinikmati masyarakat melalui komik maupun film.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Prof. Suyanto menjelaskan bahwa sinematografi merupakan seni menyampaikan cerita melalui bahasa visual. Pembuat karya perlu memahami penggunaan kamera, pencahayaan, sudut pengambilan gambar, tindakan karakter, serta pesan yang tidak disampaikan secara langsung.

“Sinematografi sebenarnya adalah bercerita dengan bahasa visual. Karya tersebut perlu melibatkan pikiran, emosi, dan menyentuh hati nurani seseorang,” jelas Prof. Suyanto.

Mahasiswa Program Studi Teknik Komputer juga menanyakan tantangan membawa karya lokal ke industri film internasional. Suyanto menekankan pentingnya membangun kualitas cerita, jaringan profesional, kepercayaan, dan kolaborasi secara bertahap. Menurutnya, proses tersebut memerlukan ketekunan karena kreator tidak dapat memasuki industri berskala global secara instan.

Kuliah umum ini diharapkan membantu mahasiswa baru memahami ekosistem pendidikan di Universitas AMIKOM Yogyakarta. Melalui ACEP, mahasiswa didorong untuk mengembangkan kompetensi akademik, kreativitas, jiwa kewirausahaan, dan keberanian membawa karya berbasis budaya lokal menuju pasar yang lebih luas.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional