Dosen Universitas AMIKOM Yogyakarta meraih 18 pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada Tahun Anggaran 2026. Dari jumlah tersebut, 15 pendanaan berasal dari Program Penelitian, dan 3 di antaranya diraih oleh Dr. Andi Sunyoto, M.Kom. Dalam artikel khusus ini, @amikomjogja mengangkat salah satu proposal Dr. Andi Sunyoto, M.Kom. yang memperoleh pendanaan pada Program Penelitian skema Penelitian Disertasi Doktor, yakni:
“Pengembangan model End-to-End MIM-AVE (Monocular-IMU Amodal Volume Estimation) Network untuk estimasi volume buah non-aksisimetri secara real-time berbasis fusi sensor”.
Dalam Wawancara dengan Dr. Andi Sunyoto, M.Kom, Beliau menjelaskan bahwa Penelitian ini berfokus pada pemanfaatan computer vision dan deep learning untuk mengestimasi volume serta massa produk hortikultura hanya dari foto, tanpa perlu pengukuran manual. Riset tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan inovasi terapan yang relevan dengan kebutuhan sektor pertanian dan pangan.
Penelitian ini memperoleh pendanaan melalui skema Penelitian Disertasi Doktor, yaitu skema dalam Program Penelitian yang ditujukan untuk mendukung riset mahasiswa jenjang doktor. Melalui skema ini, penelitian mahasiswa doktoral tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan akademik penyelesaian studi, tetapi juga didorong agar menghasilkan kontribusi keilmuan yang relevan terhadap persoalan nyata di masyarakat.
Dalam penelitian ini, mahasiswa doktoral Teuku Mufizar mengembangkan risetnya di bawah bimbingan Dr. Andi Sunyoto, M.Kom. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pendidikan doktoral memiliki hubungan yang erat dengan pengembangan ilmu pengetahuan, karena penelitian mahasiswa doktoral menjadi ruang lahirnya gagasan, metode, dan temuan baru yang dapat memperkaya disiplin ilmu sekaligus menjawab kebutuhan praktis di lapangan.
Dr. Andi menjelaskan bahwa penelitian ini dirancang untuk menjawab persoalan teknis yang selama ini kerap ditemui dalam pengukuran produk hortikultura. Berbeda dengan benda beraturan yang mudah dihitung menggunakan rumus geometri, buah dan produk hortikultura lain umumnya memiliki bentuk yang tidak seragam. Kondisi itu membuat proses pengukuran volume dan massa secara manual menjadi tidak praktis, terutama jika dibutuhkan dalam jumlah besar dan waktu cepat.
Yang membuat penelitian ini menarik adalah penggunaan model End-to-End MIM-AVE Network berbasis Monocular-IMU Amodal Volume Estimation. Meski istilahnya teknis, arah utamanya cukup jelas, yaitu mengembangkan sistem yang dapat membaca informasi visual dan mengubahnya menjadi estimasi volume secara otomatis. Dengan pendekatan seperti ini, penelitian tidak lagi bergantung pada pengukuran manual yang memakan waktu, tetapi bergerak menuju sistem pengukuran yang lebih cerdas dan lebih adaptif terhadap bentuk objek yang kompleks.
“Jadi nanti fungsinya adalah mengestimasi kira-kira berapa sih volumenya dengan hanya pakai komputer vision dan menggunakan deep learning, kemudian bisa menggunakan foto, hanya dengan foto nanti ketahuan ini volumenya berapa tanpa perlu diukur manual,” ujar Dr. Andi Sunyoto, M.Kom.
Secara substantif, penelitian ini membuka peluang penerapan teknologi yang lebih efisien dalam penanganan komoditas hortikultura. Informasi mengenai volume dan massa produk dapat digunakan sebagai dasar untuk klasifikasi kualitas, pengelompokan ukuran, hingga penentuan nilai jual. Dengan demikian, hasil penelitian tidak berhenti pada pengembangan model komputasi, tetapi juga berpotensi mendukung proses pengambilan keputusan yang lebih akurat dalam rantai produksi dan distribusi hasil pertanian.
Dr. Andi juga menegaskan bahwa seluruh riset yang ia jalankan, termasuk pengembangan model ini, berangkat dari pendekatan yang aplikatif. Ia menyebut bahwa penelitian seharusnya tidak berhenti pada laporan akademik atau publikasi ilmiah semata, melainkan perlu diarahkan hingga memberi manfaat nyata. Karena itu, pengembangan model End-to-End MIM-AVE diposisikan sebagai bagian dari tahapan riset yang dapat terus ditingkatkan menuju pemanfaatan lebih luas, baik untuk kebutuhan masyarakat maupun pengembangan produk teknologi.
Lebih jauh, Dr. Andi menilai bahwa hasil riset idealnya tidak berhenti di laboratorium. Ia mendorong agar penelitian dapat dilanjutkan ke tahap hilirisasi, sehingga hasilnya bisa diterapkan dalam pengabdian kepada masyarakat, digunakan dalam proses pembelajaran, atau dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai guna lebih luas. Pandangan ini menunjukkan bahwa riset bukan hanya alat untuk menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga sarana untuk menghadirkan solusi yang relevan bagi kebutuhan nyata.
“Next-nya kita meneruskan sampai nanti tahapan jadi riset itu tidak berhenti di media lab, tapi sampai ke masyarakat, atau bisa dijual. Intinya yang kita sebut dengan hilirisasi,” ujarnya.
Dr. Andi menegaskan bahwa proposal ini merupakan bagian dari kolaborasi antara dosen dan mahasiswa Doktoral. Kolaborasi ini menunjukan bahwa riset doktoral tidak berdiri sendiri sebagai pekerjaan mahasiswa semata, tetapi berkembang melalui pendampingan, diskusi, dan penguatan arah keilmuan bersama pembimbing. Dengan pola seperti ini, penelitian doktoral tidak hanya memperkuat mahasiswa sebagai peneliti, tetapi juga memperkuat tradisi akademik di perguruan tinggi.
Hal lain yang menarik, Dr. Andi Sunyoto, M.Kom. memandang kerja sama dalam riset sebagai kebutuhan yang sangat penting, terutama ketika penelitian menyentuh bidang yang tidak sepenuhnya berada dalam satu rumpun keahlian. Ia mencontohkan bahwa ketika meneliti tema pertanian, ia juga melibatkan pihak yang memahami bidang tersebut agar penyelesaian masalah menjadi lebih tepat. Pandangan ini menunjukkan bahwa riset yang baik tidak hanya bergantung pada keahlian teknis, tetapi juga pada kemampuan membangun kolaborasi dengan orang yang tepat.
“Ketika kita menyelesaikan masalah bukan di bidang kita, itu ya kita harus melibatkan, harus berkolaborasi dengan orang yang ahli di bidangnya itu,” ujarnya.
Pernyataan itu memperlihatkan cara pandang Dr. Andi Sunyoto, M.Kom. terhadap penelitian sebagai bagian dari rangkaian yang lebih panjang. Ia tidak melihat hibah penelitian sebagai titik akhir, melainkan sebagai salah satu tahap dalam perjalanan menuju pemanfaatan yang lebih luas. Karena itu, penelitian seperti ini tidak hanya penting untuk pengembangan ilmu, tetapi juga memiliki potensi untuk mendukung proses pengabdian kepada masyarakat maupun pengembangan produk di masa mendatang.
Keberhasilan proposal ini memperoleh pendanaan menunjukkan bahwa riset pada jenjang doktoral dapat tumbuh menjadi karya yang kuat secara akademik sekaligus relevan secara praktis. Melalui pengembangan model End-to-End MIM-AVE, Dr. Andi Sunyoto, M.Kom. memperlihatkan bahwa teknologi visi komputer dapat diarahkan untuk membantu kebutuhan nyata di bidang hortikultura. Hal ini menegaskan satu hal penting: penelitian yang baik tidak hanya lahir dari kecanggihan metode, tetapi juga dari kemampuan membaca persoalan lapangan, membangun kolaborasi yang tepat, dan menerjemahkannya menjadi solusi yang terukur.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With Andi Sunyoto




