Dosen Universitas AMIKOM Yogyakarta meraih 18 pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada Tahun Anggaran 2026. Dari jumlah tersebut, 4 di antaranya diraih oleh Prof. Dr. Kusrini, M.Kom. Dalam artikel khusus ini, @amikomjogja mengangkat salah satu proposal Prof. Dr. Kusrini, M.Kom. yang memperoleh pendanaan pada Program Penelitian skema Penelitian Terapan Luaran Prototipe, yakni:
“Penerapan sistem cerdas deteksi pengunjung pantai dan batas zona aman dinamis berbasis near edge mendukung Smart Beach Visitor Safety System”
Smart Bevisat atau Smart Beach Visitor Safety System dikembangkan sebagai solusi keselamatan pantai yang bekerja secara terintegrasi. Sistem ini memanfaatkan kamera berbasis kecerdasan artifisial untuk memantau aktivitas pengunjung pantai secara real time dan mengidentifikasi area berisiko. Area pantai kemudian diklasifikasikan ke dalam beberapa zona, sehingga sistem dapat memberikan peringatan saat pengunjung memasuki wilayah yang berpotensi membahayakan keselamatan. Dengan cara ini, sistem tidak hanya hadir sebagai alat pemantau, tetapi juga sebagai mekanisme pencegahan yang membantu petugas membaca situasi lapangan secara lebih cepat dan lebih akurat.
Dalam pengembangannya, Smart Bevisat juga dilengkapi perangkat pendukung berbasis Internet of Things. Salah satu komponen yang menarik adalah pelampung pintar yang dapat digerakkan menuju korban ketika terjadi kondisi darurat di laut. Sistem ini juga didukung ground station mandiri yang menyediakan sumber daya listrik dan jaringan sendiri, sehingga tetap dapat beroperasi di kawasan pantai yang memiliki keterbatasan infrastruktur. Pendekatan ini menunjukkan bahwa penelitian tidak hanya memikirkan kecanggihan teknologi, tetapi juga memperhitungkan kondisi nyata di lokasi penerapan.
Yang membuat penelitian ini semakin penting adalah orientasinya yang sangat dekat dengan kebutuhan publik. Smart Bevisat tidak dibangun untuk menjawab persoalan yang abstrak, melainkan untuk mendukung keselamatan pengunjung pantai dan memperkuat kesiapsiagaan petugas di lapangan. Uji coba sistem telah dilakukan di Pantai Drini, Yogyakarta, dengan melibatkan penjaga pantai dan petugas penyelamat. Tahap ini menjadi penting karena penelitian terapan memang menuntut hubungan yang kuat antara pengembangan teknologi dan kebutuhan pengguna di lapangan. Melalui proses tersebut, Smart Bevisat dikembangkan agar benar-benar relevan dengan situasi yang dihadapi petugas keselamatan pantai.
Prof. Dr. Kusrini, M.Kom. menegaskan bahwa tujuan utama pengembangan Smart Bevisat adalah memberi dampak nyata. Ia tidak melihat penelitian ini hanya sebagai pencapaian akademik, melainkan sebagai upaya untuk menghadirkan alat bantu yang benar-benar bisa digunakan. “Fokus kami adalah bagaimana sistem ini benar-benar bisa membantu petugas dan meningkatkan keselamatan pengunjung pantai,” ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa arah penelitian sejak awal memang bertumpu pada manfaat langsung bagi masyarakat.
Perjalanan Smart Bevisat juga menunjukkan bahwa penelitian ini telah mendapat perhatian di tingkat internasional. Pada ajang Asia Pacific ICT Alliance Awards (APICTA) 2025, Smart Bevisat terpilih sebagai nominee pada kategori Inclusions & Community Services serta kategori Research & Development (R&D). Keterpilihan itu menempatkan Smart Bevisat sebagai salah satu inovasi berbasis riset dari Indonesia yang dinilai relevan dalam menjawab persoalan keselamatan publik.

Penelitian ini memperoleh pendanaan melalui skema Penelitian Terapan Luaran Prototipe, yaitu skema dalam Program Penelitian yang ditujukan untuk mendorong riset terapan agar menghasilkan purwarupa yang dapat diuji dan dikembangkan lebih lanjut sesuai kebutuhan lapangan. Melalui skema ini, penelitian tidak berhenti pada gagasan konseptual, tetapi diarahkan menjadi solusi yang dapat diterapkan secara nyata.
Prof. Dr. Kusrini, M.Kom., menegaskan bahwa riset terapan seperti ini memang diarahkan untuk menghasilkan produk. Luaran yang dituju bukan sekadar publikasi, tetapi prototipe yang dapat terus dikembangkan hingga siap dimanfaatkan lebih luas. Karena itu, pengembangan Smart Bevisat diposisikan sebagai proses berkelanjutan, bukan penelitian yang berhenti pada satu tahap saja.
“Kalau dihiririsasi ini lebih ke arah gimana caranya persiapan untuk komersialisasi… ketika kita sudah punya produk, ini bisa sampai ke masyarakat,” jelasnya saat menerangkan arah lanjutan pengembangan hasil riset.
Riset ini juga menunjukkan konsistensi Universitas AMIKOM Yogyakarta dalam mengembangkan teknologi yang berangkat dari kebutuhan nyata. Smart Bevisat tidak hanya muncul sebagai gagasan inovatif, tetapi terus diperkuat melalui penelitian lanjutan agar memiliki kesiapan teknologi yang semakin matang. Kehadirannya sebagai bagian dari inovasi keselamatan pantai menunjukkan bahwa pengembangan kecerdasan artifisial dan sistem cerdas di kampus tidak hanya menyasar sektor industri atau bisnis, tetapi juga menyentuh aspek perlindungan publik di ruang wisata terbuka.
Ke depan, penelitian tentang penerapan sistem cerdas deteksi pengunjung pantai dan batas zona aman dinamis berbasis near edge ini diharapkan dapat memperkuat sistem keselamatan di kawasan pesisir, sekaligus menjadi contoh bahwa hasil riset perguruan tinggi dapat tumbuh menjadi solusi yang relevan bagi masyarakat. Pengembangan Smart Bevisat juga diharapkan membuka jalan bagi penerapan teknologi keselamatan yang lebih adaptif, efisien, dan sesuai dengan karakter lingkungan pantai di Indonesia.
Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With Kusrini




