Dosen Universitas AMIKOM Yogyakarta meraih 18 pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada Tahun Anggaran 2026. Dari jumlah tersebut, 15 pendanaan berasal dari Program Penelitian, dan 3 di antaranya diraih oleh Dr. Andi Sunyoto, M.Kom. Dalam artikel khusus ini, @amikomjogja mengangkat salah satu proposal Dr. Andi Sunyoto, M.Kom. yang memperoleh pendanaan pada Program Penelitian skema Penelitian Disertasi Doktor, yakni:
“CNN–Mamba Dual-Scale Adaptive Network untuk segmentasi pembuluh darah retina dengan preservasi pembuluh mikro dan konektivitas topologi”.
Dr. Andi menjelaskan Fokus utama penelitian ini adalah segmentasi pembuluh darah pada retina. Dalam penjelasannya, Dr. Andi menyebut bahwa riset tersebut masih berada dalam rumpun keilmuan yang sama dengan penelitian-penelitian lain yang ia tekuni, yakni computer vision. Namun, berbeda dari riset pertanian yang juga ia kerjakan, penelitian ini secara khusus diarahkan untuk mendeteksi pembuluh darah yang ada di retina mata. Menurutnya, pendekatan segmentasi menjadi penting karena sistem tidak hanya perlu mengenali keberadaan objek, tetapi juga harus mampu memperjelas struktur pembuluh darah yang sangat halus.
Penelitian ini memperoleh pendanaan melalui skema Penelitian Disertasi Doktor, yaitu skema dalam Program Penelitian yang ditujukan untuk mendukung riset mahasiswa jenjang doktor. Melalui skema ini, penelitian mahasiswa doktoral tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan akademik penyelesaian studi, tetapi juga didorong agar menghasilkan kontribusi keilmuan yang relevan terhadap persoalan nyata.
Dalam penelitian ini, mahasiswi doktoral Universitas Amikom Yogyakarta, Evi Dewi Sri Mulyani, di bawah bimbingan Dr. Andi Sunyoto, M.Kom mengembangkan rpenelitian CNN–Mamba yang berpotensi mendukung deteksi awal sejumlah gangguan kesehatan mata ini. Kolaborasi antara dosen dan mahasiswa doktoral memungkinkan penguatan riset dari sisi akademik maupun teknis, sekaligus membuka ruang bagi lahirnya inovasi yang memiliki relevansi langsung terhadap kebutuhan nyata.
Secara substansi, penelitian ini bergerak pada pengembangan segmentasi pembuluh darah retina menggunakan pendekatan computer vision dan deep learning. Dr. Andi menjelaskan bahwa penelitian ini masih berada dalam rumpun yang sama dengan fokus keilmuannya, yaitu pengolahan citra cerdas. Bedanya, bila riset lain diarahkan pada objek pertanian, penelitian ini menyasar citra retina sebagai sumber informasi medis yang sangat penting. Dengan segmentasi yang lebih baik, sistem dapat membantu menampilkan pembuluh darah secara lebih jelas, termasuk bagian-bagian kecil yang sering sulit terdeteksi.
egmentasi pembuluh darah retina menjadi penting karena struktur tersebut menyimpan informasi visual yang relevan untuk membantu pengamatan kondisi tertentu. Jika pembuluh darah yang sangat kecil dapat ditampilkan dengan lebih jelas, maka proses pembacaan citra dapat dilakukan dengan lebih akurat, dan hasilnya berpeluang membantu pengambilan keputusan yang lebih baik.
Yang membuat penelitian ini semakin menarik adalah fokusnya pada preservasi pembuluh mikro dan konektivitas topologi. Artinya, penelitian tidak hanya berupaya menampilkan pembuluh darah utama, tetapi juga menjaga agar pembuluh-pembuluh kecil dan hubungan antarjalurnya tetap terbaca dengan baik. Hal ini penting karena dalam citra retina, pembuluh darah tidak berdiri sendiri sebagai titik-titik terpisah, melainkan membentuk jaringan yang saling terhubung. Karena itu, sistem yang dikembangkan tidak cukup hanya mengenali bentuk umum, tetapi juga perlu mempertahankan keterhubungan visual dari struktur pembuluh tersebut.
Dr. Andi Sunyoto, M.Kom. menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama dalam penelitian ini adalah ukuran pembuluh darah retina yang sangat kecil dan kemiripan warnanya dengan elemen lain di sekitarnya. Kondisi ini membuat pembuluh darah sering kali tidak tampak jelas apabila hanya diamati secara biasa. Karena itu, pendekatan segmentasi menjadi penting untuk membantu memperjelas area pembuluh darah agar informasi yang dibutuhkan benar-benar bisa ditangkap oleh sistem maupun digunakan dalam proses analisis selanjutnya.
“Karena kalau kita lihat pembuluh darah di retina itu sangat kecil, warnanya juga mirip dengan warna yang lainnya. Dan sebenarnya itu informasi yang penting, jadi supaya lebih diperjelas lagi pembuluh-pembuluh darah itu, supaya nanti dalam pengambilan keputusan itu menjadi lebih presisi,” ujarnya.
Selain memperlihatkan kekuatan topik penelitian, proposal ini juga menunjukkan pentingnya kerja sama dosen dan mahasiswa dalam pendidikan doktoral. Dalam wawancara, Dr. Andi Sunyoto, M.Kom. menegaskan bahwa proposal-proposal pada skema disertasi adalah hasil kolaborasi antara dosen dan mahasiswa. Pandangan ini memperlihatkan bahwa penelitian doktoral bukan ruang yang tertutup, tetapi proses ilmiah bersama yang dibangun melalui pendampingan, diskusi, dan penguatan substansi. Dengan pola seperti ini, mahasiswa tidak hanya berkembang sebagai peneliti, tetapi juga ikut membangun tradisi akademik yang lebih kuat di perguruan tinggi.
Di sisi lain, pengalaman Dr. Andi Sunyoto, M.Kom. juga menunjukkan bahwa riset yang baik lahir dari ketekunan dan konsistensi. Ia memandang menulis dan meneliti sebagai passion, sehingga proses yang dijalani tidak terasa sebagai beban. Ia juga menegaskan pentingnya memahami aturan setiap hibah, mulai dari aspek administrasi hingga substansi, agar proposal dapat bersaing dengan baik. Bagi dia, penelitian yang kuat harus dibangun dengan kesungguhan, disiplin, dan fokus yang jelas pada bidang keahlian.
“Kalau saya pribadi, nulis itu passion. Jadi anggap passion sehingga melakukannya itu enggak terpaksa, melakukannya dengan senang,” kata Dr. Andi Sunyoto, M.Kom.
Keberhasilan proposal ini memperoleh pendanaan menunjukkan bahwa penelitian pada jenjang doktoral dapat tumbuh menjadi karya yang kuat secara akademik sekaligus relevan secara praktis. Melalui riset CNN–Mamba Dual-Scale Adaptive Network, Dr. Andi Sunyoto, M.Kom. dan Evi Dewi Sri Mulyani memperlihatkan bahwa pengembangan kecerdasan artifisial dan pengolahan citra dapat diarahkan untuk membantu pembacaan informasi medis dengan lebih presisi. Hal ini menegaskan satu hal penting: riset yang baik tidak hanya lahir dari kekuatan metode, tetapi juga dari kepekaan dalam membaca kebutuhan nyata dan kemampuan menerjemahkannya menjadi solusi ilmiah yang terukur.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With Andi Sunyoto




