
Mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Pemerintahan Universitas AMIKOM Yogyakarta, Mohammad Rifai, berhasil meraih Juara 2 Nasional Business Plan, Gold Medal Subtema Industri Kreatif, dan Favorite Poster dalam Faperta Fair 9 yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Mataram di Lombok pada 9–11 Mei 2026.
Faperta Fair 9 merupakan ajang kompetisi ilmiah nasional tahunan yang mengusung tema “Langkah Generasi Muda Menuju Indonesia yang Lebih Berkembang”. Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menuangkan ide kreatif, mengasah kemampuan berpikir kritis, serta menyusun solusi ilmiah terhadap berbagai tantangan di masyarakat.
Pencapaian Rifai dalam ajang tersebut diraih melalui kategori Business Plan dengan subtema Industri Kreatif. Dalam kompetisi ini, ia mengangkat gagasan inovasi silase sebagai solusi atas persoalan pakan ternak di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Ide tersebut berangkat dari kondisi daerah asalnya yang mengalami keterbatasan lahan hijau akibat aktivitas industri pertambangan, sehingga berdampak pada ketersediaan pakan bagi peternak.
“Di daerah kami, Morowali merupakan wilayah industri pertambangan. Lahan hijau semakin berkurang, sehingga kami mencoba melihat persoalan ini dari sektor peternakan. Salah satu masalah yang muncul adalah kurangnya jaminan pakan,” ujar Rifai.
Rifai memaparkan bahwa persoalan pakan tidak hanya berdampak pada ketersediaan makanan ternak, tetapi juga memengaruhi minat masyarakat untuk terus beternak. Ia menyampaikan bahwa peternak menghadapi tantangan karena pakan sulit diperoleh secara berkelanjutan, sementara pembelian pakan dari luar daerah membutuhkan biaya yang lebih besar.
Melalui business plan yang ia susun bersama tim, Rifai menawarkan inovasi silase sebagai pakan alternatif yang dapat membantu menjaga ketersediaan pakan ternak. Silase dipilih karena dapat menyimpan bahan pakan dalam jangka waktu tertentu dan berpotensi diterapkan di daerah yang memiliki keterbatasan lahan hijau.
Presentasi Rifai tidak hanya berhenti pada produk pakan. Ia juga menawarkan konsep pengelolaan peternakan yang lebih tertata melalui tiga pendekatan utama, yaitu penyediaan pakan silase, monitoring ternak secara berkala, dan pengolahan limbah ternak menjadi pupuk organik. Menurut Rifai, konsep tersebut dapat membantu peternak mengelola ternak secara lebih terarah sekaligus menciptakan nilai ekonomi tambahan dari limbah peternakan.
Selain aspek produk, Rifai juga menjelaskan rencana segmentasi pasar dalam presentasinya. Ia menyampaikan bahwa timnya telah membuka diskusi awal dengan pemerintah daerah untuk menjajaki peluang kerja sama. Skema yang ditawarkan adalah mendorong perusahaan di wilayah industri agar dapat membeli produk tersebut dan menyalurkannya kepada masyarakat terdampak sebagai bagian dari program pemberdayaan.
Menurut Rifai, pendekatan tersebut penting karena persoalan peternakan di Morowali tidak dapat dilihat hanya dari sisi bisnis. Ia memosisikan inovasi silase sebagai gagasan yang memiliki nilai ekonomi sekaligus manfaat sosial bagi masyarakat lokal.

Dari Kepedulian Terhadap Prodi ke Gagasan untuk Morowali
Motivasi Rifai mengikuti kompetisi tersebut muncul dari keinginannya untuk memperkuat rekam prestasi Program Studi S1 Ilmu Pemerintahan. Setelah mendapatkan informasi mengenai kompetisi Faperta Fair 9, Rifai bersama rekannya dari Universitas Teknologi Yogyakarta, mulai mencari gagasan yang dekat dengan persoalan nyata di daerah asalnya, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Mereka melakukan riset sederhana melalui media sosial, pengamatan kondisi daerah, serta kajian dari sejumlah referensi. Dari proses itu, mereka menemukan persoalan dalam sektor peternakan, khususnya keterbatasan pakan akibat berkurangnya lahan hijau di wilayah industri pertambangan.
“Coba kita lihat dulu daerah butuh apa. Kami riset melalui media, dari TikTok, Instagram, lalu melihat kondisi daerah sebenarnya seperti apa. Setelah itu, kami tertarik pada sektor peternakan,” jelas Rifai.
Dari hasil riset tersebut, Rifai bersama tim menyusun business plan tentang inovasi silase untuk mengatasi krisis pakan ternak di Kabupaten Morowali.
Bagi Rifai, mengikuti Faperta Fair 9 menjadi pengalaman penting untuk menguji kemampuan berpikir, menyusun gagasan, dan menyampaikan solusi di forum nasional. Ia juga mendapatkan kesempatan untuk bertemu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan melihat beragam inovasi yang dikembangkan peserta lain.
“Setelah ikut kegiatan ini, saya mendapatkan banyak relasi dan melihat banyak inovasi dari kampus lain. Saya juga melihat bahwa mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta punya peluang besar untuk bersaing di tingkat nasional, terutama jika terus didorong untuk berinovasi,” kata Rifai.
Rifai berharap pencapaian ini dapat menjadi dorongan bagi mahasiswa Prodi S1 Ilmu Pemerintahan dan mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta secara umum untuk lebih berani mengikuti kompetisi akademik.
Pencapaian Mohammad Rifai dalam Faperta Fair 9 menunjukkan bahwa prestasi dapat dimulai dari kepedulian terhadap program studi dan persoalan nyata di masyarakat. Melalui proses riset, kerja tim, dan keberanian menyampaikan gagasan di tingkat nasional, Rifai berhasil membawa isu krisis pakan ternak Morowali menjadi karya yang mendapatkan apresiasi dalam kompetisi ilmiah nasional.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With : Mohammad Rifai
Koresponden : Emha taufiq Luthfi




