EU Green Engineering Hub Buka Peluang Studi Lanjut ke Eropa

29 April 2026 | Berita Utama

Pemerintah Indonesia bersama Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia meluncurkan EU Green Engineering Hub dalam agenda RI–EU Science & Technology Collaboration Forum: Green Technology for Sustainable Climate Solution yang digelar di Grha Diktisaintek, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Jakarta, pada Rabu, 22 April 2026. Platform ini diperkenalkan untuk membuka akses informasi pendidikan, beasiswa, peluang kolaborasi, pendanaan, dan karier di bidang green engineering bagi mahasiswa, dosen, peneliti, dan profesional Indonesia.

Peluncuran EU Green Engineering Hub menjadi salah satu agenda utama dalam forum kerja sama Indonesia dan Uni Eropa tersebut. Melalui platform ini, komunitas pendidikan Indonesia dapat memperoleh informasi mengenai program studi, peluang beasiswa, serta pilihan karier di bidang rekayasa hijau yang tersedia di kawasan Uni Eropa. Kehadiran platform ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat sumber daya manusia Indonesia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, menegaskan bahwa riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia harus menjadi kekuatan utama dalam menjawab kebutuhan bangsa. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam melahirkan talenta yang mampu berkontribusi pada pengembangan teknologi hijau dan transformasi industri nasional.

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, H.E. Denis Chaibi, juga menyampaikan bahwa Indonesia merupakan mitra penting Uni Eropa dalam mendorong inovasi hijau. Ia menegaskan bahwa dukungan terhadap pengembangan talenta muda Indonesia, termasuk melalui inisiatif 1.000 Green Engineers, menjadi bagian dari kerja sama jangka panjang antara Indonesia dan Uni Eropa. Program ini bekerjasama dengan lebih dari 186 Universitas di Uni Eropa, dengan lebih dari 191 Beasiswa di 1380 Program Green Engineering dan lebih dari 216 Peluang kerja di bidang ini.

EU Green Engineering Hub dirancang sebagai pintu masuk bagi masyarakat Indonesia untuk mengenal lebih jauh peluang di bidang rekayasa hijau. Melalui platform tersebut, pengguna dapat menelusuri program beasiswa di berbagai negara anggota Uni Eropa. Informasi tersebut mencakup bidang-bidang seperti energi terbarukan, desain berkelanjutan, teknologi lingkungan, peluang riset, magang, pekerjaan, serta pendanaan pendidikan.

Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Universitas AMIKOM Yogyakarta, Prof. Arief Setyanto, S.Si., M.T., Ph.D., menyampaikan bahwa EU Green Engineering Hub tidak hanya ditujukan untuk satu jenjang pendidikan. Menurutnya, platform ini dapat dimanfaatkan oleh calon mahasiswa S1, S2, S3, peneliti, maupun pihak lain yang ingin mengembangkan kompetensi di bidang green engineering.

Beliau menekankan bahwa istilah green engineering tidak boleh dipahami secara sempit. Menurutnya, bidang ini tidak hanya berkaitan dengan kehutanan atau lingkungan secara langsung, tetapi juga mencakup banyak disiplin ilmu lain, termasuk computer science, elektronika, komunikasi, otomasi, dan teknologi pendukung lainnya.

Pemahaman tersebut menjadi penting karena solusi untuk isu perubahan iklim membutuhkan keterlibatan berbagai bidang ilmu. Dalam konteks ini, mahasiswa dari rumpun teknologi dan informatika juga memiliki ruang untuk berkontribusi, baik melalui riset, pengembangan sistem, analisis data, maupun inovasi berbasis digital.

Peluang Studi di Eropa bagi Mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta

Prof. Arief menyampaikan bahwa mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta yang tertarik melanjutkan studi atau mencari peluang akademik di Eropa dapat langsung mengakses platform tersebut. Di dalamnya, tersedia berbagai informasi mengenai program studi, negara tujuan, sumber pendanaan, beasiswa, hingga peluang kerja yang berkaitan dengan teknologi hijau.

“Mahasiswa bisa masuk ke website EU Green Engineering Hub. Di sana ada daftar scholarship, pilihan negara, funding sources, jenjang studi, hingga peluang kerja yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing,” jelas Prof. Arief.

Bagi Mahasiswa yang ingin memanfaatkan EU Green Engineering Hub, bisa mengakses https://www.greenengineer.eu/ dan memilih jalur sesuai kebutuhan, lalu menggunakan filter yang tersedia. Untuk pencarian studi, pilih Green Engineering, tentukan negara, bahasa, dan jenjang pendidikan. Untuk beasiswa, pilih Scholarships, lalu sesuaikan negara, funding source, dan level studi. Untuk karier, pilih Green Jobs, kemudian telusuri bidang pekerjaan yang relevan dengan minat dan latar belakang pendidikan. Dengan platform ini, proses persiapan akan lebih terarah dan tidak hanya berhenti pada pencarian informasi.

Prof. Arief menekankan pentingnya keberanian, kesiapan bahasa, dan rasa percaya diri. Menurutnya, mahasiswa Indonesia perlu membangun kesadaran bahwa mereka memiliki posisi yang setara dalam ruang akademik internasional.

“Hal pertama yang perlu dibangun adalah kesadaran bahwa kita dan mereka setara. Ketika kesadaran itu sudah ada, langkah berikutnya akan lebih mudah. Tentu mahasiswa juga perlu menyiapkan kemampuan bahasa sebagai modal komunikasi,” ungkapnya.

Pesan tersebut sejalan dengan semangat forum RI–EU yang mendorong kerja sama sains dan teknologi antara Indonesia dan Uni Eropa. Melalui EU Green Engineering Hub, mahasiswa dan peneliti Indonesia diharapkan dapat lebih mudah menemukan peluang pendidikan, beasiswa, karier, serta jejaring kolaborasi di bidang teknologi hijau.

Bagi Universitas AMIKOM Yogyakarta, informasi mengenai EU Green Engineering Hub menjadi peluang penting untuk mendorong mahasiswa agar lebih aktif melihat kesempatan global. Platform ini juga dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan kapasitas akademik, riset, dan pengembangan talenta di bidang teknologi yang mendukung keberlanjutan lingkungan.

Tersedianya EU Green Engineering Hub diharapkan dapat memperluas akses mahasiswa, dosen, dan peneliti Indonesia terhadap peluang internasional di bidang green engineering. Melalui platform ini, kolaborasi Indonesia dan Uni Eropa diharapkan tidak hanya berhenti pada forum, tetapi berlanjut menjadi kesempatan nyata untuk pengembangan pendidikan, riset, dan inovasi berkelanjutan.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With : Arief Setyanto