Dosen Universitas AMIKOM Yogyakarta meraih 19 pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknataan pada Tahun Anggaran 2026. Dari jumlah tersebut, salah satu capaian yang turut diangkat dalam rangkaian artikel khusus ini berasal dari Dr. Ferry Wahyu Wibowo, S.Si., M.Cs. Dalam artikel khusus ini, @amikomjogja mengangkat proposal beliau yang memperoleh pendanaan pada Program Hilirisasi Riset Prioritas skema Dorongan Teknologi, yakni:
“Perangkat Teknologi Pembuatan Pakan Ternak Hidroponik Rumput Barley Berbasis Wireless Sensor Networks dan Internet of Things”.
Penelitian yang dilakukan Dr. Ferry ini merupakan penelitian lanjutan yang sebelumnya juga memperoleh Pendanaan Pra Studi Kelayakan Produk Hasil Riset pada Program Hilirisasi Riset Prioritas Skema Dorongan Teknologi tahun 2025, penelitian Dr. Ferry kini memasuki tahap lanjutan yang berfokus pada komersialisasi perangkat teknologi pembuatan pakan ternak hidroponik rumput barley berbasis wireless sensor networks dan Internet of Things. Riset ini dikembangkan untuk mendukung penyediaan pakan ternak berkualitas tinggi dengan menghadirkan teknologi pembuatan pakan ternak hidroponik berbasis rumput barley dengan dukungan Wireless Sensor Networks (WSN), Internet of Things (IoT), dan Artificial Intelligence (AI) agar proses produksi pakan dapat dipantau secara lebih terukur, efisien, dan berkualitas.
Pada tahap awal yang didanai pada 2025, Dr. Ferry dan tim berfokus pada perancangan, perakitan, serta implementasi awal perangkat. Sistem yang dikembangkan dirancang untuk memantau pertumbuhan rumput barley hidroponik secara real time, mulai dari tinggi tanaman, potensi penyakit, hingga kualitas nutrisi. Data tersebut kemudian diolah menggunakan algoritma AI berbasis klasifikasi untuk menentukan kualitas rumput yang layak dipanen sebagai pakan ternak. Dengan pendekatan itu, penelitian ini tidak hanya menawarkan teknologi pemantauan, tetapi juga sistem pengambilan keputusan yang dapat membantu peternak memperoleh pakan dengan standar kualitas yang lebih terukur.
Memasuki tahun kedua yang didanai pada 2026, fokus proposal bergeser ke tahap yang lebih maju, yakni pengujian kelayakan dan komersialisasi. Dalam transkrip wawancara, dijelaskan bahwa penelitian rekayasa seperti ini memang diarahkan hingga siap dijual. “Kalau hilirisasi riset itu memang arahnya harus dijual perangkat itu,” demikian penegasan terkait arah pengembangan program pada tahap lanjutan. Pada fase ini, perangkat tidak lagi berhenti pada model atau prototipe, tetapi harus diuji di beberapa titik, dinyatakan layak, dan menyiapkan dokumen kelayakan sebagai bagian dari proses menuju pemanfaatan yang lebih luas.

Dr. Ferry menjelaskan bahwa program hilirisasi riset memang dirancang bertahap. Pada tahun pertama, tim diarahkan untuk membangun model dan prototipe, sedangkan tahun kedua fokus pada implementasi lebih luas dan produksi massal.
“Tahun pertama kami diarahkan membuat model dan prototipe, sedangkan pada tahun kedua fokus pada implementasi dan produksi massal. Proses seleksi cukup ketat karena setiap aspek proposal, mulai dari anggaran hingga kesiapan teknologi, diperiksa secara detail,” ungkapnya.
Secara substantif, proposal Dr. Ferry menyoroti persoalan penting di sektor peternakan, yakni akses terhadap pakan berkualitas tinggi yang selama ini masih menjadi tantangan bagi banyak peternak. Melalui teknologi yang ia kembangkan, peternak nantinya diharapkan dapat memantau kondisi pakan dari mana saja dan memperoleh kepastian mutu sebelum rumput dipanen.
“Kami merancang sistem agar peternak bisa memantau kondisi pakan dari mana saja. AI membantu mengklasifikasikan kualitas rumput, sehingga produktivitas ternak lebih terjamin,” ujar Dr. Ferry. Dengan demikian, riset ini menghubungkan teknologi digital dengan kebutuhan nyata di lapangan, khususnya dalam penguatan produktivitas ternak.
Selain bicara soal teknologi, Dr. Ferry juga menekankan sisi sosial dari inovasi yang dikembangkannya. Ia melihat bahwa sektor pertanian dan peternakan perlu terus dihidupkan, terutama di desa. Menurutnya, banyak generasi muda desa yang kini lebih tertarik bekerja di kota, sehingga perlu ada inovasi yang membuat pertanian dan peternakan kembali terlihat menjanjikan. Dalam konteks itu, teknologi tidak hanya hadir sebagai alat bantu produksi, tetapi juga sebagai cara untuk membangun kembali daya tarik sektor agrikultur di tingkat masyarakat.
“Jika kita tidak fokus mengembangkan desa, mata pencaharian berbasis pertanian akan semakin berkurang. Dengan inovasi ini, saya berharap ada motivasi baru bagi masyarakat desa untuk kembali menekuni pertanian dan peternakan,” tambahnya.
Dr. Ferry menambahkan bahwa produk yang dikembangkan telah masuk pada tingkat kesiapan teknologi tinggi, yaitu menuju TKT 8 dan 9, yang berarti bukan lagi sekadar konsep atau prototipe awal, tetapi sudah bergerak pada tahap komersialisasi dan pengujian kelayakan. Dalam penjelasannya, proses tersebut mencakup pengujian pada beberapa titik, pengurusan dokumen kelayakan, hingga uji yang relevan dengan jenis produknya. Hal ini memperlihatkan bahwa hilirisasi riset memang menuntut kesiapan teknologi yang matang dan orientasi pemanfaatan yang jelas.
Proposal ini juga dibangun melalui kolaborasi dengan mitra industri, yaitu Virtus Elsyafawi, perusahaan yang bergerak di bidang solusi agrikultur. Kerja sama ini menjadi bagian penting dari proses hilirisasi karena memastikan bahwa hasil riset tidak berhenti di lingkungan kampus, melainkan disiapkan untuk diimplementasikan secara nyata. Pada tahap penerapan, program dirancang menyasar wilayah Klaten dengan melibatkan kelompok peternak yang selama ini masih mengandalkan pakan dari rumput ilalang dan sisa makanan. Melalui inovasi ini, mereka diharapkan memperoleh alternatif pakan hidroponik berkualitas tinggi dengan masa panen sekitar 14 hari.
Dalam pengembangannya, proposal ini juga memuat visi sosial yang lebih luas. Dr. Ferry menilai inovasi di bidang pertanian dan peternakan perlu diarahkan untuk membangkitkan kembali minat generasi muda desa terhadap sektor yang selama ini mulai ditinggalkan. Menurutnya, hilirisasi riset harus mampu menghadirkan dampak nyata, bukan hanya menghasilkan laporan atau publikasi.
“Saya ingin inovasi yang kami hasilkan tidak berhenti di laporan atau jurnal, tetapi terus dikembangkan hingga siap diproduksi massal dan dimanfaatkan oleh masyarakat,” ujarnya. Pandangan ini memperlihatkan bahwa penelitian yang ia lakukan memiliki orientasi keberlanjutan, baik dari sisi teknologi maupun dari sisi pemberdayaan masyarakat.
Keberhasilan proposal ini menunjukkan bahwa hilirisasi riset dapat menjadi jembatan penting antara kampus, industri, dan masyarakat. Melalui pengembangan teknologi pembuatan pakan ternak hidroponik rumput barley berbasis WSN dan IoT, Dr. Ferry memperlihatkan bahwa riset perguruan tinggi dapat diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas peternakan, dan membangun inovasi yang lebih dekat dengan kebutuhan desa. Hal ini menegaskan satu hal penting: riset yang baik tidak berhenti pada penemuan, tetapi terus bergerak hingga menjadi solusi yang benar-benar berguna bagi masyarakat.
Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With Ferry Wahyu Wibowo




