Dosen Universitas AMIKOM Yogyakarta meraih 19 pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknataan pada Tahun Anggaran 2026. Dari jumlah tersebut, salah satu proposal yang memperoleh pendanaan berasal dari Dr. Ika Afianita Suherningtyas, S.Si., M.Si. Dalam artikel khusus ini, @amikomjogja mengangkat proposal beliau yang memperoleh pendanaan pada Program Penelitian skema Fundamental Reguler, yakni:
“Analisis komparatif perubahan tutupan lahan untuk ketahanan ekonomi kawasan geopark Indonesia: studi kasus Geopark Dieng dan Raja Ampat”.

Dalam Proposal ini, Dr. Ika melakukan kajian hubungan antara penguatan ketahanan ekonomi berbasis pariwisata dengan perubahan tutupan lahan di dua kawasan unggulan Indonesia, yakni Geopark Dieng dan Raja Ampat. Fokus utamanya adalah melihat bagaimana ketahanan ekonomi kawasan geopark, khususnya yang ditopang sektor pariwisata, berkaitan dengan perubahan tutupan lahan di dua wilayah yang sama-sama strategis, yakni Geopark Dieng dan Raja Ampat. Melalui penelitian ini, perubahan ruang tidak hanya dibaca sebagai gejala fisik, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika ekonomi wilayah.
Penelitian ini memperoleh pendanaan melalui skema Fundamental Reguler, yaitu skema dalam Program Penelitian yang ditujukan untuk mendukung riset mendasar yang kuat secara substansi dan metode, dengan luaran utama berupa publikasi ilmiah. Dalam proposal ini, Dr. Ika menempatkan penelitian pada irisan antara geografi, ekonomi wilayah, dan analisis spasial. Ia menjelaskan bahwa tema ini sangat dekat dengan bidang keilmuannya, khususnya geografi ekonomi, sehingga penelitian diarahkan untuk membaca hubungan antara aktivitas pariwisata, perubahan lahan, dan ketahanan ekonomi kawasan.
Menurutnya, aktivitas pariwisata yang terus berkembang di kawasan geopark akan membawa konsekuensi pada perubahan penggunaan dan tutupan lahan, karena peningkatan kunjungan wisata biasanya diikuti pembangunan fasilitas, akses, dan infrastruktur penunjang lain. Dari situlah penelitian ini berangkat, yakni untuk membandingkan bagaimana dinamika perubahan tutupan lahan terjadi di dua kawasan wisata unggulan dengan karakter geografis yang berbeda.
“Kami sedang meneliti bagaimana komparasinya atau perbandingannya tutupan lahan yang ada di kawasan pariwisata Geopark Dieng dan juga kawasan pariwisata yang ada di Raja Ampat,” ujarnya.
Yang membuat proposal ini menarik adalah luaran utamanya tidak hanya berupa paper ilmiah, tetapi juga peta spasial yang menggambarkan perubahan tutupan lahan dalam periode waktu tertentu. Peta tersebut diolah dari citra penginderaan jauh, seperti PlanetScope dan data sejenis, kemudian dianalisis menggunakan Sistem Informasi Geografis. Melalui pendekatan ini, penelitian tidak hanya menghasilkan narasi akademik, tetapi juga visualisasi yang dapat menunjukkan secara konkret bagaimana kondisi kawasan berubah dari masa ke masa. “Output-nya berupa peta, pemetaan spasial perbedaan kondisinya,” jelas Dr. Ika.
Secara substantif, proposal ini ingin menunjukkan bahwa peningkatan ketahanan ekonomi melalui sektor pariwisata perlu dibaca secara lebih utuh. Di satu sisi, pariwisata dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan, membuka peluang usaha, dan memperluas aktivitas masyarakat. Namun di sisi lain, perubahan tutupan lahan yang terlalu cepat dapat menimbulkan konsekuensi lingkungan yang tidak kecil, terutama jika lahan vegetasi atau kawasan yang memiliki fungsi konservasi berubah menjadi lahan terbangun. Karena itu, penelitian ini menjadi penting untuk memberi dasar data yang lebih kuat dalam melihat keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
Dalam penelusuran awal data spasial, Dr. Ika menemukan indikasi perubahan yang cukup signifikan, khususnya di kawasan Geopark Dieng. Ia menyebut bahwa dalam kurun waktu sekitar lima tahun, perubahan tutupan lahan di wilayah tersebut telah mencapai lebih dari 50 persen, terutama dari lahan vegetasi menjadi lahan terbangun. Temuan awal ini menjadi salah satu alasan mengapa penelitian tersebut relevan untuk dilanjutkan secara lebih mendalam.
“Yang tadinya adalah lahan vegetasi menjadi lahan terbangun itu sampai berubahnya sebesar sekitar segitu,” ungkapnya.
Proposal ini juga menjadi semakin kuat karena membandingkan dua kawasan dengan karakter geografis yang sangat berbeda. Raja Ampat mewakili kawasan kepulauan pesisir, sedangkan Dieng merepresentasikan kawasan pegunungan dataran tinggi. Dengan membandingkan dua lanskap yang unik tersebut, penelitian diharapkan dapat menghasilkan gambaran yang lebih kaya mengenai pola perubahan tutupan lahan di kawasan wisata Indonesia dan bagaimana pengaruhnya terhadap ketahanan ekonomi lokal.
Selain itu, proposal ini dibangun melalui kolaborasi lintas perguruan tinggi dan lintas keahlian. Dr. Ika menggandeng dosen dari universitas di Papua yang memiliki kepakaran di bidang ilmu lingkungan, serta melibatkan anggota tim dari Universitas Udayana, Universitas Indonesia, dan Universitas Gadjah Mada. Menurut Dr. Ika, kerja tim menjadi tantangan sekaligus kekuatan dalam penelitian ini karena dibutuhkan kemampuan untuk menemukan irisan keilmuan yang saling melengkapi.
“Kita memang melakukan kolaborasi antara anggota tim dan tim dari berbagai perguruan tinggi dengan expert bidang ilmu yang beranekaragam untuk membangun penelitian ini, sehingga nanti diharapkan output-nya bisa lebih komprehensif, baik dari sisi spasial, lingkungan, maupun ekonomi kawasan” ujar Dr. Ika
Keberhasilan proposal ini memperoleh pendanaan menunjukkan bahwa penelitian fundamental dapat tumbuh menjadi karya yang kuat secara akademik sekaligus relevan dengan persoalan pembangunan wilayah. Melalui analisis komparatif perubahan tutupan lahan di Geopark Dieng dan Raja Ampat, Dr. Ika memperlihatkan bahwa ketahanan ekonomi kawasan wisata tidak bisa dibaca hanya dari aktivitas ekonominya, tetapi juga dari bagaimana ruang dan lingkungan ikut berubah. Hal ini menegaskan satu hal penting: penelitian yang baik tidak hanya menjawab pertanyaan ilmiah, tetapi juga membantu membaca tantangan nyata yang dihadapi masyarakat dan wilayah di masa depan.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With Ika Afianita Suherningtyas




