
Yogyakarta – Sutradara Hanung Bramantyo mengajak mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta melihat sejarah dari perspektif sinema melalui diskusi bertajuk “Sejarah vs Sinema: Antara Fakta, Fiksi dan Drama” di Ruang Cinema Gedung 6 Universitas AMIKOM Yogyakarta, Senin (1/12/2025). Dalam forum tersebut, Hanung membagikan pemikiran di balik film terbarunya, Bolong: 309 Hari Sebelum Tragedi atau The Hole, sekaligus membuka percakapan mengenai hubungan antara sejarah, fakta, fiksi, dan cara sebuah film membangun makna.
Hanung menegaskan bahwa kehadirannya tidak sekadar untuk memperkenalkan karya baru. Ia ingin mengajak peserta memahami alasan dan gagasan yang mendasari proses kreatif sebuah film.
“Saya tidak hanya bercerita tentang film saya saja, tapi saya mencoba mengajak teman-teman semua memahami dasar kenapa saya membuat film ini,” ujar Hanung.
Dalam diskusi tersebut, Hanung menempatkan sinema sebagai ruang untuk membaca kembali berbagai peristiwa masa lalu. Menurutnya, film dapat menjadi medium untuk menghadirkan percakapan baru mengenai sejarah, terutama ketika sebuah peristiwa masih menyisakan ruang interpretasi dan pertanyaan bagi generasi berikutnya.
Memahami Sejarah melalui Perspektif Sinema
Hanung mengajak peserta melihat bahwa sinema tidak harus mereplikasi realitas secara mentah. Dalam paparannya, ia mengutip pemikiran Roland Barthes untuk menjelaskan bagaimana sebuah karya fiksi menyusun tanda, membangun dunia cerita, dan menghasilkan makna bagi penontonnya.
Ia juga membandingkan dua pendekatan dalam memahami sejarah. Hanung menyinggung pemikiran Leopold von Ranke, yang menempatkan dokumen asli sebagai dasar penting dalam memahami peristiwa masa lalu, serta Edward Hallett Carr, yang melihat sejarah sebagai dialog antara masa kini dan masa lalu.
Hanung mengatakan dirinya lebih dekat dengan pandangan Carr karena proses memahami sejarah juga melibatkan interpretasi terhadap fakta berdasarkan konteks zamannya.
Pembahasan tersebut membawa diskusi melampaui persoalan teknis pembuatan film. Mahasiswa diajak melihat bahwa keputusan kreatif seorang pembuat film juga berhubungan dengan cara memandang sumber, membangun perspektif, dan menyampaikan sebuah cerita kepada publik.
Menafsirkan Horor Lebih dari Sekadar Jump Scare
Hanung turut membahas pendekatan genre dalam film yang sedang dikembangkannya. Ia menolak pemahaman bahwa horor hanya identik dengan kejutan atau jump scare.
“Esensi dari horor adalah suasana teror di dalamnya, yang mana teror itu mengancam kematian,” katanya.
Menurut Hanung, horor juga dapat muncul dari trauma sosial dan atmosfer ancaman yang dibangun sebuah cerita. Perspektif tersebut menjadi dasar dalam pengembangan Bolong, film yang menggunakan unsur misteri sekaligus membawa pembicaraan mengenai memori sejarah.
Dalam forum itu, Hanung menjelaskan bahwa kata “bolong” tidak hanya berfungsi sebagai judul. Istilah tersebut diposisikan sebagai metafora tentang lubang dalam tubuh, Lubang Buaya, hingga ruang kosong dalam ingatan dan pengetahuan masyarakat mengenai masa lalu.
Film tersebut berkisah tentang seorang detektif bernama Soegeng yang menyelidiki rangkaian pembunuhan misterius. Dalam cerita, kasus-kasus tersebut perlahan membawa karakter utama berhadapan dengan potongan peristiwa yang berkaitan dengan sejarah.
Perspektif dari Pemain dan Produser
Diskusi tidak hanya menghadirkan Hanung Bramantyo. Sejumlah anggota tim film turut hadir, yakni Anya Zen, Carissa Perusset, serta produser Shierly Kosasih.
Kehadiran para pemain memberikan perspektif lain mengenai bagaimana generasi yang lebih muda memahami peristiwa sejarah yang menjadi latar pembicaraan dalam film.
Dalam forum tersebut, Anya Zen, misalnya, menceritakan pengalamannya mendapatkan pemahaman mengenai peristiwa G30S ketika masih berada di bangku sekolah. Pengalaman tersebut menjadi salah satu titik pembicaraan mengenai bagaimana sejarah diterima oleh generasi yang berbeda dan bagaimana sinema dapat membuka ruang untuk melihat kembali narasi yang selama ini dikenal.
Sementara itu, materi kegiatan mencatat bahwa Bolong: 309 Hari Sebelum Tragedi merupakan hasil kolaborasi Adhya Pictures dan Dapur Films.
Membuka Ruang Diskusi Kritis bagi Mahasiswa
Melalui forum “Sejarah vs Sinema: Antara Fakta, Fiksi dan Drama”, mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta memperoleh kesempatan melihat proses penciptaan film dari sisi yang lebih luas. Film tidak hanya dibicarakan sebagai produk hiburan, tetapi juga sebagai medium yang lahir dari riset, interpretasi, pilihan artistik, dan perspektif kreatornya.
Hanung juga mengingatkan pentingnya melihat sejarah tidak hanya melalui figur-figur besar, tetapi dengan memperhatikan kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang melingkupi sebuah peristiwa.
Diskusi tersebut pada akhirnya menjadi ruang pertemuan antara dunia akademik dan praktik kreatif industri film. Mahasiswa dapat mendengar langsung bagaimana seorang sutradara menyusun gagasan, mengembangkan sudut pandang, lalu menerjemahkannya menjadi bahasa sinema.
Melalui kegiatan ini, Universitas AMIKOM Yogyakarta menghadirkan ruang pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menikmati sebuah film dari apa yang tampak di layar, tetapi juga memahami proses berpikir, riset, dan interpretasi yang berada di balik sebuah karya.
Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional




