
Pengurus Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) Kecamatan Bekasi Utara mengikuti studi tiru di Cinema Universitas AMIKOM Yogyakarta pada Rabu, 7 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–11.00 WIB tersebut membahas pengelolaan organisasi, pemanfaatan teknologi, inovasi, serta pengembangan tata kelola madrasah yang efektif dan berkelanjutan.
Rombongan terdiri atas pengurus KKMI dan para kepala madrasah ibtidaiyah di Kecamatan Bekasi Utara. Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk memperoleh referensi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan madrasah masing-masing.
Ketua KKMI Kecamatan Bekasi Utara, Luthfi Ansori, M.Pd., menjelaskan bahwa perjalanan ke Yogyakarta tidak hanya ditujukan untuk menikmati destinasi wisata. Rombongan juga ingin membawa pulang pengetahuan yang dapat diterapkan dalam pengelolaan pendidikan.
“Kita hadir di Universitas AMIKOM Yogyakarta untuk belajar. Harapannya, ketika pulang ke Bekasi, kita tidak hanya membawa oleh-oleh, tetapi juga membawa ilmu yang dapat diterapkan di tempat tugas masing-masing,” ujar Luthfi.
Menurutnya, perkembangan teknologi informasi telah memasuki berbagai bidang, termasuk pendidikan. Namun, pemanfaatannya di madrasah belum merata karena perbedaan kemampuan sumber daya manusia, anggaran, dan ketersediaan fasilitas.
Sejumlah madrasah mulai menggunakan teknologi untuk absensi, pelatihan daring, dan penyelenggaraan ujian. KKMI Bekasi Utara ingin memperluas penerapannya pada kegiatan lain dengan mempertimbangkan kondisi setiap lembaga.
“Kami berharap memperoleh wawasan mengenai cara menerapkan teknologi informasi di tengah keterbatasan sumber dana maupun sumber daya manusia,” tambah Luthfi.

Rombongan diterima oleh Direktur Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional sekaligus Wakil Dekan II Bidang Nonakademik Fakultas Ekonomi dan Sosial Universitas AMIKOM Yogyakarta, Erik Hadi Saputra, S.Kom., M.Eng. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan materi mengenai motivasi, teknologi, ekonomi kreatif, dan pengembangan institusi.
Erik mengawali pemaparan dengan menceritakan perjalanan Universitas AMIKOM Yogyakarta yang bermula dari sebuah rumah kontrakan dengan 32 mahasiswa. Keterbatasan fasilitas dan pendanaan pada masa awal dihadapi melalui semangat kewirausahaan, inovasi, kerja bersama, dan konsistensi membangun institusi.
Menurut Erik, perkembangan organisasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal. Antusiasme, keberanian mencoba, dan kemampuan mengesampingkan kepentingan pribadi untuk tujuan bersama turut menentukan keberlanjutan sebuah institusi.
Pengalaman tersebut dinilai relevan dengan kondisi madrasah yang mempunyai sumber daya berbeda-beda. Keterbatasan tidak harus menghentikan inovasi apabila lembaga mampu menetapkan kebutuhan prioritas dan menggunakan teknologi secara tepat guna.
Pembahasan kemudian diarahkan pada perkembangan kecerdasan buatan. Erik menjelaskan bahwa AI dapat membantu pengguna mencari informasi dan memperoleh jawaban secara cepat. Meskipun demikian, teknologi tidak dapat menggantikan peran kepala madrasah dan guru dalam membimbing peserta didik.
“AI dapat memberikan banyak jawaban, tetapi AI tidak bisa memberikan arah hidup. Arah hidup tetap menjadi bagian dari peran pendidik,” jelas Erik.
Ia menekankan bahwa transformasi digital perlu tetap disertai penguatan nilai, karakter, dan tujuan pendidikan. Guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membantu siswa memahami cara menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Peserta turut memperoleh gambaran mengenai pengembangan ekonomi kreatif di lingkungan Universitas AMIKOM Yogyakarta. Erik memperkenalkan sejumlah penerapan teknologi dalam pendidikan, penyiaran, animasi, teknologi imersif, dan pengelolaan kekayaan intelektual.
Film animasi Battle of Surabaya, keterlibatan alumni dalam produksi film Jumbo, serta pengembangan animasi tiga dimensi Ajisaka digunakan sebagai contoh perjalanan sebuah gagasan menjadi karya. Karya kreatif tersebut dapat dikembangkan melalui film, produk turunan, lisensi, maupun pengalaman interaktif yang mempunyai nilai berkelanjutan.
Melalui berbagai contoh tersebut, peserta diajak melihat bahwa teknologi mempunyai manfaat ketika digunakan untuk menjawab kebutuhan nyata. Prinsip yang sama dapat diterapkan dalam pengelolaan madrasah, baik untuk layanan administrasi, pembelajaran, pelatihan guru, maupun pengembangan potensi siswa.
Erik mengajak para kepala madrasah menjaga semangat belajar dan terus mencari ruang untuk berinovasi. Perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana yang sesuai dengan kemampuan lembaga sebelum dikembangkan secara bertahap.
Kegiatan diakhiri dengan penyerahan cendera mata antara Universitas AMIKOM Yogyakarta dan KKMI Kecamatan Bekasi Utara. Studi tiru tersebut diharapkan memperluas wawasan peserta dalam memilih dan menerapkan teknologi yang relevan untuk memperkuat tata kelola serta layanan pendidikan di madrasah.


Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional




