
Yogyakarta – Mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta mengikuti nonton bersama film Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah karya sutradara Hanung Bramantyo di Jogja City Mall XXI, Kamis (8/10/2026). Agenda tersebut menjadi kelanjutan dari proses pembelajaran yang telah dimulai sejak Hanung bersama tim hadir di Universitas AMIKOM Yogyakarta untuk berbagi gagasan, proses kreatif, dan pengalaman produksi film kepada mahasiswa.
Pertemuan antara Hanung dan mahasiswa sebelumnya berlangsung pada 1 Desember 2025 di Ruang Cinema Gedung 6 Universitas AMIKOM Yogyakarta melalui diskusi bertajuk “Sejarah vs Sinema: Antara Fakta, Fiksi dan Drama.” Dalam forum tersebut, Hanung memperkenalkan gagasan film yang ketika itu disebut Bolong: 309 Hari Sebelum Tragedi atau The Hole, sekaligus mengajak mahasiswa melihat hubungan antara sejarah, fiksi, dan sinema.
Hampir setahun kemudian, mahasiswa tidak lagi hanya mendengar bagaimana sebuah film dirancang. Mereka mendapat kesempatan menyaksikan karya tersebut dalam bentuk akhirnya melalui penayangan Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah di layar bioskop.
Dari Gagasan hingga Karya di Layar
Dalam diskusi sebelumnya di Universitas AMIKOM Yogyakarta, Hanung menegaskan bahwa pembahasan yang ia bawa tidak berhenti pada promosi film. Ia ingin mahasiswa memahami alasan dan pemikiran yang mendasari lahirnya sebuah karya.
“Saya tidak hanya bercerita tentang film saya saja, tapi saya mencoba mengajak teman-teman semua memahami dasar kenapa saya membuat film ini,” ujar Hanung dalam diskusi tersebut.
Hanung saat itu banyak membahas hubungan antara sejarah dan sinema. Ia menjelaskan bahwa karya film tidak selalu mereplikasi realitas secara mentah, melainkan mengorganisasi berbagai tanda dan perspektif untuk membangun makna.
Dalam paparannya, Hanung juga mengangkat perbedaan cara melihat sejarah dengan membandingkan gagasan Leopold von Ranke dan Edward Hallett Carr. Ia lebih dekat dengan pandangan Carr yang menempatkan sejarah sebagai dialog antara masa lalu dan masa kini, karena fakta selalu berhadapan dengan proses interpretasi.
Pembahasan tersebut memberikan mahasiswa perspektif bahwa pembuatan film tidak hanya berbicara mengenai kamera, akting, atau penyutradaraan. Sebuah karya juga lahir dari proses riset, sudut pandang kreator, serta keputusan mengenai bagaimana sebuah cerita disampaikan kepada penonton.

Sumber Foto: https://www.indonesiana.id/read/189232/dialog-publik-sejarah-vs-sinema-antara-fakta-fiksi-dan-drama
Belajar Langsung dari Praktisi Industri
Kegiatan di Universitas AMIKOM Yogyakarta juga menghadirkan Anya Zen, Carissa Perusset, serta produser Shierly Kosasih. Mereka turut berbagi pengalaman dalam proses produksi dan membangun karakter dalam sebuah film.
Dari sisi produksi, Hanung membagikan berbagai tahapan proses kreatif dan tantangan yang ditemui saat membuat film. Sementara para pemain berbagi pengalaman mengenai bagaimana seorang aktor menyesuaikan diri dengan ritme kerja sutradara dan kru, membangun karakter, menghadapi tekanan produksi, serta mempertahankan kualitas ketika bekerja di industri perfilman.
Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa dari bidang yang memiliki keterkaitan dengan industri film, termasuk Program Studi Ilmu Komunikasi dan Teknologi Informasi. Dalam transkrip kegiatan disebutkan bahwa pembelajaran mahasiswa pada bidang sinematografi, screenwriting, penyutradaraan, dan directing menjadi salah satu alasan kegiatan tersebut relevan dengan proses akademik mereka.
Melalui pertemuan dengan para praktisi, mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori yang biasa mereka temui di ruang kelas, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai dinamika sebenarnya dalam industri.
Mereka dapat memahami keterkaitan antara proses kreatif, produksi, kerja aktor dan sutradara, hingga berbagai tantangan yang perlu dipersiapkan apabila nantinya memilih berkarier di industri perfilman.
Hanung Bramantyo Ajak Mahasiswa AMIKOM Membaca Sejarah lewat Sinema
Menonton Hasil dari Proses yang Dipelajari
Setelah mahasiswa mengetahui bagaimana proses kreatif dan produksi berlangsung, mereka dapat melihat sendiri bagaimana berbagai gagasan tersebut diterjemahkan menjadi karya audiovisual. Dengan menonton langsung Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah, mahasiswa dapat menghubungkan diskusi yang pernah mereka ikuti dengan hasil akhirnya di layar. Hal-hal yang sebelumnya dibahas, mulai dari pembangunan cerita, penciptaan atmosfer, ritme ketegangan, karakter, hingga keputusan penyutradaraan, kini dapat diamati dalam bentuk film secara utuh.
Dalam kegiatan sebelumnya, Hanung juga menjelaskan pandangannya mengenai genre horor. Menurutnya, horor tidak semata-mata bergantung pada jump scare, tetapi pada kemampuan sebuah karya membangun suasana teror dan ancaman terhadap karakter maupun penontonnya. Perspektif tersebut menjadi salah satu hal yang dapat kembali dicermati mahasiswa ketika menyaksikan film di bioskop.
Hubungan Hanung Bramantyo dengan Universitas AMIKOM Yogyakarta sendiri bukan baru terbentuk dalam satu kegiatan. Berdasarkan keterangan dalam transkrip, Hanung telah beberapa kali terlibat dalam kegiatan bersama AMIKOM. Hubungan tersebut berkembang karena adanya persinggungan dalam ekosistem industri film dan komunikasi yang telah terbangun sebelumnya.
Kesempatan bertemu langsung dengan praktisi menjadi salah satu cara untuk mempertemukan pembelajaran akademik dengan realitas industri. Mahasiswa dapat memperoleh perspektif mengenai proses kerja, tantangan profesional, hingga standar yang dibutuhkan ketika nantinya masuk ke dunia perfilman.
Rangkaian dari diskusi di Cinema Universitas AMIKOM Yogyakarta hingga nonton bersama di Jogja City Mall XXI menunjukkan proses belajar yang tidak berhenti ketika sebuah seminar selesai. Mahasiswa lebih dahulu mengenal pemikiran di balik karya, mendengar pengalaman para pembuatnya, memahami proses produksinya, lalu menyaksikan bagaimana seluruh proses tersebut hadir sebagai film di layar lebar.
Dari ruang diskusi menuju bioskop, pengalaman tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta untuk melihat lebih dekat bahwa sebuah film bukan hanya produk akhir, tetapi hasil dari rangkaian panjang riset, gagasan, kreativitas, kolaborasi, dan proses produksi.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
Koresponden : Lya Renyta Ika Puteri




