Universitas Amikom Yogyakarta dan Universitas Udayana Kolaborasikan Teknologi Geospasial untuk Pertanian Berkelanjutan

1 September 2026 | Berita Utama

Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Amikom Yogyakarta bersama Fakultas Pertanian Universitas Udayana menyelenggarakan penandatanganan kerja sama dan kuliah umum bertema “Integrasi Agroteknologi dan GeoAI dalam Pengelolaan Lahan Pertanian Berkelanjutan” di kampus Universitas Amikom Yogyakarta, Selasa (1/9/2026). Kegiatan yang berlangsung secara hybrid tersebut mempertemukan kepakaran pertanian dan teknologi geospasial untuk mendukung riset mahasiswa serta pengelolaan lahan pertanian.

Rangkaian kegiatan juga mencakup serah terima lima mahasiswa Universitas Udayana melalui program Hibah Riset Mahasiswa Berdampak (HRMB). Selama sekitar delapan minggu, mereka akan mendapatkan pendampingan di Amikom untuk mengembangkan penelitian skripsi dengan dukungan teknologi WebGIS, yakni sistem informasi geografis berbasis web.

Kerja sama kedua fakultas mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ruang lingkupnya meliputi pelatihan, pemanfaatan laboratorium, penelitian bersama, berbagi data, pendampingan penelitian, publikasi ilmiah, serta hilirisasi hasil penelitian untuk pemberdayaan masyarakat.

Pendampingan Riset Mahasiswa Berbasis WebGIS

Dekan FST Universitas Amikom Yogyakarta, Sudarmawan, S.T., M.T., menyambut baik kepercayaan Fakultas Pertanian Universitas Udayana yang memilih Amikom sebagai mitra. Ia menekankan pentingnya kolaborasi yang memberikan manfaat bagi kedua institusi dan kemajuan pendidikan.

“Amikom menjunjung konsep pendekatan kolaboratif, bagaimana kita bekerja sama dengan semua elemen bangsa atau stakeholder yang sekiranya bisa memajukan pendidikan di Indonesia,” ujar Sudarmawan.

Ia juga mengajak mahasiswa memanfaatkan masa kegiatan untuk memperluas pengetahuan sekaligus mengenal kehidupan masyarakat Yogyakarta. Menurutnya, pengalaman belajar tidak hanya diperoleh melalui kegiatan akademik, tetapi juga melalui interaksi dengan lingkungan dan budaya setempat. Amikom membuka ruang masukan dan evaluasi agar pelaksanaan program dapat terus disempurnakan.

Perwakilan delegasi Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Prof. Dr. Ir. Ni Made Trigunasih, M.P., menjelaskan bahwa kelima mahasiswa telah membawa topik skripsi masing-masing. Pendampingan di Amikom diharapkan membantu mereka mengintegrasikan data penelitian pertanian dengan teknologi penyajian informasi spasial.

“Masing-masing mahasiswa kami yang berlima ini sudah membawa judul skripsinya, yang nanti akan dikerjakan di sini melalui teknologi WebGIS,” jelasnya.

Ia mencontohkan penelitian kesuburan tanah pada kawasan subak di Bali. Data mengenai jenis tanah, kemiringan lereng, penggunaan lahan, dan unsur hara dapat dipetakan serta disajikan secara digital. Informasi tersebut diharapkan memudahkan petani dan masyarakat mengetahui kondisi lahan maupun kebutuhan pengelolaannya.

Perlindungan Lahan Pertanian dan Kelestarian Subak

Kuliah umum dipandu Widiyana Riasasi, M.Sc., dengan menghadirkan dua narasumber. Pada sesi pertama, Prof. Ni Made Trigunasih menyampaikan materi tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).

Ia menyoroti perubahan lahan pertanian menjadi permukiman, fasilitas pariwisata, dan bangunan lainnya. Melalui contoh penelitian di Denpasar dan Kabupaten Karangasem, ia menjelaskan bahwa alih fungsi lahan menjadi tantangan bagi ketersediaan lahan produktif, ketahanan pangan, serta kelestarian subak.

Menurutnya, perlindungan lahan tidak cukup mengandalkan keberadaan aturan. Pelaksanaannya juga memerlukan pengawasan, perbaikan jaringan irigasi, dukungan sarana pertanian, serta penguatan kelembagaan petani. Pemahaman petani mengenai perlindungan lahan dan manfaatnya turut menjadi bagian penting dalam upaya tersebut.

Trigunasih menekankan perlunya pemetaan partisipatif dengan melibatkan petani dan pengelola subak. Pengetahuan masyarakat mengenai batas kepemilikan, pola tanam, kondisi irigasi, dan perubahan penggunaan lahan dapat membantu memperbarui data sekaligus memvalidasi hasil pemetaan.

“Sinergi ini diharapkan mampu melahirkan inovasi yang relevan, menjawab tantangan sektor pertanian modern, serta memberikan dampak luas bagi kemajuan iptek dan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

GeoAI untuk Memantau Ketahanan Pangan

Pada sesi kedua, Fitria Nucifera, S.Si., M.Sc., dosen Program Studi Geografi Universitas Amikom Yogyakarta, membahas peran GeoAI dalam monitoring ketahanan pangan. Ia mengikuti kegiatan secara daring dari Jepang, tempatnya menempuh studi doktoral di Graduate School of Engineering, The University of Osaka.

Nuci mengawali pembahasan dengan mengajak peserta menelusuri asal bahan makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Melalui contoh tersebut, ia menjelaskan bahwa persoalan pangan berhubungan dengan lokasi produksi, distribusi, daya beli, dan pola konsumsi masyarakat.

Ia menguraikan empat pilar ketahanan pangan, yaitu ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas. Karena itu, ketahanan pangan tidak hanya menyangkut jumlah produksi, tetapi juga kemampuan masyarakat memperoleh makanan yang aman dan bergizi secara berkelanjutan.

GeoAI, yang mengintegrasikan kajian geospasial dengan kecerdasan buatan, dapat membantu memetakan lahan pertanian, memperkirakan hasil panen, mengidentifikasi jaringan distribusi, serta memantau ancaman kekeringan dan gagal panen. Analisis tersebut dapat memanfaatkan citra satelit, data cuaca, kondisi tanah, maupun data sosial ekonomi.

Meski demikian, Nuci mengingatkan bahwa hasil pemodelan tetap harus diperiksa menggunakan data lapangan. Keterbatasan resolusi citra, tutupan awan, dan ketidakpastian model perlu diperhatikan sebelum hasil analisis digunakan sebagai dasar kebijakan.

“GeoAI itu hanya sebuah alat untuk membantu manusia mengambil keputusan. Keputusannya diambil manusia, bukan GeoAI,” tegasnya.

Sesi diskusi memperdalam pembahasan mengenai penegakan perlindungan lahan di Bali, penerapan teknologi pertanian di Jepang, serta integrasi empat pilar ketahanan pangan dalam analisis geospasial. Melalui pendampingan riset mahasiswa dan pertukaran pengetahuan tersebut, kedua fakultas berharap dapat mengembangkan kolaborasi yang menghubungkan teknologi digital dengan kebutuhan nyata sektor pertanian.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With: Vidyana Arsanti