Mahasiswa Program Magister Teknologi Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Kalimantan Selatan, mengikuti kunjungan akademik di Universitas AMIKOM Yogyakarta pada Senin, 10 Agustus 2026. Melalui pemaparan materi dan diskusi, kegiatan tersebut membahas perkembangan teknologi pembelajaran digital, kreativitas, produksi konten, serta pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pendidikan.
Kunjungan diikuti tujuh mahasiswa Program Magister Teknologi Pendidikan ULM angkatan 2025. Rombongan didampingi Guru Besar Teknologi Pendidikan FKIP ULM, Prof. Dr. H. Hamsi Mansur, M.M.Pd., bersama dosen pendamping.
Hamsi menyampaikan bahwa kunjungan tersebut bertujuan memperluas pengalaman mahasiswa mengenai perkembangan teknologi digital. Wawasan yang diperoleh diharapkan dapat mendukung mahasiswa dalam mengembangkan media dan teknologi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan pendidikan.
“Tujuan kami datang ke sini adalah menimba pengalaman terkait perkembangan teknologi digital. Mudah-mudahan kami memperoleh berbagai pengalaman yang berkaitan dengan era digital saat ini,” ujar Hamsi.
Ia menjelaskan bahwa rombongan sebelumnya mengikuti konferensi internasional di Semarang dan mengunjungi sejumlah lembaga pendidikan serta pengembangan teknologi di Yogyakarta. Rangkaian kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melihat penerapan teknologi pendidikan dalam beragam konteks.
Direktur Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional Universitas AMIKOM Yogyakarta, Erik Hadi Saputra, S.Kom., M.Eng., kemudian menyampaikan materi mengenai perkembangan teknologi, pembelajaran digital, kreativitas, komunikasi, dan pengembangan kekayaan intelektual.
Erik menekankan bahwa gagasan dan sumber daya tidak akan menghasilkan perubahan tanpa keberanian untuk melaksanakannya. Kemampuan mengeksekusi ide menjadi pembeda antara institusi yang mampu berkembang dan institusi yang berhenti pada tahap perencanaan.
“Teknologi berkembang karena ada eksekusi. Sumber daya dan ide bisa tersedia, tetapi tanpa eksekusi, gagasan tersebut tidak akan menjadi sesuatu yang bermanfaat,” jelas Erik.
Menurut Erik, mahasiswa teknologi pendidikan perlu memperluas pengalaman, lingkungan pergaulan, dan ruang diskusi. Pengalaman baru dapat membentuk persepsi sekaligus mendorong lahirnya gagasan yang lebih relevan dengan permasalahan pendidikan.
Ia turut mendorong mahasiswa memanfaatkan media digital untuk menyampaikan pengetahuan kepada masyarakat. Pendidik tidak hanya perlu memahami materi, tetapi juga harus mampu mengemasnya melalui video, gambar, musik, dan narasi agar pembelajaran lebih mudah diterima oleh audiens.
Dalam pengembangan teknologi pembelajaran, kemampuan analitis dan kreativitas perlu berjalan beriringan. Ketelitian membantu pendidik menyusun materi berdasarkan data dan tahapan yang jelas, sedangkan kreativitas membantu membangun keterlibatan emosional serta memperkuat imajinasi peserta didik.
Erik menggunakan produksi film animasi Battle of Surabaya sebagai salah satu studi kasus. Pengembangan karya tersebut menggabungkan teknologi, kreativitas, riset, strategi komunikasi, produksi audiovisual, dan kolaborasi dengan berbagai pihak.
Ia menjelaskan bahwa sebuah karya tidak berhenti setelah proses produksi selesai. Kekayaan intelektual dapat dikembangkan menjadi berbagai produk turunan, seperti konten serial, musik, dan merchandise, selama tetap mempunyai nilai pendidikan dan manfaat bagi masyarakat.
Para peserta juga memperoleh gambaran mengenai pengembangan film animasi tiga dimensi Ajisaka. Proyek tersebut menjadi contoh bagaimana teknologi dan kreativitas dapat digunakan untuk mengangkat cerita serta identitas budaya ke dalam karya yang ditujukan bagi audiens lebih luas.
Selain kreativitas digital, pembahasan menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pendidikan. Erik menilai AI dapat membantu pendidik mencari informasi, mengembangkan materi, dan meningkatkan efisiensi kerja. Namun, teknologi tidak dapat menggantikan peran manusia dalam memberikan arahan, nilai, dan pendampingan.
“AI akan menggantikan guru yang tidak mau belajar. Namun, bagi orang yang terus memperbarui pengetahuan, AI akan menjadi asisten. AI dapat memberikan berbagai jawaban, tetapi tidak dapat memberikan arah hidup. Peran tersebut tetap berada pada mentor dan guru,” tegas Erik.
Ia mengajak mahasiswa terus beradaptasi agar mampu menjadikan AI sebagai pendamping dalam proses pembelajaran. Pendidik perlu mempertahankan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, empati, dan tanggung jawab ketika menggunakan teknologi.
Kegiatan diakhiri dengan pertukaran cendera mata antara Universitas AMIKOM Yogyakarta dan Universitas Lambung Mangkurat serta foto bersama. Kunjungan tersebut diharapkan memperluas wawasan mahasiswa mengenai teknologi pembelajaran digital dan mendorong lahirnya karya yang dapat memberikan manfaat nyata bagi dunia pendidikan.
Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional




