
Business Placement Center dan Alumni (BPC) Universitas AMIKOM Yogyakarta kembali menghadirkan INTERPENSI (Interaksi Penuh Inspirasi) sebagai program podcast inspiratif yang dirancang untuk menjadi ruang berbagi gagasan, refleksi, dan motivasi bagi mahasiswa, alumni, serta masyarakat luas. Dikemas dalam format obrolan santai namun berbobot, program ini menjadi salah satu inisiatif BPC untuk menghadirkan konten yang tidak hanya relevan dengan pengembangan karier, tetapi juga membuka wawasan tentang dunia bisnis digital, strategi pemasaran, dan peluang baru di tengah perubahan industri yang berlangsung sangat cepat. Dalam momentum Ramadan, INTERPENSI hadir sebagai teman ngabuburit virtual yang mengajak audiens menikmati diskusi penuh makna melalui siaran langsung di kanal digital BPC.
Burhan Alfironi Muktamar: Boost Sales Use Affiliate Marketing
Pada episode ketiga, INTERPENSI menghadirkan Burhan Alfironi Muktamar, S.Kom., M.Eng., alumni Universitas AMIKOM Yogyakarta yang memiliki latar belakang kuat di bidang bisnis digital. Burhan dikenal sebagai praktisi yang berangkat dari dunia seller sejak 2017, kemudian berkembang mengikuti perubahan ekosistem social commerce sejak era affiliate marketing mulai tumbuh pesat. Selain aktif sebagai seller, ia juga bergerak sebagai mentor, konsultan toko online, pelaku digital agency, serta dikenal sebagai mentor official Shopee. Dengan pengalaman tersebut, Burhan hadir membawa sudut pandang yang tidak hanya teoritis, tetapi juga lahir dari praktik langsung di lapangan.
Dalam podcast bertema “Boost Sales Use Affiliate Marketing”, Burhan menjelaskan bahwa affiliate marketing saat ini bukan lagi sekadar tren sesaat, melainkan telah menjadi salah satu strategi penting dalam ekosistem penjualan online. Menurutnya, perubahan perilaku konsumen di era social commerce membuat brand dan penjual tidak bisa lagi hanya mengandalkan toko semata, tetapi juga perlu membangun kolaborasi dengan afiliator untuk memperluas jangkauan dan mendorong penjualan. Ia melihat bahwa saat ini konsumen semakin percaya pada sosok yang mereka ikuti dibandingkan pada toko yang menjual produk secara langsung. Karena itu, afiliator memiliki peran yang sangat kuat dalam menciptakan viralitas produk. “Orang-orang itu lebih cenderung beli bukan karena butuh, sekarang beli itu karena viral,” ungkapnya.
Burhan juga menekankan bahwa dalam praktik affiliate marketing saat ini, live streaming dan video pendek tidak bisa dipisahkan. Keduanya harus berjalan beriringan, sebab video membantu menjangkau audiens lebih luas, sementara live menjadi ruang interaksi yang lebih kuat untuk mendorong keputusan pembelian. Dengan kata lain, afiliator yang ingin bertahan tidak cukup hanya mengandalkan satu format, tetapi harus mampu membangun performa di keduanya sekaligus. Di sisi lain, dari sudut pandang seller, affiliate marketing dinilai layak dipertimbangkan karena model biayanya lebih terukur dibandingkan iklan berbayar biasa. Menurutnya, affiliate bekerja dengan skema biaya yang relatif lebih aman karena penjual baru mengeluarkan komisi ketika transaksi benar-benar terjadi, berbeda dengan iklan digital tertentu yang tetap memotong biaya per klik meskipun belum tentu menghasilkan penjualan.
Lebih jauh, Burhan menggambarkan affiliate marketing sebagai instrumen yang efektif untuk memperkuat upper funnel, yakni membangun awareness, menjangkau audiens baru, dan memperluas sebaran produk. Sementara itu, iklan berbayar tetap dibutuhkan untuk lower funnel atau retargeting. Karena itu, menurutnya, affiliate dan iklan bukan untuk dipertentangkan, tetapi harus saling melengkapi. “Affiliate kita pakai untuk menarik awareness sebanyak-banyaknya, sedangkan iklan kita pakai untuk lower funnel dan retargeting ads,” jelasnya. Melalui penjelasan ini, Burhan ingin menunjukkan bahwa penjualan digital yang kuat tidak dibangun dari satu strategi saja, melainkan dari kombinasi langkah yang saling menopang.
Dalam diskusi tersebut, Burhan juga menyoroti bahwa membangun bisnis digital hari ini tidak cukup hanya dengan memiliki produk yang bagus. Untuk produk jasa maupun produk digital, faktor yang sangat menentukan justru adalah personal branding. Ia menilai orang akan lebih percaya dan tertarik membeli jasa ketika mereka tahu siapa sosok di baliknya, apa rekam jejaknya, dan sejauh mana kredibilitasnya. Karena itu, konsistensi membuat konten, menampilkan pencapaian, serta memperkenalkan kapasitas diri menjadi langkah penting dalam pemasaran digital. Ia bahkan menegaskan dengan gaya yang lugas, “Nggak viral, nggak laku.” Pernyataan itu menggambarkan bahwa di tengah derasnya arus konten, perhatian audiens harus direbut melalui strategi komunikasi yang kuat, relevan, dan tepat sasaran. Dalam konteks ini, jumlah followers bukan faktor utama, sebab algoritma platform kini lebih banyak bertumpu pada kualitas konten dan retensi audiens daripada sekadar angka pengikut.
Pada bagian akhir, Burhan mengajak audiens untuk melihat bisnis digital sebagai ruang yang terus bergerak dan menuntut pelaku di dalamnya untuk selalu belajar. Ia menekankan bahwa siapa pun yang ingin bertahan di ekosistem ini harus memiliki sikap kreatif dan adaptif, sebab perubahan platform, algoritma, tren, hingga perkembangan teknologi seperti AI berlangsung sangat cepat. Ia juga mengaitkan pandangan tersebut dengan pengalaman pribadinya sebagai alumni Universitas AMIKOM Yogyakarta, yang menurutnya banyak membentuk mental kewirausahaan sejak masa kuliah. Baginya, dunia digital memberikan peluang besar, tetapi hanya bisa dimaksimalkan oleh mereka yang mau terus meningkatkan kemampuan. “Tidak ada kata terlambat untuk belajar,” pesannya, sembari mengajak generasi muda untuk terus meng-upgrade skill dan menjadikan diri hari ini lebih baik daripada hari sebelumnya.
Bagi audiens yang ingin menyimak pembahasan lengkapnya, video podcast INTERPENSI # 3 dapat ditonton lebih lanjut melalui tautan YouTube berikut ini:
Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
Koresponden : Puji Ariningsih




