
Yogyakarta – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta. Muhammad Muhib, alumni Program Studi D3 Manajemen Informatika (D3MI) angkatan 2022, berhasil meraih beasiswa internasional melalui program International Talent Circulation (INTACT) Taiwan dan dijadwalkan berangkat pada akhir Maret 2026.
Dalam program tersebut, Muhib akan melanjutkan studi di Taiwan Steel University of Science and Technology, salah satu kampus berbasis teknologi di Taiwan yang berada di kawasan industri. Kampus ini dikenal memiliki fokus pada pengembangan teknologi manufaktur, otomasi industri, serta bidang strategis seperti semikonduktor dan Internet of Things (IoT).
Program INTACT merupakan skema beasiswa internasional yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melanjutkan studi sekaligus meniti karier di Taiwan. Peserta akan menjalani skema pembelajaran terpadu, yaitu satu tahun perkuliahan, satu tahun magang industri, serta peluang bekerja di perusahaan mitra setelah lulus.
Muhib mengungkapkan bahwa perjalanannya meraih beasiswa tersebut tidaklah mudah. Ia pertama kali mengetahui program ini melalui kegiatan Career Days di kampus. Namun, proses seleksi sempat mengalami kendala administratif, termasuk keterlambatan akses informasi yang membuatnya harus mengejar berbagai persyaratan dalam waktu singkat.
“Dari sekitar 10 pendaftar di AMIKOM, hanya satu yang diterima. Saya juga sempat tertinggal informasi, tapi tetap berusaha mengejar semua tahapan,” ujar Muhib.
Proses seleksi meliputi pengumpulan berkas hingga wawancara dalam bahasa Inggris. Muhib mengaku sempat merasa kurang percaya diri karena bersaing dengan peserta yang memiliki kemampuan bahasa asing lebih baik. Namun, dengan tekad dan keberanian mencoba, ia berhasil lolos sebagai salah satu penerima beasiswa.
Program INTACT Taiwan memberikan berbagai fasilitas, mulai dari pembiayaan kuliah, tunjangan hidup, hingga dukungan karier di industri. Meski demikian, Muhib menegaskan bahwa program ini juga menuntut kesiapan tinggi.
“Ini bukan beasiswa yang sepenuhnya nyaman. Kita harus cepat beradaptasi, terutama dalam bahasa Mandarin. Bahkan dalam satu tahun harus mencapai level tertentu, kalau tidak, beasiswanya bisa dihentikan,” jelasnya.
Selain itu, peserta juga didorong untuk mencari pekerjaan paruh waktu guna mendukung kebutuhan hidup selama di Taiwan. Hal ini menjadi bagian dari proses pembelajaran agar mahasiswa siap menghadapi dunia kerja global.
Dukungan Kampus dan Prodi dalam Akses Beasiswa Global
Menanggapi capaian tersebut, Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas AMIKOM Yogyakarta, Prof. Dr. Kusrini, M.Kom., menyampaikan bahwa program INTACT merupakan hasil kerja sama strategis antara AMIKOM dengan perguruan tinggi dan industri di Taiwan yang difasilitasi oleh lembaga INTEK sebagai perwakilan resmi pemerintah Taiwan.
“Program INTACT ini merupakan bentuk kerja sama internasional yang membuka peluang besar bagi mahasiswa AMIKOM. Mahasiswa tidak hanya mendapatkan beasiswa penuh untuk biaya pendidikan, tetapi juga mendapatkan pengalaman magang dan kesempatan kerja di perusahaan global,” ungkap Prof. Kusrini.
Ia menambahkan bahwa skema program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan industri global, khususnya di bidang STEM. Mahasiswa akan mendapatkan pengalaman belajar langsung dari industri serta memiliki peluang kerja setelah menyelesaikan studi.
“Mahasiswa akan menjalani satu tahun kuliah, satu tahun magang, dan dilanjutkan dengan kontrak kerja di perusahaan mitra. Ini menjadi nilai lebih karena mahasiswa tidak hanya belajar, tetapi juga dipersiapkan untuk langsung masuk dunia kerja internasional,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Program Studi D3 Manajemen Informatika Universitas AMIKOM Yogyakarta, Akhmad Dahlan, menegaskan bahwa keberhasilan Muhib merupakan contoh nyata dari keberanian mahasiswa dalam memanfaatkan peluang global.
“Mahasiswa tidak perlu takut mencoba. Kalau tidak mendaftar, pasti tidak akan diterima. Tapi ketika mencoba, peluang itu selalu ada,” ujarnya dalam sesi podcast bersama Muhib.
Ia juga menambahkan bahwa proses yang dilalui Muhib menunjukkan bahwa keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk meraih kesempatan internasional.
“Yang penting adalah keberanian untuk mencoba, konsistensi, dan kemauan belajar. Dari situ peluang akan terbuka,” tambahnya.
Lebih lanjut, Akhmad Dahlan menekankan bahwa mahasiswa vokasi memiliki keunggulan pada kemampuan praktik dan kesiapan kerja, sehingga memiliki peluang besar untuk bersaing di tingkat global, terutama melalui program-program seperti INTACT.
Hal tersebut disampaikan oleh Akhmad Dahlan dalam Podcastnya bersama Muhammad Muhib, dalam Podcast @amikomjogja yang bertajuk Dari D3MI lanjut ke Luar Negeri ini, Podcast tersebut bisa dilihat di link berikut ini
Dari AMIKOM ke Dunia: Mengasah Skill dan Karier Internasional
Selama menjalani studi di Taiwan, Muhib akan mendalami bidang otomasi industri, termasuk teknologi robotika, IoT, hingga implementasi kecerdasan buatan (AI) dalam sistem industri modern. Pengalaman ini menjadi peluang besar untuk memahami langsung perkembangan teknologi global, mengingat Taiwan merupakan salah satu pusat industri semikonduktor dunia.
Ke depan, Muhib menargetkan dapat mengembangkan kemampuan secara komprehensif, baik dari sisi teknologi maupun bahasa. Ia ingin menjadi individu yang mampu berkomunikasi dalam tiga bahasa, yaitu Arab, Inggris, dan Mandarin, serta berkontribusi dalam pengembangan teknologi yang bermanfaat.
“Yang penting itu berani mencoba. Kalau tidak mencoba, kita tidak akan pernah tahu peluang yang ada,” pesannya.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa mahasiswa vokasi Universitas AMIKOM Yogyakarta mampu bersaing di tingkat internasional. Kampus pun terus berkomitmen membuka akses kerja sama global guna meningkatkan daya saing lulusan di era industri digital.
Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration WIth : Muhammad Muhib
Koresponden: Arief Setyanto, Kusrini, Akhmad Dahlan




