Mengenal Peraih Pendanaan Kemdiktisaintek 2026, Sumbawa Digital Ranch

20 April 2026 | UMUM

Dosen Universitas AMIKOM Yogyakarta meraih 18 pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada Tahun Anggaran 2026. Dari jumlah tersebut,4 di antaranya diraih oleh Prof. Dr. Kusrini, M.Kom. Dalam artikel khusus ini, @amikomjogja mengangkat salah satu proposal beliau yang memperoleh pendanaan pada Program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak, yakni:

“Sumbawa Digital Ranch – Sistem Peternakan Sapi Umbaran Berbasis AI-IoT dengan Integrasi Marketplace Investasi Ternak Digital dan Smart Livestock Tourism”

Proposal ini memperoleh pendanaan melalui Program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak, yaitu skema yang dirancang untuk mendorong kolaborasi lintas perguruan tinggi dan mitra strategis agar hasil riset tidak berhenti pada pengembangan akademik, tetapi berkembang menjadi solusi yang lebih terintegrasi dan berdampak. Dalam skema ini, kekuatan utama tidak hanya terletak pada ide, tetapi juga pada kualitas konsorsium, pembagian peran, dan keterhubungan riset dengan kebutuhan nyata di masyarakat.

Sumbawa Digital Ranch merupakan penelitian yang berfokus pada pengembangan sistem peternakan sapi umbaran berbasis AI dan Internet of Things (IoT) yang terintegrasi dengan marketplace, investasi ternak digital, dan smart livestock tourism. Penelitian ini dipimpin Prof. Kusrini dalam skema Riset Konsorsium Unggulan Berdampak (REKOP) bersama Universitas Teknologi Sumbawa dan ITB STIKOM Bali, dengan dukungan mitra pemerintah di Sumbawa.

Prof. Kusrini menjelaskan bahwa riset ini lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Sumbawa memiliki populasi sapi yang besar dan lahan peternakan yang sangat luas, bahkan disebut sebagai salah satu lumbung daging Indonesia. Namun, potensi tersebut belum dikelola secara optimal. Model peternakan sapi umbaran yang berjalan selama ini menghadapi tantangan dalam pengawasan ternak, pengelolaan pergerakan sapi, hingga efisiensi produksi. “Kita menyasar pada ketahanan pangan, gimana caranya pemenuhan stok daging di Indonesia itu terpenuhi,” ujarnya.

Penelitian Sumbawa Digital Ranch difokuskan pada pembangunan sistem peternakan cerdas yang mampu mengintegrasikan seluruh proses pengelolaan ternak secara end-to-end. Artinya, inovasi yang dikembangkan tidak berdiri sendiri-sendiri, tetapi membentuk satu ekosistem digital, mulai dari pengelolaan sapi, pengawasan lingkungan penggembalaan, pencatatan rekam jejak ternak, hingga pengembangan model pasar dan wisata berbasis peternakan. Prof. Kusrini menegaskan bahwa selama ini teknologi peternakan kerap diterapkan secara parsial, sedangkan dalam penelitian ini seluruh komponen dirancang menyatu dalam satu sistem. “Tetapi kita di dalam sistem ini end-to-end integration,” tegasnya.

Pada aspek pengelolaan ternak, tim peneliti mengembangkan Animal Intelligent System yang memanfaatkan smart collar berbasis IoT. Kalung pintar ini dirancang untuk memantau kondisi kesehatan ternak, membaca lokasi sapi, hingga membantu pengendalian pergerakan ternak melalui pagar virtual. Sistem ini menjadi penting karena pola peternakan sapi umbaran di Sumbawa sangat dipengaruhi musim. Saat musim kemarau, sapi dilepas di lahan terbuka, sedangkan saat musim hujan hewan perlu kembali dikendalikan agar tidak merusak lahan pertanian. Dengan teknologi tersebut, pemantauan ternak dapat dilakukan lebih presisi tanpa mengubah karakter dasar peternakan lokal.

Selain itu, penelitian ini juga mengembangkan Grazing and Pasture Intelligent System untuk mengelola area penggembalaan secara lebih adaptif. Sistem ini dirancang agar pergerakan sapi dapat diarahkan secara virtual ke area yang paling sesuai, sehingga lahan penggembalaan dapat dikelola bergantian. Pendekatan ini memungkinkan area yang sedang tidak digunakan dipulihkan kembali melalui pemupukan atau pengairan, sehingga produktivitas lingkungan peternakan tetap terjaga. Dengan kata lain, penelitian ini tidak hanya memusatkan perhatian pada ternaknya, tetapi juga pada keberlanjutan ekosistem penggembalaan.

Komponen penting lain dalam riset ini adalah Traceability and Supply Chain System. Melalui sistem ini, setiap ternak dapat diregistrasi, direkam jejaknya, dan dihubungkan dengan sistem pendataan ternak setempat. Langkah tersebut penting untuk memastikan pengelolaan peternakan yang lebih akuntabel, mulai dari identifikasi ternak, status kesehatan, hingga posisi dalam rantai pasok. Dengan dukungan data yang lebih tertata, peternakan rakyat diharapkan dapat bergerak menuju model pengelolaan yang lebih modern dan lebih siap terhubung dengan kebutuhan pasar.

Yang membuat penelitian ini semakin menarik adalah pengembangan Digital Market, Investment, and Tourism System. Tim tidak hanya memikirkan bagaimana sapi dipelihara dengan lebih baik, tetapi juga bagaimana hasil pengelolaan itu dapat terhubung dengan model bisnis baru. Sapi umbaran yang selama ini dipandang sebagai pola tradisional justru dijadikan kekuatan untuk membangun pengalaman wisata peternakan, investasi ternak digital, hingga dashboard edukasi bagi masyarakat. “Kita ingin menggunakan smart livestock tourism, jadi sapi yang umbaran ini justru kita jadikan kekuatan,” jelas Prof. Kusrini

Kolaborasi antar Perguruan Tinggi

Menurut Prof. Kusrini, model kolaborasi seperti ini memungkinkan penelitian berkembang lebih kuat karena setiap pihak bekerja sesuai perannya. Universitas AMIKOM Yogyakarta berperan sebagai ketua konsorsium, lalu berbagi tanggung jawab pengembangan sistem dengan mitra yang lain. Setiap bagian teknologi dikerjakan oleh tim yang paling sesuai dengan latar belakangnya, sehingga hasil yang dibangun menjadi satu sistem utuh. “Kuncinya adalah bagaimana kita membuat tim, memilih orang yang pas sesuai dengan kemampuan mereka, sesuai dengan passion mereka,” kata Prof. Kusrini

Kolaborasi ini juga menunjukkan bahwa penelitian berskala besar memerlukan manajemen tim yang kuat. Prof. Kusrini menyebut dirinya tidak mengerjakan semuanya sendiri, melainkan berperan menghubungkan berbagai pihak agar seluruh komponen riset berjalan searah. Dalam penelitian ini, keterhubungan antara tim di Universitas AMIKOM Yogyakarta, tim di Bali, tim di Sumbawa, hingga mitra lapangan di dinas peternakan menjadi faktor penting yang memungkinkan ide besar Sumbawa Digital Ranch dapat diwujudkan secara bertahap.

Selain kolaborasi keilmuan, riset ini juga memperlihatkan kolaborasi visi. Ketiga perguruan tinggi dan para mitra sepakat mengembangkan teknologi yang bukan hanya menjawab kebutuhan teknis peternakan, tetapi juga membuka peluang model bisnis baru yang lebih luas. Melalui pendekatan ini, Sumbawa Digital Ranch diarahkan tidak hanya menjadi inovasi teknologi, tetapi juga produk unggulan yang dapat memberi dampak bagi masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah daerah.

Penelitian ini dijalankan selama tiga tahun dengan melibatkan 12 dosen, satu mahasiswa S3, dan dua mitra. Skala kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa Sumbawa Digital Ranch bukan riset individual, melainkan kerja bersama yang dibangun di atas jejaring akademik dan kelembagaan yang kuat. Melalui kolaborasi ini, Universitas AMIKOM Yogyakarta menunjukkan komitmennya untuk menghadirkan penelitian yang lintas disiplin, lintas institusi, dan terhubung langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Ke depan, kolaborasi dalam Sumbawa Digital Ranch diharapkan dapat menjadi model pengembangan riset yang saling menguatkan antara perguruan tinggi, mitra daerah, dan pemangku kepentingan lainnya. Dengan sinergi yang terbangun sejak tahap perencanaan hingga implementasi, penelitian ini diharapkan mampu melahirkan inovasi yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga berdampak nyata bagi pengembangan peternakan dan ketahanan pangan Indonesia.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With Kusrini