Dosen Universitas AMIKOM Yogyakarta meraih 18 pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada Tahun Anggaran 2026. Dari jumlah tersebut, salah satu dosen yang turut memperoleh pendanaan adalah Prof. Arief Dalam artikel khusus ini, @amikomjogja mengangkat salah satu proposal Prof. Arief yang memperoleh pendanaan pada Program Penelitian skema Penelitian Disertasi Doktor, yakni:
“Pengembangan model Vision Transformer dengan adaptive augmentation berbasis generative AI untuk deteksi stres karyawan melalui facial expression recognition”.
Di tengah dinamika dunia kerja yang semakin cepat, kondisi psikologis karyawan menjadi salah satu aspek yang semakin penting untuk diperhatikan. Tekanan kerja, target yang tinggi, serta ritme aktivitas yang padat sering kali membuat tingkat stres karyawan sulit dipantau secara dini. Dari kebutuhan itulah penelitian ini dikembangkan. Fokus utamanya adalah membangun model yang mampu membantu mendeteksi stres karyawan melalui ekspresi wajah, sehingga kondisi emosional karyawan dapat dipantau secara lebih sistematis dan dapat digunakan sebagai bagian dari upaya preventif di lingkungan kerja.
Penelitian ini memperoleh pendanaan melalui skema Penelitian Disertasi Doktor, yaitu skema dalam Program Penelitian yang ditujukan untuk mendukung riset mahasiswa jenjang doktor. Melalui skema ini, penelitian mahasiswa doktoral tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan akademik penyelesaian studi, tetapi juga didorong agar menghasilkan kontribusi ilmiah yang relevan terhadap persoalan nyata. Dalam penelitian ini, mahasiswa doktoral Mujiyanto mengembangkan risetnya di bawah bimbingan Prof. Arief. Prof. Arief menjelaskan bahwa pada skema disertasi doktor, peneliti utama sesungguhnya adalah mahasiswa doktoral, sementara dosen pembimbing berperan mendampingi dan memperkuat arah riset agar berkembang secara ilmiah dan terukur.
Secara substansi, penelitian ini berangkat dari pemahaman bahwa wajah manusia menyimpan banyak informasi tentang kondisi emosional. Ketika seseorang sedih, marah, tertekan, atau bahagia, ekspresi tersebut dapat terbaca dari wajahnya. Berangkat dari pemahaman itu, penelitian ini mengembangkan model yang memanfaatkan facial expression recognition untuk mendeteksi tingkat stres karyawan. Sistem yang dibangun diharapkan mampu mengenali ekspresi wajah secara lebih cermat, lalu mengolahnya menjadi indikator yang dapat membantu membaca kondisi psikologis seseorang selama beraktivitas di lingkungan kerja.
“Tujuan dari penelitian ini adalah membuat model untuk mendeteksi karyawan itu, atau pada dasarnya semua orang itu, dia lagi marah enggak, dia lagi stres enggak. Jadi itu bisa dideteksi menggunakan model kita,” jelas Prof. Arief
Menurut Prof. Arief, Fokus utama penelitian ini adalah mengembangkan model Vision Transformer yang diperkuat dengan adaptive augmentation berbasis generative AI. Model tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan sistem dalam mengenali pola ekspresi wajah secara lebih baik, sehingga deteksi kondisi emosional karyawan dapat dilakukan dengan lebih akurat. Penelitian ini tidak hanya bertujuan mengenali ekspresi sesaat, tetapi juga membaca pola emosional yang muncul secara berulang dalam aktivitas kerja sehari-hari.
Beliau juga menegaskan bahwa sistem yang dikembangkan diarahkan untuk mendeteksi apakah seseorang berada dalam kondisi marah, sedih, atau menunjukkan tanda-tanda tekanan emosional. Dari hasil pengenalan ekspresi itu, sistem kemudian dapat digunakan untuk memetakan tingkat stres karyawan. Selain itu ketika ekspresi tertentu muncul terus-menerus dalam rentang waktu yang panjang, kondisi tersebut dapat menjadi indikator awal adanya stres yang perlu diperhatikan.
“Tujuan dari penelitian ini adalah membuat model untuk mendeteksi karyawan itu atau pada dasarnya semua orang itu dia lagi marah enggak, dia lagi stres enggak,” jelasnya.
Yang membuat penelitian ini menarik adalah orientasinya yang sangat dekat dengan kebutuhan nyata di lingkungan kerja. Selama ini, kondisi psikologis karyawan sering kali hanya dipantau secara informal oleh atasan atau rekan kerja. Namun pemantauan seperti itu tentu sangat bergantung pada perhatian personal dan tidak selalu berlangsung secara konsisten. Melalui model yang dikembangkan, pemantauan ekspresi wajah dapat dilakukan dengan dukungan sistem, sehingga pengamatan terhadap kondisi stres karyawan dapat berlangsung lebih terstruktur. Dalam pandangan Prof. Arief, sistem ini dapat menjadi alat bantu untuk mendukung upaya pencegahan sebelum tekanan kerja berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
“Ini bisa digunakan untuk melakukan upaya preventif untuk menghindari misalnya karyawan yang semangat kerjanya menurun karena tiap hari dia merasa berada di dalam tekanan,” ujarnya.
Ia mencontohkan, apabila seorang karyawan dari pagi hingga sore terus-menerus menunjukkan ekspresi marah atau tegang, maka kondisi itu dapat dibaca sebagai sinyal tingkat stres yang tinggi. Sebaliknya, apabila ekspresi yang muncul cenderung ceria dan stabil, maka hal itu bisa menjadi indikasi bahwa karyawan berada dalam kondisi emosional yang baik. Dengan demikian, penelitian ini diarahkan bukan sekadar untuk klasifikasi ekspresi wajah, tetapi juga untuk membangun dasar analisis kesejahteraan psikologis di tempat kerja.
Selain menarik dari sisi tema, penelitian ini juga memperlihatkan kuatnya hubungan antara pendidikan doktoral dan pengembangan ilmu pengetahuan. Prof. Arief menegaskan bahwa penelitian ini merupakan bagian dari proses disertasi mahasiswa doktoral. Dalam struktur tim penelitian, ia bertindak sebagai ketua peneliti, dan Mujiyanto sebagai mahasiswa doktoral yang menjadi peneliti utama dalam kerangka disertasinya. Pola seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan doktoral tidak hanya menjadi ruang penyelesaian studi, tetapi juga menjadi wahana pengembangan riset yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Hal penting lain dari penelitian ini adalah luaran yang ditargetkan. Prof. Arief menjelaskan bahwa pada skema Penelitian Disertasi Doktor, luaran wajibnya bukan hanya publikasi ilmiah, tetapi juga penyelesaian disertasi. Karena itu, hibah penelitian ini diarahkan agar mahasiswa dapat fokus menyelesaikan penelitiannya dengan dukungan pendanaan yang memadai, baik untuk proses riset maupun untuk publikasi. Dengan cara ini, penelitian bukan hanya membantu pengembangan ilmu, tetapi juga memperkuat ekosistem akademik yang mendukung mahasiswa doktoral lulus tepat waktu dengan hasil penelitian yang baik.
“Luaran wajibnya adalah paper, satu paper per tahun. Kemudian karena ini disertasi, luaran wajibnya adalah disertasi, sehingga harapannya si mahasiswa ini, dalam hal ini Mas Muji, bisa lulus tepat waktu dengan publikasi yang baik tanpa memikirkan biaya publikasinya, tanpa memikirkan biaya untuk penelitiannya,” jelasnya.
Di balik capaian itu, Prof. Arief juga menekankan pesan penting bagi para peneliti muda, yakni pentingnya kerja sama, konsistensi, dan persistensi. Menurutnya, penelitian tidak bisa dibangun sendirian. Setiap peneliti perlu membangun kolaborasi dengan pihak-pihak yang memiliki keahlian berbeda agar riset dapat berkembang dengan lebih kuat. Selain itu, ia juga menekankan bahwa penelitian harus dilakukan secara konsisten, tidak hanya saat ada hibah, tetapi sebagai bagian dari kebiasaan akademik yang terus dipelihara. Dengan konsistensi itu, seorang dosen atau peneliti akan membangun keahlian yang semakin matang, sehingga pada waktunya mampu bersaing dalam hibah nasional maupun internasional.
“Satu kuncinya adalah kerja sama, kita enggak bisa bekerja sendiri, kita harus bekerja sama dengan teman-teman yang lain. Yang kedua adalah konsistensi dan persistensi. Jadi kita mesti konsisten untuk terus melakukan penelitian, ada atau tidak ada hibah,” ujar Prof. Arief
Keberhasilan proposal ini memperoleh pendanaan menunjukkan bahwa penelitian pada jenjang doktoral dapat tumbuh menjadi karya yang kuat secara akademik sekaligus relevan secara sosial. Melalui pengembangan model Vision Transformer dengan adaptive augmentation berbasis generative AI untuk deteksi stres karyawan, Prof. Arief dan Mujiyanto memperlihatkan bahwa teknologi kecerdasan artifisial dapat diarahkan untuk mendukung kesehatan psikologis di lingkungan kerja. Hal ini menegaskan satu hal penting: penelitian yang baik tidak hanya lahir dari kekuatan metode, tetapi juga dari kepekaan dalam membaca kebutuhan nyata dan kemampuan menerjemahkannya menjadi solusi ilmiah yang bermanfaat.


Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With Arief Setyanto




