
Siswa kelas X dan XI Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) SMK Wiratama Kota Gajah, Lampung Tengah, mengikuti kunjungan industri di Universitas AMIKOM Yogyakarta pada Senin, 13 April 2026. Kegiatan di Cinema Universitas AMIKOM Yogyakarta tersebut mengajak peserta memetakan pengembangan kompetensi TKJ menjadi peluang pendidikan, pekerjaan, usaha digital, dan karya industri kreatif.
Rombongan berasal dari dua kelas TKJ bersama para guru pendamping. Kunjungan tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk melihat lingkungan perguruan tinggi sekaligus memahami bahwa kemampuan jaringan komputer dapat dikembangkan melalui berbagai bidang teknologi.
Kepala Jurusan TKJ SMK Wiratama Kota Gajah, Williams Kurniawan Wardani, S.Kom., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bertujuan membuka wawasan siswa mengenai perkembangan teknologi di Yogyakarta.
“Tujuan kami ke sini adalah memberikan wawasan kepada anak-anak mengenai dunia teknologi. Mereka dapat melihat fasilitas dan memahami bagaimana proses perkuliahan berlangsung,” ujar Williams.
Bagi Williams, kunjungan tersebut juga menjadi perjalanan kembali ke tempat yang pernah dikunjunginya sekitar 2015 ketika masih berstatus mahasiswa. Sebelas tahun kemudian, ia datang dengan peran berbeda sebagai guru yang mendampingi siswa mempelajari pendidikan dan teknologi.
Pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa seorang peserta kunjungan dapat kembali pada masa mendatang sebagai pendidik, mahasiswa, maupun tenaga profesional. Williams berharap para siswa memperoleh motivasi untuk melanjutkan pendidikan dan memperdalam kompetensi komputer.
Materi disampaikan oleh Staf Kehumasan dan Urusan Internasional Universitas AMIKOM Yogyakarta, Yusnia Andra Puspitaloka, S.Kom. Ia tidak hanya memperkenalkan lingkungan kampus, tetapi juga mengajak peserta melihat berbagai kemungkinan pengembangan diri setelah mempelajari teknologi.
Andra mengawali materi melalui perjalanan Universitas AMIKOM Yogyakarta yang dimulai pada 1994 dengan 32 mahasiswa dan sumber daya terbatas. Cerita tersebut digunakan untuk menunjukkan bahwa keterbatasan dapat dihadapi melalui pengelolaan yang baik, ketekunan, dan keberanian mempertahankan tujuan.
Menurut Andra, siswa dari daerah tidak perlu merasa tertinggal untuk memasuki dunia digital. Akses belajar yang semakin terbuka memungkinkan peserta mengembangkan keterampilan, membangun karya, dan menjangkau pasar yang tidak dibatasi oleh lokasi.
“Universitas AMIKOM Yogyakarta memulai perjalanan dari mimpi yang besar. Ketika menghadapi keterbatasan, kami tidak patah semangat dan terus berkembang,” jelas Andra.
Pembahasan kemudian diarahkan pada pengembangan kompetensi TKJ. Pengetahuan mengenai jaringan dapat menjadi dasar untuk mempelajari keamanan siber, pengelolaan server, komunikasi data, teknologi Internet of Things, pengembangan sistem, dan layanan internet.
Peserta memperoleh informasi bahwa jalur pendidikan di bidang komputer tersedia mulai dari diploma hingga doktor. Pilihan tersebut memungkinkan siswa menyesuaikan pendidikan dengan tujuan, baik untuk memperkuat keterampilan praktis, memperdalam analisis teknologi, maupun mengembangkan penelitian.
Andra menjelaskan bahwa pembelajaran tidak seharusnya berhenti pada ruang kelas. Mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan melalui magang, kompetisi, komunitas, proyek bersama dosen, program internasional, dan keterlibatan dalam unit kerja di lingkungan kampus.
Keterlibatan tersebut membantu mahasiswa memahami tuntutan pekerjaan sebelum lulus. Mereka dapat belajar mengelola tugas, berkomunikasi dengan tim, menghadapi tenggat waktu, menyampaikan gagasan, dan menghasilkan karya yang dapat dimasukkan ke dalam portofolio.
Andra juga memperkenalkan pengalaman mahasiswa yang memperoleh pendapatan melalui pembuatan situs web. Kemampuan yang dipelajari kemudian dikembangkan melalui komunitas dan pendampingan dosen hingga dapat digunakan untuk membiayai pendidikan maupun kebutuhan pribadi.
Contoh lain datang dari seorang mahasiswa asal Lampung yang hampir menghentikan perkuliahan ketika pandemi karena keterbatasan biaya. Ia kemudian mulai membuat konten secara konsisten, mengembangkan audiens, dan tetap menyelesaikan pendidikannya.
“Kalau memilih membuat konten, kuncinya adalah konsisten. Ketika mulai berhasil, pendidikan juga tetap perlu diselesaikan,” ujar Andra.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kemampuan digital tidak hanya mengarah pada pekerjaan di perusahaan. Siswa dapat menjadi pekerja lepas, pengembang situs web, kreator konten, pengelola jaringan, pengusaha teknologi, maupun membangun layanan berdasarkan kebutuhan masyarakat.
Bagi siswa dari Lampung, Andra memperkenalkan iTani sebagai contoh penerapan teknologi pada sektor pertanian. Platform tersebut mendukung pemetaan dan pengelolaan lahan, pembiayaan, pengolahan hasil panen, hingga pemasaran produk.
Contoh tersebut memberikan perspektif bahwa siswa TKJ tidak harus meninggalkan potensi daerah untuk mengembangkan karier. Kemampuan jaringan, pemrograman, pengelolaan data, dan pemasaran digital dapat digunakan untuk membantu petani, pelaku usaha, sekolah, maupun pemerintah daerah.
Pembahasan berlanjut pada Amikom Creative Economy Park yang menghubungkan kegiatan pendidikan dengan industri. Ekosistem tersebut mencakup penyiaran televisi dan radio, pengembangan perangkat lunak, layanan internet dan komunikasi data, animasi, teknologi imersif, permainan digital, serta inkubasi perusahaan rintisan.
Melalui ekosistem tersebut, mahasiswa dapat melihat proses perubahan sebuah gagasan menjadi produk. Sebuah karya perlu melalui pengembangan teknis, pengujian, komunikasi, pemasaran, dan pengelolaan bisnis sebelum dapat digunakan oleh masyarakat.
Peserta memperoleh contoh penerapan teknologi berupa sistem keselamatan pantai berbasis kecerdasan buatan, video imersif untuk pariwisata, permainan realitas virtual, simulator alat berat, serta pembangunan infrastruktur jaringan komunikasi.
Sejumlah inovasi mahasiswa turut diperkenalkan, seperti robot sterilisasi lantai masjid menggunakan sinar ultraviolet C, aplikasi komunikasi dan perdagangan, perangkat bantu bagi penyandang tunanetra, teknologi interaktif untuk museum, dan visualisasi anatomi manusia.
Berbagai produk tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan teknis perlu bertemu dengan pemahaman terhadap masalah. Teknologi akan mempunyai kegunaan ketika pengembang mampu mengenali kebutuhan pengguna dan menyusun solusi yang sesuai.
Pada bidang industri kreatif, peserta menyaksikan trailer Battle of Surabaya. Film tersebut menjadi contoh pengembangan kekayaan intelektual yang tidak berhenti setelah proses produksi, tetapi dilanjutkan melalui festival, distribusi, dan pembuatan produk turunan.
Andra turut menjelaskan keterlibatan alumni Universitas AMIKOM Yogyakarta dalam produksi film animasi Jumbo. Pengalaman mereka memperlihatkan bahwa proyek dan portofolio yang dibangun selama pendidikan dapat menjadi pintu masuk menuju industri kreatif nasional.
Peserta juga menyaksikan trailer animasi tiga dimensi Ajisaka yang masih dalam proses pengembangan. Melalui penayangan tersebut, siswa memperoleh gambaran bahwa teknologi komputer dapat digunakan untuk mengembangkan cerita, visual, tata suara, dan pengalaman audiovisual.
Rangkaian kunjungan turut mencakup pengenalan fasilitas dan lingkungan kampus. Kegiatan kemudian diakhiri dengan pertukaran cendera mata serta foto bersama antara Universitas AMIKOM Yogyakarta dan SMK Wiratama Kota Gajah.
Kunjungan tersebut diharapkan membantu siswa SMK Wiratama Kota Gajah melihat kompetensi TKJ secara lebih luas. Pengetahuan yang mereka pelajari dapat dikembangkan menjadi pendidikan lanjut, pekerjaan, usaha, maupun solusi digital yang menjawab kebutuhan masyarakat di Lampung.
Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional




