
Yogyakarta, 23 Juni 2026 — Fakultas Sains dan Teknologi Universitas AMIKOM Yogyakarta bersama University of Baguio, Filipina, menyelenggarakan rangkaian masterclass AMIKOM International Short Course 2026 di Universitas AMIKOM Yogyakarta pada 18, 19, 22, dan 23 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi bagian utama dari short course bertema “Living with the Coast: Planning Resilient Shorelines” yang berlangsung pada 14–27 Juni 2026, dengan tujuan memperkuat pemahaman mahasiswa tentang perencanaan kawasan pesisir yang tangguh, berkelanjutan, dan berbasis kolaborasi lintas disiplin.
Masterclass tersebut diikuti oleh mahasiswa University of Baguio dan mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta. Delegasi University of Baguio terdiri dari empat mahasiswa dan satu dosen pendamping, dengan latar belakang bidang Architecture serta Environmental and Sanitary Engineering. Mereka mengikuti program bersama mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Arsitektur, dan Geografi.
Muhammad Najih Fasya, S.P.W.K., M.Par., selaku perwakilan panitia pelaksana, menjelaskan bahwa masterclass menjadi salah satu bagian penting dalam AMIKOM International Short Course 2026. Menurutnya, sesi ini tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga membuka ruang diskusi antara narasumber dan peserta.
“Masterclass menjadi salah satu roh short course. Konsepnya memang seperti kelas kuliah, tetapi tetap ada sesi tanya jawab dan diskusi antara speaker dengan mahasiswa,” ujar Najih.
Rangkaian masterclass menghadirkan delapan sesi dengan materi yang saling melengkapi. Pada Kamis, 18 Juni 2026, kegiatan diawali dengan sesi Coastal Tourism Planning oleh Muhammad Najih Fasya, S.P.W.K., M.Par.. Materi ini membahas keterkaitan antara perencanaan kawasan pesisir dan aktivitas pariwisata, terutama bagaimana kawasan pantai dapat dikembangkan dengan tetap memperhatikan keberlanjutan dan kebutuhan masyarakat.
Pada hari yang sama, peserta mengikuti sesi kedua bersama Aditya Maulana Hasymi, S.IP., M.A. dengan materi “Who Draws the Line at the Water’s Edge? Maritime Diplomacy and the Negotiation of Coastal Space.” Melalui materi ini, mahasiswa diajak memahami bahwa kawasan pesisir tidak hanya dapat dilihat sebagai ruang fisik, tetapi juga sebagai ruang sosial, ekonomi, dan kebijakan yang membutuhkan proses negosiasi dalam pengelolaannya.
Rangkaian berlanjut pada Jumat, 19 Juni 2026, dengan materi Geographic Information System (GIS) for Coastal Management oleh Widiyana Riasasi, M.Sc.. Sesi ini memperkenalkan penggunaan sistem informasi geografis dalam membaca kondisi kawasan pesisir. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa dapat memahami pentingnya data spasial dalam proses perencanaan, pemetaan, dan pengambilan keputusan.
Sesi berikutnya menghadirkan Fitria Nuraini Sekarsih, S.Si., M.Sc. dengan materi Geotourism in Yogyakarta. Materi ini menghubungkan potensi geologi, lanskap, dan pariwisata di Yogyakarta, termasuk bagaimana kawasan pesisir dapat dipahami sebagai ruang yang memiliki nilai lingkungan, pendidikan, dan wisata.
Pada Senin, 22 Juni 2026, peserta mengikuti masterclass bersama Prof. Arief Setyanto, S.Si., M.T., Ph.D., Wakil Rektor IV Bidang Kerjasama dan Pengembangan Universitas AMIKOM Yogyakarta. Dalam sesi AI-Powered Earth Observation for Resilient Urban and Coastal Planning, Prof. Arief membahas pemanfaatan kecerdasan artifisial dan pengamatan bumi untuk mendukung perencanaan wilayah, termasuk kawasan pesisir yang menghadapi tantangan lingkungan dan kebencanaan.
Hari yang sama juga menghadirkan sesi Placemaking and Tourist Experience: Shaping the Identity of Beach Tourism oleh Nurizka Fidali, S.T., M.Sc., serta materi Waterfront oleh Prasetyo Febriarto, S.T., M.Sc.. Kedua materi tersebut memperkuat perspektif mahasiswa tentang identitas ruang wisata pantai, pengalaman pengunjung, dan cara merancang kawasan tepi air yang lebih tertata dan relevan dengan konteks lokal.
Rangkaian masterclass ditutup pada Selasa, 23 Juni 2026, dengan menghadirkan narasumber dari praktisi dan pemerintah. Retno Palupi, S.PWK., MUPD. dari Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Daerah Istimewa Yogyakarta menyampaikan materi Spatial Design Guidelines for Coastal Area. Materi ini memberi gambaran tentang pedoman penataan ruang kawasan pesisir dari sudut pandang kebijakan dan praktik perencanaan daerah.
Sesi terakhir menghadirkan Elvandro Rahaditya P. Putro, S.T., IAP. dari Ikatan Ahli Perencanaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kehadiran praktisi dalam sesi ini memperluas pemahaman peserta tentang bagaimana perencanaan kawasan pesisir diterapkan dalam praktik profesional.
Najih menyampaikan bahwa keberagaman narasumber menjadi salah satu kekuatan masterclass tahun ini. Materi tidak hanya disampaikan oleh dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas AMIKOM Yogyakarta, tetapi juga melibatkan narasumber dari bidang kecerdasan artifisial, kebijakan tata ruang, dan praktik perencanaan profesional.
“Materinya cukup beragam dan lengkap. Ada dosen-dosen dari Universitas AMIKOM Yogyakarta, ada juga dari pemerintah dan praktisi perencanaan. Semuanya menyesuaikan dengan tema yang dibawa,” jelas Najih.
Seluruh sesi masterclass dirancang untuk mendukung working project mahasiswa. Sejak awal program, peserta telah dibagi ke dalam empat kelompok yang menggabungkan mahasiswa University of Baguio dan Universitas AMIKOM Yogyakarta. Setiap kelompok mendapat tugas menyusun gagasan perencanaan kawasan pesisir dengan studi kasus kawasan Pantai Parangtritis.
Dalam working project tersebut, mahasiswa diminta mengolah materi masterclass, data lapangan, hasil observasi, serta diskusi kelompok menjadi rancangan yang dipresentasikan pada akhir kegiatan. Output yang disiapkan meliputi presentasi, peta, dan poster. Dengan format ini, masterclass tidak berhenti pada penyampaian teori, tetapi langsung terhubung dengan proses perancangan solusi.
“Masterclass semua itu untuk mendukung project mereka. Mahasiswa bisa mengambil materi dari setiap narasumber untuk menyusun perencanaan kawasan pantai. Jadi, tujuan utamanya bukan mencari siapa yang paling baik, tetapi membangun kolaborasi,” ungkap Najih.
Pendekatan kolaboratif ini menjadi penting karena peserta berasal dari latar belakang keilmuan yang berbeda. Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota, Arsitektur, Geografi, Architecture, serta Environmental and Sanitary Engineering memiliki sudut pandang masing-masing dalam membaca persoalan pesisir. Melalui kelompok campuran, mahasiswa belajar menyatukan perspektif akademik, budaya, dan pengalaman lapangan.
Keterhubungan antara masterclass dan working project memperlihatkan bahwa AMIKOM International Short Course 2026 menempatkan mahasiswa sebagai peserta aktif. Mereka tidak hanya menerima materi, tetapi juga menguji gagasan, berdiskusi, mengumpulkan data, dan menyusun rancangan berdasarkan persoalan nyata di lapangan.
Melalui rangkaian masterclass ini, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas AMIKOM Yogyakarta berharap mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih kontekstual. Kolaborasi dengan University of Baguio diharapkan terus memperkuat jejaring akademik internasional dan membuka ruang bagi mahasiswa untuk memahami isu pesisir melalui pendekatan lintas disiplin, lintas budaya, dan berbasis kebutuhan masyarakat.
Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With : Muhammad Najih Fasya,
Koresponden : Yohannes William Santoso




