
Yogyakarta, 27 Juni 2026 — Fakultas Sains dan Teknologi Universitas AMIKOM Yogyakarta berkolaborasi dengan University of Baguio, Filipina, menyelenggarakan AMIKOM International Short Course 2026 pada 14–27 Juni 2026 di Yogyakarta. Mengangkat tema “Living with the Coast: Planning Resilient Shorelines,” kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran internasional bagi mahasiswa untuk memahami perencanaan kawasan pesisir yang tangguh melalui kuliah umum, masterclass, observasi lapangan, eksplorasi budaya, dan working project berbasis kolaborasi.
AMIKOM International Short Course merupakan program kerja sama akademik antara Fakultas Sains dan Teknologi Universitas AMIKOM Yogyakarta dengan University of Baguio. Program ini telah berjalan sejak 2024 melalui skema inbound dan outbound. Pada skema inbound, mahasiswa University of Baguio datang ke Yogyakarta untuk mengikuti pembelajaran bersama mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta. Sebaliknya, melalui skema outbound, mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta berkesempatan mengikuti program akademik serupa di University of Baguio, Filipina.
Muhammad Najih Fasya, S.P.W.K., M.Par., selaku perwakilan panitia pelaksana, menjelaskan bahwa program ini berawal dari kerja sama yang dibangun oleh dosen-dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas AMIKOM Yogyakarta dengan University of Baguio. Setelah adanya kerja sama formal, kedua institusi kemudian menyepakati program short course sebagai ruang pertukaran mahasiswa dan pembelajaran lintas negara.
“Program ini sudah berjalan dari 2024. Konsepnya seperti exchange, ada inbound ketika mahasiswa dari Filipina datang ke sini, dan ada outbound ketika mahasiswa kita berangkat ke sana,” jelas Najih.
Pada pelaksanaan tahun ini, University of Baguio mengirimkan empat mahasiswa dan satu dosen pendamping. Mahasiswa tersebut berasal dari bidang Architecture serta Environmental and Sanitary Engineering. Mereka mengikuti kegiatan bersama 16 mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Arsitektur, dan Geografi. Selama dua minggu, para peserta belajar dalam kelompok campuran untuk memahami isu kawasan pesisir dari sudut pandang yang berbeda.
Menurut Najih, keberlanjutan program ini penting karena memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar langsung dalam lingkungan internasional. Ia menilai pengalaman tersebut tidak hanya memperluas wawasan akademik, tetapi juga melatih mahasiswa untuk berdiskusi, beradaptasi, dan bekerja sama dengan teman dari latar belakang budaya dan keilmuan yang berbeda.
“Yang jelas, niat utamanya untuk mahasiswa. Kita mendorong mahasiswa untuk bisa ikut, belajar berkolaborasi, dan saling bertukar pengetahuan. Pengalaman seperti ini belum tentu bisa didapatkan di semua kampus,” ujarnya.
Rangkaian Aktivitas AMIKOM International Short Course 2026
Rangkaian AMIKOM International Short Course 2026 dimulai dengan kedatangan peserta di Yogyakarta pada Minggu, 14 Juni 2026. Setelah itu, kegiatan resmi dibuka melalui Welcoming Ceremony dan Public Lecture di Ruang Citra 2 Universitas AMIKOM Yogyakarta pada Senin, 15 Juni 2026.
Sesi Public Lecture disampaikan oleh Ar. Divina Ligaya B. Rillera, MACT, MA EHP (University of Baguio, The Philippines) dan Bagus Ramadhan S.T., M.Eng (Universitas Amikom Yogyakarta). Dalam agenda tersebut, kedua narasumber menyampaikan pengantar akademik mengenai tema utama kegiatan, terutama tentang perencanaan kawasan pesisir dan ketahanan komunitas.
Welcoming Ceremony dan Public Lecture AMIKOM International Short Course 2026
Setelah sesi pembukaan, peserta mengikuti rangkaian masterclass yang menjadi salah satu inti kegiatan. Masterclass dilaksanakan dalam delapan sesi dengan materi yang saling melengkapi, mulai dari coastal tourism planning, maritime diplomacy, Geographic Information System untuk pengelolaan pesisir, geotourism, pemanfaatan kecerdasan artifisial untuk perencanaan wilayah, placemaking, waterfront, hingga pedoman penataan ruang kawasan pesisir.
Najih menyampaikan bahwa agenda masterclass ini merupakan salah satu bagian utama dalam agenda short course. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga menjadi ruang diskusi yang membantu mahasiswa menyusun gagasan untuk proyek akhir.
“Masterclass menjadi salah satu roh short course. Konsepnya seperti kelas kuliah, tetapi tetap ada sesi tanya jawab dan diskusi antara speaker dengan mahasiswa,” jelasnya.
Selain kegiatan kelas, peserta juga mengikuti field survey di kawasan Pantai Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul. Lokasi ini dipilih sebagai studi kasus karena sesuai dengan tema perencanaan kawasan pesisir. Dalam kegiatan lapangan tersebut, peserta mengamati kondisi pantai, permukiman, gumuk pasir, fasilitas wisata, aktivitas masyarakat, serta berbagai persoalan yang berkaitan dengan pengelolaan kawasan pesisir.
Mahasiswa juga melakukan dokumentasi dan wawancara untuk memperkuat data lapangan. Kegiatan tersebut dilengkapi dengan focus group discussion bersama pemangku kepentingan di kawasan Parangtritis. Melalui forum ini, peserta menggali potensi dan permasalahan kawasan, termasuk isu kebencanaan, pariwisata, lingkungan, dan kebutuhan masyarakat lokal.
“Di lapangan, mereka survei, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data itu mereka gunakan untuk mendukung rancangan kawasan pesisir yang tangguh dan berkelanjutan,” terang Najih.
Di luar kegiatan akademik, peserta mengikuti eksplorasi Kota Yogyakarta melalui kunjungan ke Keraton Yogyakarta dan Jeep Off-road Merapi Lava Tour. Kegiatan ini memberi ruang bagi peserta untuk mengenal budaya, sejarah, dan lanskap Yogyakarta secara langsung. Bagi peserta dari University of Baguio, aktivitas tersebut menjadi pengalaman lintas budaya yang melengkapi proses belajar selama berada di Indonesia.
Pada tahap akhir, peserta mengerjakan working project secara berkelompok. Setiap kelompok terdiri dari mahasiswa University of Baguio dan mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta. Mereka diminta menyusun gagasan perencanaan kawasan pesisir berdasarkan materi masterclass, data field survey, hasil diskusi, dan observasi lapangan.
Output working project meliputi presentasi, peta, dan poster. Najih menegaskan bahwa tujuan utama proyek ini bukan sekadar mencari kelompok terbaik, melainkan membangun pengalaman kolaborasi. Mahasiswa dari program studi dan negara yang berbeda perlu menyatukan sudut pandang untuk menghasilkan gagasan yang relevan dengan konteks kawasan Parangtritis.
“Working project ini tujuannya kolaborasi. Mahasiswa dari program studi yang berbeda, bahkan dari negara dan budaya yang berbeda, perlu berdiskusi untuk menyusun gagasan bersama. Itu pengalaman yang penting,” ungkap Najih.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan final presentation pada Kamis, 25 Juni 2026. Dalam sesi tersebut, mahasiswa mempresentasikan hasil proyek kelompok yang telah mereka susun selama short course. Presentasi akhir menjadi ruang untuk melihat bagaimana mahasiswa mengolah materi kelas, data lapangan, dan hasil diskusi menjadi gagasan perencanaan kawasan pesisir.


Short Course Jadi Ruang Kolaborasi Mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta dan University of Baguio Filipina
Ashley Bautista Patacsil, mahasiswa Architecture Study Program University of Baguio, Filipina, menyampaikan bahwa AMIKOM International Short Course 2026 memberinya pengalaman belajar yang berbeda. Sebagai mahasiswa arsitektur, ia terbiasa dengan proses penyusunan solusi desain, kunjungan lapangan, dan kerja kelompok. Karena itu, program ini memberinya kesempatan untuk melihat bagaimana gagasan desain dapat dikaitkan dengan persoalan nyata di kawasan pesisir.
Dalam working project, Ashley menjelaskan bahwa kelompoknya menaruh perhatian pada dua isu utama, yaitu kesiapsiagaan bencana dan pariwisata. Ia melihat Parangtritis sebagai kawasan yang ramai dikunjungi wisatawan, sehingga perencanaan perlu mempertimbangkan keamanan pengunjung sekaligus pengelolaan lingkungan.
“Kami fokus pada disaster preparedness dan tourism. Pertanyaannya, bagaimana Parangtritis tetap menjadi tempat yang aman sekaligus menarik bagi wisatawan,” ujar Ashley.
Ashley juga menilai program ini memperluas cara pandangnya sebagai mahasiswa. Ia merasakan langsung perbedaan lingkungan, budaya, makanan, kebiasaan masyarakat, hingga cara mahasiswa dari dua negara berdiskusi dalam satu kelompok. Bagi Ashley, pengalaman berada di Yogyakarta memberi pelajaran tentang keberanian untuk keluar dari zona nyaman.
“Saya belajar bahwa pertumbuhan terjadi ketika kita keluar dari zona nyaman. Kita berbagi budaya dan nilai yang berbeda, tetapi tetap bisa melihat bahwa hidup itu indah,” tuturnya.
Sementara itu, Satya Putra Raharja, mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta, menilai short course ini menjadi pengalaman lintas budaya yang berkesan. Sebelumnya, ia juga mengikuti program outbound ke Baguio, Filipina. Menurut Satya, pengalaman paling terasa dari program ini adalah kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan mahasiswa dari negara lain.
Ia menyebut bahwa kemampuan bahasa Inggrisnya berkembang karena harus digunakan dalam percakapan sehari-hari selama kegiatan. Selain itu, ia juga belajar memahami sudut pandang teman-teman dari University of Baguio dalam membaca persoalan kota dan kawasan pesisir.
“Di mana pun kita bisa belajar, tetapi lebih asyik dan lebih intens kalau langsung ngobrol dengan orangnya. Kita belajar bahasa, budaya, dan cara melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda,” ujar Satya.
Melalui AMIKOM International Short Course 2026, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas AMIKOM Yogyakarta berharap kerja sama dengan University of Baguio dapat terus berlanjut dan memberi manfaat yang lebih luas bagi mahasiswa. Program ini menjadi ruang belajar bersama yang menghubungkan kelas, lapangan, budaya, dan kolaborasi lintas negara dalam satu pengalaman akademik yang utuh.
Kegiatan ini juga diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk memahami isu kawasan pesisir secara lebih kontekstual. Dengan pengalaman belajar lintas disiplin dan lintas budaya, mahasiswa diharapkan mampu melihat persoalan wilayah tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga dari kebutuhan masyarakat dan kondisi nyata di lapangan.
Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With : Muhammad Najih Fasya,
Koresponden : Yohannes William Santoso






