
Yogyakarta, 15 Juni 2026 — Fakultas Sains dan Teknologi Universitas AMIKOM Yogyakarta bersama University of Baguio, Filipina, membuka rangkaian AMIKOM International Short Course 2026 melalui Welcoming Ceremony dan Public Lecture di Ruang Citra 2 Universitas AMIKOM Yogyakarta, Senin, 15 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi pembuka program pembelajaran internasional bertema “Living with the Coast: Planning Resilient Shorelines” yang berlangsung pada 14–27 Juni 2026 dan berfokus pada perencanaan kawasan pesisir yang tangguh serta berkelanjutan.
Agenda pembukaan ini mempertemukan delegasi University of Baguio dengan sivitas akademika Universitas AMIKOM Yogyakarta. Pada tahun ini, delegasi University of Baguio terdiri dari empat mahasiswa dan satu dosen pendamping. Mahasiswa tersebut berasal dari bidang Architecture serta Environmental and Sanitary Engineering. Mereka mengikuti program bersama mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Arsitektur, dan Geografi.
Pembukaan program ini tidak hanya dirancang sebagai seremoni penyambutan. Muhammad Najih Fasya, S.P.W.K., M.Par., selaku perwakilan panitia pelaksana, menjelaskan bahwa panitia ingin menghadirkan kegiatan akademik sejak hari pertama. Karena itu, Welcoming Ceremony dilanjutkan dengan Public Lecture agar peserta langsung mendapatkan gambaran tentang isu utama yang akan dipelajari selama short course.
“Kita tidak ingin hanya seremoni. Paling tidak ada kuliah umum yang bisa dilihat atau dihadiri mahasiswa, sekaligus menjadi bagian dari kelas,” ujar Najih.
Agenda Public Lecture tersebut menghadirkan Ar. Divina Ligaya B. Rillera, MACT, MA EHP, dosen senior sekaligus Program Chair Architecture di University of Baguio. Dalam kuliah umumnya, ia membahas pentingnya membangun komunitas yang kuat dalam proses perencanaan kawasan pesisir. Materi tersebut relevan dengan tema short course tahun ini yang menyoroti perencanaan garis pantai, ketahanan kawasan pesisir, keberlanjutan, dan peran masyarakat dalam menghadapi perubahan lingkungan.
Divina tidak hanya memiliki latar belakang arsitektur, tetapi juga memahami bidang perencanaan. Hal itu membuat materi yang disampaikan mampu menghubungkan aspek desain, keberlanjutan, dan komunitas dalam konteks kawasan pesisir. Beliau banyak membahas bagaimana kita bisa membangun atau merencanakan komunitas yang kuat dalam proses perencanaan. Karena beliau juga planner, materinya tidak hanya berbicara sebagai arsitek, tetapi juga sebagai penata kota,.
Selain sesi dari University of Baguio, Public Lecture juga menghadirkan materi dari Universitas AMIKOM Yogyakarta yang disampaikan oleh Ketua Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota, Bagus Ramadhan, S.T., M.Eng.. Sesi ini memperkaya perspektif peserta mengenai penataan ruang pesisir dari konteks lokal. Melalui dua sudut pandang tersebut, peserta diajak memahami bahwa perencanaan kawasan pesisir membutuhkan pemahaman lintas bidang, mulai dari kondisi lingkungan, aktivitas masyarakat, tata ruang, hingga kesiapan menghadapi risiko bencana.

Setelah Public Lecture, peserta mengikuti panel discussion dan Q&A. Forum ini membuka ruang bagi mahasiswa untuk menghubungkan materi kuliah umum dengan rencana kegiatan berikutnya, termasuk masterclass, field observation, dan working project. Pada tahap ini, peserta mulai memahami bahwa short course tidak hanya berisi pertukaran budaya, tetapi juga pembelajaran berbasis proyek yang menuntut mereka menyusun gagasan perencanaan kawasan pesisir.
Rangkaian pembukaan juga diisi dengan penyerahan sertifikat dan token apresiasi, official opening, badge conferment, foto bersama, serta briefing group assignment. Dalam briefing tersebut, peserta mulai diarahkan untuk mengerjakan proyek kelompok yang akan menjadi salah satu capaian utama program. Proyek ini nantinya berfokus pada kawasan Pantai Parangtritis sebagai studi kasus perencanaan pesisir.
Sesi Public Lecture berlangsung interaktif. Mahasiswa menunjukkan antusiasme melalui sesi tanya jawab, terutama terkait cara merancang komunitas yang tangguh dan bagaimana pendekatan tersebut dapat diterapkan dalam perencanaan kawasan pesisir. Menurut Najih, interaksi antara narasumber dan peserta berjalan baik karena materi disampaikan secara jelas dan langsung menyentuh isu yang akan mereka kerjakan dalam program.
“Mahasiswa cukup antusias. Saat sesi tanya jawab, mereka bertanya tentang cara merencanakan komunitas dan bagaimana membuat komunitas yang tangguh. Interaksi antara speaker dan audiens juga berjalan,” ungkapnya.
Agenda Welcoming Ceremony dan Public Lecture AMIKOM International Short Course 2026 menjadi awal penting bagi rangkaian kegiatan dua minggu yang melibatkan pembelajaran kelas, observasi lapangan, kerja kelompok, dan presentasi akhir. Melalui agenda pembuka ini, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas AMIKOM Yogyakarta dan University of Baguio menegaskan komitmen untuk melanjutkan kerja sama akademik yang memberi ruang bagi mahasiswa untuk belajar, berdiskusi, dan berkolaborasi dalam isu perencanaan kawasan pesisir.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat hubungan akademik antara kedua institusi serta mendorong mahasiswa untuk memahami persoalan pesisir secara lebih kontekstual. Dengan pendekatan lintas disiplin dan lintas budaya, short course ini menjadi ruang belajar bersama untuk menumbuhkan kepedulian terhadap kawasan pesisir yang aman, berkelanjutan, dan berpihak pada kebutuhan masyarakat.
Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With : Muhammad Najih Fasya,
Koresponden : Yohannes William Santoso




