Mari Bites Raih Pendanaan P2MW 2026, Usung Cookies Berbasis Mental Support

5 June 2026 | Berita Utama

Mari Bites, produk cookies yang dikembangkan oleh Qorin Kurotaaini, mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta, berhasil meraih pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha atau P2MW 2026 pada Tahapan Awal. Melalui proposal berjudul “Mari Bites: Inovasi Cookies Berbasis Mental Support Campaign untuk Penguatan Emotional Branding Konsumen Muda”, Qorin menghadirkan produk makanan yang tidak hanya berfokus pada rasa, tetapi juga membawa pesan dukungan emosional bagi anak muda.

Mari Bites masuk dalam kategori makanan dan minuman dengan fokus utama pada produk cookies. Namun, Qorin menjelaskan bahwa keunggulan Mari Bites tidak hanya terletak pada bentuk produknya sebagai camilan, melainkan pada konsep yang menyertainya. Ia ingin menjadikan cookies sebagai media sederhana untuk menyampaikan pesan penyemangat, membangun kesadaran kesehatan mental, dan menciptakan pengalaman konsumsi yang lebih personal bagi konsumen muda.

Ide tersebut lahir dari kepekaan Qorin terhadap persoalan kesehatan mental di lingkungan sekitarnya. Ia melihat banyak anak muda, terutama mahasiswa, menghadapi tekanan akademik, persoalan pribadi, stres, hingga depresi. Dari persoalan tersebut, Qorin mulai berpikir bagaimana sebuah produk makanan bisa memberi nilai lebih selain mengenyangkan.

“Awalnya saya melihat masalah yang ada di sekitar saya. Saya ingin menyelesaikan masalah itu, bukan hanya membuat makanan yang bikin kenyang. Dari cookies, saya berpikir, masalah apa lagi yang bisa dibantu selain rasa lapar,” ungkap Qorin.

Konsep mental support campaign kemudian menjadi pembeda utama Mari Bites. Dalam pengembangannya, setiap produk cookies dirancang untuk disertai kata-kata motivasi atau pesan penyemangat. Pesan tersebut diharapkan dapat menjadi bentuk dukungan kecil bagi konsumen yang sedang menghadapi tekanan atau membutuhkan dorongan positif dalam aktivitas sehari-hari.

Tidak hanya melalui produk, Mari Bites juga menyiapkan kampanye kesehatan mental melalui media sosial. Qorin berencana mengembangkan konten di Instagram dan TikTok yang membahas isu mental health, cara mengelola stres, serta pesan-pesan dukungan bagi anak muda. Dengan pendekatan ini, Mari Bites tidak hanya hadir sebagai produk makanan, tetapi juga sebagai media komunikasi yang dekat dengan kehidupan konsumennya.

“Di cookies kami nanti akan ada kata-kata motivasi dan penyemangat. Selain itu, kami juga akan membuat campaign tentang mental health melalui Instagram dan TikTok,” jelas Qorin.

Selain menguatkan sisi kampanye, Qorin juga mulai memikirkan formulasi produk yang sejalan dengan konsep kesehatan mental. Salah satu bahan yang menjadi perhatian adalah cokelat dengan kadar di atas 70 persen. Menurut Qorin, bahan tersebut dipilih karena dinilai dapat membantu meningkatkan suasana hati. Ia juga berencana mengurangi kadar gula agar cookies yang dikembangkan menjadi lebih sehat, tanpa menghilangkan karakter rasa yang disukai konsumen.

“Cookies kami tidak hanya berisi kata-kata motivasi. Kami juga ingin menggunakan bahan yang bisa membantu menaikkan mood, salah satunya cokelat di atas 70 persen,” ujarnya.

Proses pengembangan Mari Bites dimulai sekitar September 2025, ketika Qorin berada di semester lima. Di tengah aktivitas kuliah yang padat, ia mulai merintis usaha ini dengan sistem open pre-order. Sistem tersebut dipilih agar proses produksi tetap dapat disesuaikan dengan waktu kuliah, kapasitas tenaga, dan jumlah pesanan yang mampu ditangani.

Qorin mengakui bahwa menjalankan usaha makanan tidak sesederhana membuat produk lalu menjualnya. Ia harus membagi waktu antara kuliah, produksi, pemasaran, pengelolaan pesanan, hingga pembuatan konten promosi. Karena belum bisa berjualan setiap hari, sistem open pre-order menjadi cara yang paling memungkinkan untuk menjaga keberlanjutan usaha.

“Pembagian waktu menjadi tantangan. Karena masih kuliah dan banyak tugas, saya belum bisa jualan setiap hari. Jadi saya pakai sistem open PO di waktu yang saya senggang,” kata Qorin.

Dalam proses produksi, Qorin tidak berjalan sendiri. Ia dibantu oleh kakaknya yang memiliki latar belakang tata boga. Kolaborasi ini membuat Mari Bites memiliki dasar produksi yang lebih kuat. Qorin berperan dalam pemasaran, penjualan, dan pengembangan konsep brand, sementara proses pembuatan kue juga dibantu oleh kakaknya.

Sebelum mengembangkan Mari Bites, Qorin sempat mencoba beberapa jenis usaha, mulai dari gantungan kunci, pakaian, hingga makanan. Dari berbagai pengalaman itu, ia kemudian melihat peluang untuk membangun usaha kue bersama kakaknya. Pilihan tersebut diperkuat oleh kemampuan produksi yang dimiliki keluarga serta minat Qorin dalam membangun brand makanan yang memiliki pesan khusus.

Tantangan lain yang dihadapi Mari Bites adalah menjaga minat konsumen. Qorin menceritakan bahwa penjualan sempat meningkat pada masa awal karena banyak konsumen penasaran. Namun, setelah beberapa bulan, minat mulai menurun. Dari situ, ia belajar bahwa usaha makanan perlu terus menghadirkan variasi dan strategi promosi agar konsumen tetap tertarik.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Mari Bites tidak hanya mengandalkan cookies. Qorin juga mengembangkan variasi produk lain seperti muffin, cheesecake, pastry, dan kue lainnya secara bergantian. Meski pada P2MW 2026 fokus inovasinya diarahkan pada cookies, variasi produk tetap menjadi strategi agar pelanggan tidak merasa bosan.

“Kalau setiap minggu hanya cookies, konsumen bisa bosan. Jadi kadang saya buka PO muffin, minggu berikutnya cheesecake, lalu pastry, baru cookies lagi,” jelasnya.

Keikutsertaan Mari Bites dalam P2MW 2026 menjadi momentum penting bagi Qorin untuk memperkuat arah bisnis. Melalui pendanaan tersebut, ia ingin melakukan riset lanjutan terhadap formulasi cookies, memperbaiki kualitas produk, mengembangkan kampanye kesehatan mental, serta memperluas pemasaran digital. Ia juga mulai memikirkan sistem penjualan yang lebih stabil agar Mari Bites tidak hanya bergantung pada open pre-order.

Qorin menargetkan Mari Bites dapat berkembang lebih luas, tidak hanya di sekitar Universitas AMIKOM Yogyakarta atau wilayah Yogyakarta. Ia ingin produk ini menjangkau lebih banyak anak muda dan menjadi bagian dari kampanye positif tentang pentingnya menjaga kesehatan mental.

“Saya ingin Mari Bites berkembang lebih besar dan bisa menjangkau lebih luas, tidak hanya di Yogyakarta. Saya ingin mendukung mental anak-anak muda melalui cookies saya,” ungkap Qorin.

Melalui inovasi mental support campaign, Mari Bites menunjukkan bahwa produk makanan dapat dikembangkan dengan nilai yang lebih kuat ketika berangkat dari persoalan nyata di sekitar. Cookies tidak hanya diposisikan sebagai camilan, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan pesan dukungan, membangun kedekatan emosional, dan mendorong kesadaran anak muda terhadap kesehatan mental.

Ke depan, Mari Bites diharapkan dapat memanfaatkan pendanaan P2MW 2026 untuk memperkuat kualitas produk, memperluas pasar, serta membangun kampanye yang konsisten dan berdampak. Dengan proses riset, pengembangan produk, dan strategi komunikasi yang berkelanjutan, Mari Bites berpeluang tumbuh menjadi usaha mahasiswa yang tidak hanya menjual makanan, tetapi juga membawa pesan positif bagi konsumennya.

Informasi Lebih lanjut terkait Mari Bites, bisa diakses di: 

Instagram: https://www.instagram.com/maribitess?igsh=MXRvN2NkbDhrZXloYw==

Whatsapp: wa.me/6281227647754

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
Koresponden : Suyatmi, Qorin Kurotaaini