Raih Pendanaan P2MW, Savoir Vivre Kembangkan Sepatu Kulit Anti Bau

5 June 2026 | Berita Utama

Yogyakarta, 22 Mei 2026 — Savoir Vivre, produk sepatu kulit yang dikembangkan oleh Revalia Gita Feliska, mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta, berhasil meraih pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha atau P2MW 2026 pada Tahapan Bertumbuh. Produk ini lolos melalui proposal berjudul “Savoir Vivre: Insole Anti Bau Berbasis Serat Kelapa yang Nyaman, Sustainable, dan Eco Friendly” dalam kategori Manufaktur dan Teknologi Terapan.

Savoir Vivre hadir sebagai produk sepatu kulit yang menggabungkan ketahanan bahan, kenyamanan pemakaian, dan inovasi pada bagian insole. Gita menjelaskan bahwa produk yang dikembangkan merupakan sepatu berbahan kulit sapi dengan keunggulan utama pada insole berbasis serat kelapa. Inovasi tersebut dirancang untuk membantu menyerap keringat pada kaki sehingga sepatu tidak mudah menimbulkan bau saat digunakan.

Ide pengembangan Savoir Vivre berangkat dari pengalaman pribadi Gita. Ia melihat bahwa sepatu dengan harga terjangkau sering kali cepat menimbulkan bau, terutama saat digunakan dalam cuaca lembap atau musim hujan. Dari persoalan tersebut, ia mulai mencari alternatif bahan yang dapat membantu mengurangi masalah bau pada sepatu. Gita kemudian menemukan penggunaan serat kelapa sebagai bahan insole yang mampu menyerap keringat dan lebih praktis karena pengguna tidak perlu terlalu bergantung pada parfum sepatu.

“Awalnya saya punya permasalahan, sepatu itu kadang cepat banget bau. Setelah saya cari, ternyata ada yang menggunakan insole dari serat kelapa dan bisa menyerap keringat. Waktu saya coba, ternyata benar sepatunya jadi tidak bau,” jelas Gita.

Keunggulan Savoir Vivre tidak hanya berada pada insole serat kelapa, tetapi juga pada bahan utama sepatu. Gita memilih kulit sapi karena dinilai lebih kuat dan tahan lama. Menurutnya, kulit sapi memiliki daya tahan yang baik, tidak mudah mengelupas, dan memberi nilai lebih dari sisi kualitas produk. Dengan kombinasi kulit sapi dan insole serat kelapa, Savoir Vivre ingin menghadirkan sepatu yang nyaman, awet, dan tetap relevan untuk kebutuhan pengguna sehari-hari.

Selain dari sisi material, Savoir Vivre juga mengangkat proses produksi yang dikerjakan secara homemade. Gita menyebut bahwa proses ini membuat tim dapat lebih teliti dalam memperhatikan detail sepatu, terutama pada bagian penyambungan upper dan sol. Bagian tersebut tidak hanya dilem, tetapi juga dijahit agar sepatu lebih kuat dan tidak mudah mengelupas.

“Produksi kami homemade, jadi bisa lebih teliti. Bagian upper dan bawah sepatu benar-benar diperhatikan, dilem, dan dijahit supaya tidak mudah mengelupas,” ujar Gita.

Dari sisi harga, Savoir Vivre juga berusaha menghadirkan produk kulit yang lebih terjangkau. Gita melihat bahwa sepatu kulit sering kali memiliki harga cukup tinggi, bahkan banyak yang berada di kisaran Rp500 ribu ke atas. Sementara itu, Savoir Vivre menempatkan produknya pada harga sekitar Rp255 ribu untuk sepatu kulit, sehingga lebih dekat dengan segmen mahasiswa dan pekerja muda.

Proses pengembangan usaha ini dimulai sejak Gita berada di semester tiga. Pada awalnya, ia belum langsung fokus pada sepatu kulit, tetapi menjual sepatu kasual. Setelah melihat respons pasar dan peluang produk, ia mulai mengarahkan bisnisnya ke sepatu kulit. Salah satu alasannya adalah karena produk sepatu kulit di Yogyakarta masih belum banyak menyasar anak muda, sementara sepatu kulit memiliki potensi pemakaian jangka panjang.

Gita menilai bahwa sepatu kulit sering dipersepsikan sebagai produk yang lebih cocok untuk orang tua atau acara formal. Melalui Savoir Vivre, ia ingin mengubah persepsi tersebut dengan menghadirkan sepatu kulit yang dapat diterima oleh anak muda. Produk ini tidak hanya diarahkan untuk mahasiswa, tetapi juga pekerja hingga pengguna berusia lebih dewasa yang membutuhkan sepatu kuat dan nyaman.

Dalam menjalankan usahanya, Gita tidak berjalan sendiri. Tim Savoir Vivre terdiri atas empat orang, termasuk Gita sebagai ketua tim. Anggota tim membantu pada beberapa bagian, seperti promosi dan pencarian bahan. Saat ini, pemasaran dilakukan secara online melalui platform seperti Shopee, TikTok Shop, dan Facebook. Untuk Facebook, tim juga membuka opsi COD dengan mengantar produk langsung kepada konsumen atau bertemu di titik tertentu.

Tantangan utama yang dihadapi Gita adalah pembagian waktu. Selain kuliah, ia juga bekerja untuk mengumpulkan modal usaha. Kondisi tersebut membuatnya harus mengatur waktu antara perkuliahan, pekerjaan, pengelolaan bisnis, dan pembuatan konten promosi. Ia sering memanfaatkan sela waktu kerja untuk menyusun ide konten, kemudian merealisasikannya pada malam hari atau saat akhir pekan.

“Tantangannya lebih ke waktu. Saya harus kuliah, lalu bekerja untuk mengumpulkan modal. Jadi membagi waktunya benar-benar susah. Biasanya ide konten muncul di sela-sela kerja, lalu malamnya atau saat Sabtu-Minggu baru direalisasikan,” ungkap Gita.

Keikutsertaan Savoir Vivre dalam P2MW 2026 menjadi langkah penting untuk memperkuat pengembangan usaha. Gita mengikuti program ini setelah mendapatkan tawaran dari dosen karena produknya dinilai sesuai dengan bidang manufaktur. Ia kemudian menyusun proposal, mencari anggota tim yang memiliki minat serupa, dan melakukan validasi kepada konsumen melalui kuesioner untuk mengetahui respons terhadap penggunaan insole serat kelapa pada sepatu.

Setelah lolos pendanaan P2MW 2026, Gita ingin memanfaatkan masa pembinaan untuk memperluas promosi dan menunjukkan bahwa Savoir Vivre memiliki potensi untuk berkembang. Ia berencana mengikuti berbagai kegiatan yang dapat menjadi ruang promosi produk, sekaligus memperkuat kesiapan tim menuju tahapan penilaian berikutnya.

Ke depan, Savoir Vivre akan memperkuat promosi tidak hanya melalui Instagram dan TikTok, tetapi juga melalui website serta iklan digital. Gita juga berencana mengembangkan desain sepatu lain, mulai dari sepatu safety, boots, hingga sepatu futsal berbahan kulit. Pengembangan variasi produk tersebut dilakukan agar Savoir Vivre tidak hanya berhenti pada satu model, tetapi dapat menjangkau kebutuhan pasar yang lebih luas.

“Promosinya akan lebih dikencangkan, tidak hanya di Instagram dan TikTok, tetapi juga melalui website. Ke depan, kami juga ingin membuat desain sepatu lain, seperti sepatu safety, boots, bahkan sepatu futsal berbahan kulit,” jelas Gita.

Melalui inovasi insole serat kelapa, Savoir Vivre menunjukkan bahwa produk sepatu dapat dikembangkan dari masalah sederhana yang dekat dengan pengalaman pengguna. Persoalan bau kaki dan kenyamanan pemakaian dijawab melalui pemilihan bahan yang lebih fungsional, sementara kebutuhan daya tahan produk dijawab melalui penggunaan kulit sapi dan proses produksi yang lebih teliti.

Gita berharap Savoir Vivre semakin dikenal oleh masyarakat, memiliki pangsa pasar yang lebih luas, dan terus berkembang pada masa mendatang. Dengan pendanaan P2MW 2026, ia ingin memperkuat kualitas produk, memperluas promosi, dan membangun kepercayaan konsumen terhadap sepatu lokal yang nyaman, awet, dan memiliki nilai keberlanjutan.

Universitas AMIKOM Yogyakarta berharap pencapaian Savoir Vivre dalam P2MW 2026 dapat menjadi langkah awal untuk pengembangan usaha yang lebih matang. Melalui pendampingan dan proses pembinaan yang berkelanjutan, Savoir Vivre diharapkan mampu menunjukkan perkembangan usaha yang terukur, memperluas pasar, serta membuka peluang untuk melanjutkan perjalanan hingga KMI Expo.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
Koresponden : Suyatmi, Revalia Gita Feliska