
Nirtyanta Art Dance/NAD Universitas AMIKOM Yogyakarta meraih Juara Favorit dalam ajang Buwaca Satwika 5th yang digelar oleh UKM Seni Tari Kirana Bhaskara Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta di Auditorium Kampus 1 UAD, Minggu, 10 Mei 2026. Ajang Buwaca Satwika 5th diikuti oleh 19 tim, yang terdiri dari 12 tim kategori tari tradisional dan 7 tim kategori modern dance. Dalam kategori tari tradisional, Nirtyanta Art Dance tampil sebagai salah satu dari 12 peserta dan bersaing dengan 11 kelompok lainnya dari berbagai institusi pendidikan.
Buwaca Satwika 5th sendiri mengangkat tema “The Rhythm of Samuhita”, yang menekankan harmoni antara keberagaman gerak, jiwa, tradisi, dan modernitas. Kompetisi ini membuka dua kategori lomba, yaitu kreasi tradisi dan modern dance. Untuk kategori kreasi tradisi, peserta berasal dari pelajar SMA/SMK sederajat dan mahasiswa aktif, dengan durasi penampilan 5–10 menit.
Dalam kompetisi tersebut, NAD memilih membawakan tari Hama Mangguk. Pendamping NAD, Vidyana Arsanti, S.Si., M.Sc., menjelaskan bahwa tarian ini memiliki karakter gerak yang rancak, dinamis, dan membutuhkan ketelitian tinggi. Tarian tersebut dinilai sesuai untuk kompetisi karena mampu menonjolkan kekuatan gerak, ekspresi, variasi koreografi, serta kekompakan antarpenari.
Pemilihan Hama Mangguk juga berkaitan dengan kriteria penilaian kategori kreasi tradisi dalam petunjuk teknis Buwaca Satwika 2026. Penilaian kategori tersebut mencakup wiraga, wirasa, wirama, koreografi atau penataan tari, keunikan gerak, serta tata rias dan busana. Karena itu, selama latihan, NAD memberi perhatian besar pada bentuk gerak, kekuatan tubuh, ekspresi wajah, dan keselarasan antaranggota.
Vidya menekankan bahwa dalam tari tradisional, penari tidak cukup hanya menghafal urutan gerakan. Setiap detail harus muncul dengan jelas, mulai dari bentuk tangan, gerak pergelangan, arah tubuh, hingga ekspresi mata. Ia menyebut, gerakan yang cepat tetap harus memiliki bentuk yang tegas agar pesan tarian dapat terlihat oleh penonton maupun juri.
“Walaupun gerakannya cepat, bentuk geraknya harus jelas. Power juga harus kelihatan. Ekspresi wajah penting, bukan hanya senyum, tetapi mata juga harus bicara ketika menari,” terang Vidya.

Seleksi Internal Jadi Langkah Awal NAD
Keikutsertaan NAD dalam kompetisi ini tidak berjalan secara instan. Vidyana menjelaskan, tim terlebih dahulu melalui proses internal setelah mendapatkan informasi tentang Buwaca Satwika 5th. Karena NAD masih tergolong baru dan anggotanya berasal dari berbagai program studi, proses awal dilakukan melalui pertemuan anggota, penyampaian informasi lomba, pembukaan kesempatan bagi anggota yang ingin tampil, lalu seleksi tim.
Menurut Vidyana, minat anggota untuk mengikuti kompetisi cukup besar. Dari sekitar 25 anggota yang berminat, NAD memilih lima mahasiswa untuk tampil dalam kategori tari tradisional. Proses seleksi tidak hanya menilai kemampuan individu, tetapi juga melihat kekompakan, kesamaan rasa, kekuatan gerak, dan kesiapan anggota untuk bekerja sebagai satu tim.
“Kalau tari tim, satu orang bagus tetapi yang lain belum seimbang, hasilnya tetap belum maksimal. Karena itu, yang dicari adalah feel yang sama, power yang merata, dan kekompakan yang kuat,” jelas Vidyana.
Tim NAD yang akhirnya berkompetisi terdiri dari mahasiswa lintas program studi, yaitu Farida Dwi Prastiwi dari S1 Ekonomi, Aurelia Lusiana Putri P. dari S1 Ilmu Komunikasi, Khania Afriani dari S1 Ilmu Komunikasi, Alexander Kelviano Dea dari S1 Hubungan Internasional, dan Mohammad Syafiq dari S1 Arsitektur. Komposisi ini menunjukkan bahwa NAD menjadi ruang kolaborasi mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta yang memiliki minat pada seni tari, meskipun berasal dari latar akademik yang berbeda.
Predikat Juara Favorit yang diraih NAD juga memiliki makna tersendiri bagi tim. Vidyana menegaskan bahwa penghargaan tersebut berasal dari penilaian juri, bukan dari voting penonton. Hal ini menunjukkan bahwa apresiasi tersebut diberikan berdasarkan pengamatan juri terhadap kualitas penampilan NAD dalam kompetisi.
Pembina NAD, Isti Nur Rahmahwati, Ph.D., Ph.D juga turut memberikan apresiasinya atas pencapaian yang membanggakan dari Tim NAD yang mampu bersaing dalam ajang yang mempertemukan berbagai kelompok tari lain yang memiliki latar belakang kuat di bidang tari. Beliau juga berpesan, agar pencapaian ini bisa menjadi dorongan agar para anggota tidak cepat puas, terus berlatih, menjaga kekompakan, dan semakin percaya diri dalam mengikuti kompetisi berikutnya.
Bagi NAD, Buwaca Satwika 5th tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga pengalaman untuk membaca standar penilaian, membangun mental panggung, dan memperkuat proses latihan berikutnya. Keikutsertaan ini diharapkan dapat mendorong NAD untuk terus konsisten berlatih, memperkuat regenerasi anggota, dan menjaga semangat mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta dalam mengembangkan seni tari tradisional.
Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With : Vidyana Arsanti




