Siswa kelas VIII SMP dan kelas XI SMK API Bahrul Ulum, Kabupaten Tanggamus, Lampung, mengikuti kunjungan edukasi di Universitas AMIKOM Yogyakarta pada Jumat, 19 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung di Cinema Universitas AMIKOM Yogyakarta tersebut memberikan wawasan mengenai pendidikan tinggi, teknologi informasi, industri kreatif, pengembangan karya digital, peluang karier, dan pemanfaatan kecerdasan buatan.
Rombongan berasal dari Yayasan API Bahrul Ulum di Margodadi, Kecamatan Sumberejo. Para siswa mengikuti kegiatan bersama pimpinan yayasan, guru, dan staf pendamping sebagai bagian dari perjalanan pendidikan ke Yogyakarta.
Perwakilan Yayasan API Bahrul Ulum, Yazid Al Ghufron, menyampaikan bahwa kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi siswa dan guru untuk memperoleh pengetahuan serta mempelajari pengembangan pendidikan di Universitas AMIKOM Yogyakarta.
Ia menjelaskan bahwa SMP dan SMK API Bahrul Ulum baru berjalan sekitar dua tahun. Siswa yang mengikuti kunjungan merupakan angkatan pertama pada masing-masing jenjang sehingga sekolah masih membutuhkan banyak pengalaman dan referensi dalam mengembangkan pendidikan.
“Tujuan kami datang ke sini adalah menggali informasi sebanyak-banyaknya. Sekolah kami baru berjalan dua tahun sehingga masih perlu banyak belajar,” ujar Yazid.
Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat dibagikan kepada siswa lain di Lampung. Kunjungan tersebut juga menjadi langkah awal bagi sekolah untuk mengenalkan pilihan pendidikan dan karier kepada peserta didik.
Siswa SMK berasal dari Kompetensi Keahlian Desain Komunikasi Visual (DKV) dan Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP). Kedua bidang tersebut dapat memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan desain, media promosi, kemasan, pengolahan produk, pemasaran, dan kegiatan usaha.
Materi pertama disampaikan oleh Staf Kunjungan dan LPJ Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional Universitas AMIKOM Yogyakarta, Yusnia Andra Puspitaloka, S.Kom. Ia memperkenalkan sejarah universitas, fasilitas pembelajaran, program studi, peluang karier, beasiswa, kegiatan mahasiswa, serta ekosistem industri kreatif.
Andra menjelaskan bahwa Universitas AMIKOM Yogyakarta memulai perjalanan pada 1994 dengan 32 mahasiswa dan fasilitas terbatas. Institusi tersebut berkembang secara bertahap melalui pengelolaan sumber daya, pembangunan fasilitas, dan pengembangan kegiatan akademik.
Perjalanan tersebut disampaikan sebagai motivasi bagi siswa API Bahrul Ulum yang menjadi angkatan pertama. Keterbatasan pada tahap awal tidak seharusnya menghalangi sebuah institusi maupun individu untuk mempunyai cita-cita dan terus berkembang.
“Universitas AMIKOM Yogyakarta juga memulai perjalanan dengan jumlah mahasiswa yang masih sedikit. Kami terus belajar, berusaha, dan membuktikan bahwa keterbatasan tidak membuat kami berhenti tumbuh,” jelas Andra.
Peserta memperoleh informasi mengenai tiga fakultas dan 18 program studi di Universitas AMIKOM Yogyakarta. Bidang pendidikan yang diperkenalkan mencakup ilmu komputer, ekonomi dan sosial, serta sains dan teknologi dengan pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran.
Sejumlah fasilitas turut dikenalkan melalui pemaparan dan tayangan audiovisual, seperti laboratorium pemrograman, animasi, multimedia, robotika, sistem operasi dan jaringan, studio green screen, studio podcast, perpustakaan, dan ruang sinema.
Andra menjelaskan bahwa mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan melalui perkuliahan, praktikum, magang, kompetisi, program internasional, komunitas, serta proyek berbasis produk. Mahasiswa juga memperoleh pembelajaran kewirausahaan dan kesempatan memperkenalkan bisnis melalui kegiatan Entrepreneur Day.
Peserta kemudian dikenalkan dengan industri di lingkungan Yayasan AMIKOM Yogyakarta. Ekosistem tersebut mencakup penyiaran televisi dan radio, produksi film dan animasi, pengembangan perangkat lunak, layanan internet dan jaringan komunikasi, teknologi imersif, permainan digital, serta inkubasi perusahaan rintisan.
Bagi siswa DKV, pengenalan tersebut memberikan gambaran mengenai penerapan desain dalam animasi, permainan digital, produksi konten, periklanan, media interaktif, dan pengembangan identitas produk. Sementara itu, siswa APHP dapat melihat pemanfaatan teknologi untuk pemetaan lahan, pengolahan hasil pertanian, pembiayaan, pemasaran, dan distribusi produk.
Andra turut memperkenalkan sejumlah karya dan inovasi, antara lain video imersif, simulator alat berat, permainan berbasis realitas virtual, platform digital pertanian, robot sterilisasi lantai masjid, perangkat bantu bagi penyandang disabilitas, serta teknologi interaktif untuk museum.
Peserta juga memperoleh informasi mengenai film animasi Battle of Surabaya. Film tersebut mengangkat peristiwa 10 November melalui sudut pandang Musa, seorang penyemir sepatu yang menjadi kurir pada masa perjuangan.
Pengembangan film dilanjutkan melalui festival nasional dan internasional serta berbagai produk turunan, seperti pakaian, buku, aksesori, dan cendera mata. Penjelasan tersebut memberikan gambaran bahwa kekayaan intelektual dapat dikembangkan menjadi produk kreatif yang mempunyai nilai ekonomi.
Selain Battle of Surabaya, peserta menyaksikan trailer animasi tiga dimensi Ajisaka. Karya tersebut menjadi contoh pemanfaatan teknologi animasi untuk mengembangkan cerita yang berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan Jawa.
Materi berikutnya disampaikan oleh Ketua Program Studi Teknologi Informasi Universitas AMIKOM Yogyakarta, Agus Purwanto, M.Kom. Ia menjelaskan proses pendidikan, bidang peminatan, pembelajaran berbasis praktik, pengembangan portofolio, peluang kerja, dan perubahan industri kreatif digital.
Agus memperkenalkan empat bidang peminatan dalam Program Studi Teknologi Informasi, yaitu animasi dua dimensi, animasi tiga dimensi, pengembangan permainan digital, dan efek visual. Mahasiswa memperoleh materi dasar sebelum menentukan bidang yang ingin didalami.
Pembelajaran mencakup ilustrasi, seni konsep, lukisan digital, grafis multimedia, videografi, animasi dasar, pemodelan tiga dimensi, simulasi, pemrograman permainan, dan penggabungan gambar nyata dengan elemen digital.
Agus menjelaskan bahwa pembelajaran memberikan porsi besar pada kegiatan praktikum. Mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep, tetapi juga menggunakan perangkat dan perangkat lunak untuk menghasilkan karya sesuai standar kebutuhan industri.
Produk mahasiswa kemudian dipamerkan kepada masyarakat melalui kegiatan pameran. Karya yang dikembangkan dapat berupa animasi, permainan digital, film pendek, efek visual, ilustrasi, dan berbagai bentuk media interaktif.
Mahasiswa juga mempunyai kesempatan menempuh tugas akhir melalui jalur nonreguler dengan mengembangkan produk yang telah dibuat. Hasil tersebut dilengkapi dengan laporan akademik sebagai bagian dari penyelesaian pendidikan.
Menurut Agus, kemampuan kreatif digital dapat diterapkan pada berbagai bidang. Lulusan dapat bekerja di perusahaan, menjadi pekerja lepas, membangun rumah produksi, mengembangkan kekayaan intelektual, maupun menghasilkan konten melalui platform digital.
Ia menambahkan bahwa industri animasi tidak hanya memperoleh nilai dari penayangan film. Cerita dan karakter dapat dikembangkan menjadi produk turunan, konten berseri, permainan, kegiatan pariwisata, dan berbagai bentuk pemanfaatan lainnya.
Pembahasan turut menyoroti penggunaan kecerdasan buatan dalam proses kreatif. Agus mengingatkan bahwa teknologi tersebut perlu digunakan sebagai alat bantu dengan tetap memperhatikan etika, kepemilikan karya, dan peran manusia dalam menentukan gagasan.
“Kita tidak hanya perlu mampu menggunakan kecerdasan buatan. Akal dan nurani tetap dibutuhkan agar teknologi tersebut digunakan secara tepat, etis, dan bertanggung jawab,” jelas Agus.
Ia menekankan bahwa teknologi, fasilitas, dan materi pembelajaran tidak akan menghasilkan karya tanpa kemauan dari penggunanya. Kreativitas, ketekunan, kemampuan belajar, dan keberanian mengembangkan gagasan tetap menjadi unsur utama.
“Kunci dari seluruh teknologi dan materi yang tersedia tetap berada pada pembuatnya. Masa depan industri akan ditentukan oleh kesiapan teman-teman untuk belajar dan berkarya,” ujar Agus.
Kegiatan diakhiri dengan penyerahan cendera mata dan foto bersama antara Universitas AMIKOM Yogyakarta dengan SMP dan SMK API Bahrul Ulum. Rombongan kemudian mengikuti pengenalan lingkungan kampus serta ekosistem industri di Universitas AMIKOM Yogyakarta.
Kunjungan tersebut diharapkan membantu siswa API Bahrul Ulum memperluas wawasan mengenai pendidikan tinggi, teknologi informasi, dan industri kreatif sekaligus mendorong mereka membangun keterampilan, portofolio, serta kesiapan menghadapi perkembangan dunia kerja.
Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional




