Raih Pendanaan P2MW, BATIKLY Angkat Batik Modern Motif Sleman Nawasena

5 June 2026 | Berita Utama

Yogyakarta, 22 Mei 2026 — BATIKLY, produk batik modern yang dikembangkan oleh tim mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta dengan Ketua Tim Aditya Bayu Hidayat, berhasil meraih pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha atau P2MW 2026 pada Tahapan Awal. Produk ini lolos melalui proposal berjudul “BATIKLY: Inovasi Batik Modern Motif Sleman Nawasena Berbasis Nilai Budaya untuk Meningkatkan Daya Saing Fashion Lokal” dalam kategori Industri Kreatif, Seni, dan Budaya.

BATIKLY hadir sebagai upaya mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta untuk mengembangkan produk batik yang tetap menjaga nilai tradisi, tetapi dikemas dengan pendekatan yang lebih modern. Dalam wawancara, Aditya menjelaskan bahwa BATIKLY tidak diarahkan sebagai batik printing atau produk batik yang mudah dijumpai di pasar, melainkan batik original yang dibuat menggunakan teknik tradisional seperti batik cap, batik tulis, dan kombinasi cap-tulis.

Keunggulan BATIKLY terletak pada upaya menghubungkan batik tradisional dengan selera generasi muda. Menurut Aditya, selama ini batik masih sering dipandang sebagai pakaian yang kaku, formal, atau identik dengan acara resmi. Melalui BATIKLY, tim ingin menghadirkan batik yang tetap memiliki nilai budaya, tetapi dapat digunakan secara lebih santai dan relevan untuk kegiatan sehari-hari.

“Biasanya batik itu dipandang untuk acara formal, seperti wedding atau acara resmi. Kami ingin mengusung batik yang bisa digunakan setiap hari dan bisa dipakai kalangan muda secara lebih santai,” jelas Aditya.

Inovasi BATIKLY juga terlihat dari motif dan warna yang dikembangkan. Tim mengangkat motif Sleman Nawasena sebagai identitas budaya lokal yang ingin diperkenalkan melalui produk fashion. Dari sisi visual, BATIKLY berupaya keluar dari warna-warna batik yang cenderung tradisional, seperti cokelat atau warna klasik, dengan menghadirkan pilihan warna yang lebih berani, termasuk kombinasi warna biru dan kuning.

Bagi tim BATIKLY, warna dan motif menjadi bagian penting untuk memperluas daya tarik batik. Mereka ingin menunjukkan bahwa batik tidak harus selalu tampil dengan kesan lama atau hanya cocok untuk generasi tertentu. Dengan pendekatan desain yang lebih berani, BATIKLY mencoba menjadikan batik sebagai produk fashion lokal yang dapat diterima oleh berbagai kalangan.

Proses lahirnya BATIKLY berawal dari pembentukan tim yang difasilitasi oleh Suyatmi. Dari proses tersebut, lima mahasiswa kemudian berinisiatif membuat usaha berbasis batik. Salah satu anggota tim memiliki latar belakang keluarga yang bergerak dalam bisnis batik, sehingga tim melihat peluang untuk membangun produk sendiri dengan identitas dan merek yang lebih modern.

“Karena salah satu anggota kelompok kami mempunyai bisnis keluarga batik, kami mengambil inisiatif untuk membuat produk sendiri dan brand sendiri, tetapi disentuh dengan konsep modern agar bisa menggaet semua kalangan,” ungkap Aditya.

Dalam pengembangan desain, tim BATIKLY juga memanfaatkan teknologi untuk membantu mematangkan motif. Proses awal dilakukan dengan menggambar desain terlebih dahulu, kemudian disempurnakan menggunakan bantuan AI. Setelah itu, tim melakukan evaluasi untuk melihat bagian mana yang perlu disesuaikan, dihapus, atau diperbaiki agar motif yang dihasilkan lebih siap dikembangkan menjadi produk.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu kekuatan BATIKLY karena menggabungkan unsur tradisi dan teknologi. Di satu sisi, produk tetap mengutamakan teknik pembuatan batik tradisional. Di sisi lain, proses perancangan motif mulai memanfaatkan teknologi digital untuk membantu memperkuat visual dan efisiensi pengembangan ide. Dengan cara ini, BATIKLY mencoba menjaga nilai budaya sekaligus menyesuaikannya dengan perkembangan industri kreatif.

Perjalanan BATIKLY dalam P2MW 2026 juga tidak lepas dari proses yang cukup singkat dan padat. Aditya menjelaskan bahwa setelah masa libur semester, tim langsung mendapatkan pendampingan dalam penyusunan proposal. Dalam waktu sekitar satu bulan, tim berdiskusi, menyusun konsep, mengejar target, dan mematangkan proposal agar siap diajukan dalam program P2MW.

Tantangan utama BATIKLY berada pada tahap awal pengembangan usaha. Karena masih berada pada Tahapan Awal, produk BATIKLY masih dalam proses pematangan, mulai dari pengembangan motif, perencanaan produksi, hingga strategi pemasaran. Aditya menyebut bahwa akses pembelian sementara masih dapat diarahkan melalui WhatsApp, sementara produk asli BATIKLY masih dalam tahap dimunculkan dan dikembangkan sesuai proposal.

Selain tantangan produksi, BATIKLY juga harus menyiapkan strategi pemasaran yang sesuai dengan target konsumennya. Tim melihat pemasaran digital sebagai jalur penting untuk menjangkau pasar yang lebih luas, terutama anak muda. Karena produk batik sangat bergantung pada tampilan visual, BATIKLY perlu memperkuat foto produk, display motif, media sosial, serta materi promosi yang mampu menonjolkan karakter desainnya.

Keikutsertaan dalam P2MW 2026 menjadi momentum bagi BATIKLY untuk mengubah gagasan menjadi usaha yang lebih terarah. Pendanaan yang diperoleh tidak hanya menjadi dukungan awal, tetapi juga membawa tanggung jawab bagi tim untuk menjalankan rencana usaha, mengikuti pendampingan, menyusun laporan, dan menunjukkan perkembangan produk selama masa pelaksanaan program.

Bagi Aditya, P2MW bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga ruang untuk belajar menjalankan bisnis secara serius. Ia menilai bahwa usaha tidak boleh berhenti ketika program selesai. Karena itu, tim BATIKLY ingin menjadikan produk ini sebagai usaha yang berkelanjutan dan memiliki peluang ekonomi bagi anggota tim.

“Kami berharap usaha ini bisa berkelanjutan dan menjadi bisnis bersama yang menguntungkan,” ujar Aditya.

Ke depan, BATIKLY menargetkan penguatan produk, pematangan motif, pengembangan pemasaran digital, serta perluasan akses penjualan. Tim juga ingin menyiapkan materi visual yang lebih kuat, karena batik sebagai produk fashion membutuhkan tampilan yang menarik agar nilai motif, warna, dan proses pembuatannya dapat tersampaikan dengan baik kepada calon konsumen.

Aditya juga menyampaikan pesan bagi mahasiswa lain yang ingin memulai langkah dalam kompetisi maupun bisnis. Menurutnya, keberanian mengambil kesempatan menjadi hal penting, terutama bagi mahasiswa yang masih ragu untuk memulai.

“Ambillah peran itu sebelum orang lain mengambil peran,” pesannya.

Melalui BATIKLY, mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta menunjukkan bahwa inovasi dalam industri kreatif dapat lahir dari perpaduan budaya lokal, teknologi, dan keberanian membaca peluang pasar. Dengan membawa motif Sleman Nawasena, teknik batik tradisional, warna yang lebih berani, dan strategi pemasaran digital, BATIKLY diharapkan mampu tumbuh sebagai produk fashion lokal yang tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga relevan bagi generasi muda.

Ke depan, Universitas AMIKOM Yogyakarta berharap BATIKLY dapat memanfaatkan pendanaan P2MW 2026 untuk memperkuat kualitas produk, memperjelas identitas merek, dan membangun pasar secara berkelanjutan. Dengan proses pendampingan dan pengembangan yang konsisten, BATIKLY diharapkan dapat menunjukkan perkembangan terbaik dalam rangkaian P2MW 2026 serta membuka peluang menuju KMI Expo.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
Koresponden : Suyatmi, Aditya Bayu Hidayat