
Sumbawa, 20 Mei 2026 — Tim konsorsium riset Sumbawa Digital Ranch yang dipimpin oleh Prof. Dr. Kusrini, M.Kom., Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas AMIKOM Yogyakarta, melakukan survei lapangan dan Focus Group Discussion (FGD) di Kabupaten Sumbawa untuk memetakan kebutuhan peternak dalam pengembangan sistem peternakan sapi umbaran berbasis Artificial Intelligence dan Internet of Things (AI-IoT).
Kegiatan ini menjadi bagian dari program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak (RIKUB) yang didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dalam program tersebut, Universitas AMIKOM Yogyakarta berperan sebagai ketua konsorsium bersama Universitas Teknologi Sumbawa, ITB STIKOM Bali, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sumbawa, serta mitra dunia usaha CV Mataram Karya.
Sebelum pelaksanaan FGD, tim peneliti terlebih dahulu melakukan survei lapangan pada 19 Mei 2026. Survei tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi lar atau padang penggembalaan, karakteristik lahan, jumlah ternak, pola pengelolaan sapi, serta kebutuhan peternak di lapangan. Prof. Kusrini menjelaskan bahwa observasi ini penting agar teknologi yang dikembangkan tidak hanya kuat secara konsep, tetapi benar-benar sesuai dengan kondisi peternakan sapi umbaran di Sumbawa.
Dalam survei tersebut, tim meninjau kawasan peternakan seperti Lar Sebasang dan lokasi peternakan binaan Dinas. Tim mengamati bagaimana peternak mengelola sapi yang dilepas di area penggembalaan luas, termasuk relasi yang dekat antara peternak dan ternaknya. Temuan lapangan ini menjadi salah satu dasar penting dalam merancang teknologi yang adaptif terhadap karakter sapi umbaran.
Selain observasi, tim juga melakukan pengujian awal teknologi komunikasi LoRa. Teknologi ini disiapkan untuk menghubungkan perangkat yang nantinya dipasang pada sapi dengan sistem pusat. Dalam rancangan Sumbawa Digital Ranch, sapi akan menggunakan smart collar yang dilengkapi GPS, sensor suhu, dan sensor gerak untuk membaca posisi, kondisi, serta aktivitas ternak.
Prof. Kusrini menjelaskan bahwa pengujian LoRa dilakukan untuk mengetahui sejauh mana perangkat dapat menjangkau area penggembalaan yang luas. Data dari smart collar nantinya akan dikirim ke server dan ditampilkan dalam dashboard yang dapat diakses oleh peternak, dinas, calon pembeli, hingga investor. Sistem ini diharapkan dapat membantu mendeteksi kondisi tidak normal, seperti sapi keluar dari kelompok, tidak bergerak dalam waktu tertentu, berpotensi sakit, atau berisiko hilang.
“Teknologi yang dikembangkan harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dapat diterapkan di lapangan,” jelas Prof. Kusrini.

Setelah survei lapangan, tim melanjutkan agenda FGD bertema “Sumbawa Digital Ranch: Sistem Peternakan Sapi Umbaran Berbasis AI-IoT dengan Integrasi Marketplace Investasi Ternak Digital dan Smart Livestock Tourism” di Aula Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sumbawa. Kegiatan ini menghadirkan unsur Dinas, peternak, dokter hewan, akademisi, dosen dan mahasiswa bidang peternakan, serta tim konsorsium riset.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sumbawa, Saifuddin, S.P., dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa Kabupaten Sumbawa memiliki potensi besar di sektor peternakan. Populasi sapi di Sumbawa disebut mencapai sekitar 317.000 ekor, sehingga potensi tersebut perlu dikelola melalui inovasi dan teknologi agar memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Dalam FGD, peserta mendiskusikan kebutuhan teknis dari berbagai sudut pandang. Dari sisi dokter hewan, pembahasan diarahkan pada variabel yang diperlukan untuk mengidentifikasi kondisi kesehatan ternak. Dari sisi peternak, diskusi menyentuh kebutuhan pemantauan sapi di area penggembalaan, deteksi ternak yang keluar dari kerumunan, hingga cara mengetahui sapi yang sakit atau tidak bergerak dalam waktu tertentu.
FGD juga membahas pengembangan dashboard marketplace untuk membantu memperluas akses pasar bagi peternak. Salah satu persoalan yang muncul adalah harga jual sapi di tingkat peternak yang masih rendah karena keterbatasan akses pasar dan ketergantungan pada rantai distribusi konvensional. Melalui marketplace, pembeli dari luar daerah diharapkan dapat terhubung lebih langsung dengan peternak.
Selain jual beli ternak, diskusi juga mencakup potensi produk turunan seperti daging dan susu, integrasi data dengan sistem SiJinak dan iSIKHNAS, serta prosedur kesehatan hewan yang harus dipenuhi sebelum ternak keluar daerah. Dengan demikian, sistem yang dikembangkan tidak hanya memantau sapi, tetapi juga mendukung tata kelola rantai pasok ternak yang lebih tertib dan transparan.
Konsep livestock tourism atau wisata berbasis peternakan turut menjadi perhatian dalam FGD. Melalui konsep ini, peternakan sapi umbaran tidak hanya dipandang sebagai aktivitas produksi, tetapi juga sebagai potensi wisata edukatif yang dapat memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat Sumbawa. Sistem ini juga akan dikembangkan dengan platform investasi ternak digital agar masyarakat dari luar daerah dapat berpartisipasi dalam pengembangan peternakan secara lebih modern dan transparan.
Prof. Kusrini menegaskan bahwa masukan dari survei lapangan dan FGD akan menjadi bahan penting dalam penyempurnaan prototipe. Tim konsorsium menargetkan dapat kembali ke Sumbawa pada November dengan membawa prototipe yang telah disesuaikan dengan kebutuhan peternak dan kondisi lapangan.
Melalui survei lapangan dan FGD ini, Universitas AMIKOM Yogyakarta bersama mitra konsorsium berupaya memastikan bahwa Sumbawa Digital Ranch tidak hanya menjadi riset berbasis teknologi, tetapi juga solusi yang lahir dari kebutuhan nyata masyarakat. Program ini diharapkan dapat mendukung modernisasi peternakan rakyat, memperluas akses pasar, membuka peluang investasi, serta memperkuat posisi Sumbawa sebagai salah satu daerah unggulan peternakan nasional berbasis teknologi.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With : Kusrini




