Mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta Juara 2 Garuda Hacks 7.0

28 July 2026 | Berita Utama

Empat mahasiswa Program Studi Informatika Universitas AMIKOM Yogyakarta, yakni Muhammad Davin Al Hisyam, Muhammad Dekhsa Afnan, Ulil Absor, dan Faris Andi Muhammad, berhasil meraih Juara 2 kategori Health Track dalam ajang Garuda Hacks 7.0. Prestasi tersebut mereka raih melalui pengembangan platform “Kita Jaga” pada kompetisi teknologi tingkat nasional yang berlangsung secara luring pada 16–18 Juli 2026 di Kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang, Banten.

Garuda Hacks 7.0 mempertemukan 568 talenta digital muda dari berbagai perguruan tinggi. Para peserta yang terdiri atas pengembang, desainer, dan inovator mendapat tantangan untuk mengembangkan solusi berbasis teknologi dalam waktu 30 jam.

Kompetisi tersebut menghadirkan tiga kategori utama, yaitu Health, Safety, serta Agriculture and Food. Tim mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta memilih Health Track dengan mengangkat persoalan keterbatasan waktu keluarga dalam mendampingi orang tua atau anggota keluarga yang membutuhkan layanan kesehatan.

Kita Jaga Hubungkan Keluarga dengan Caregiver

Tim mengembangkan “Kita Jaga” sebagai platform digital berbasis web yang menghubungkan keluarga pasien dengan caregiver profesional maupun nonprofesional. Gagasan tersebut berangkat dari kondisi sebagian masyarakat yang harus membagi waktu antara pekerjaan, kehidupan pribadi, dan tanggung jawab mendampingi anggota keluarga.

Ulil Absor menjelaskan bahwa keterbatasan waktu sering membuat seseorang menghadapi pilihan sulit, seperti tetap menjalankan pekerjaan atau menemani orang tua menjalani pemeriksaan kesehatan. Melalui “Kita Jaga”, tim berupaya menghadirkan pilihan layanan pendampingan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan keluarga.

“Kita Jaga merupakan platform yang menghubungkan keluarga pasien dengan caregiver profesional maupun nonprofesional. Platform ini dapat membantu keluarga yang membutuhkan seseorang untuk menjaga atau menemani anggota keluarganya, tetapi belum memiliki cukup waktu,” ujar Ulil.

Dalam konsep yang dikembangkan tim, caregiver nonprofesional dapat berasal dari mahasiswa atau masyarakat yang memiliki waktu untuk memberikan layanan pendampingan. Tim melihat adanya kebutuhan di satu sisi dan sumber daya manusia yang dapat memberikan bantuan di sisi lainnya.

Pengguna dapat mendaftarkan data anggota keluarga yang membutuhkan pendampingan melalui aplikasi. Selanjutnya, pengguna dapat memesan caregiver secara langsung atau menjadwalkan layanan sesuai waktu yang dibutuhkan. Sistem kemudian mencocokkan permintaan pengguna dengan caregiver yang tersedia.

Setelah menerima permintaan, caregiver memperoleh informasi dan panduan mengenai kebutuhan anggota keluarga yang akan didampingi. Setiap kegiatan selama proses pendampingan juga didokumentasikan melalui foto. Pengguna kemudian dapat memperoleh dokumentasi aktivitas serta laporan hasil pemeriksaan kesehatan anggota keluarganya.

Ulil mengatakan bahwa gagasan “Kita Jaga” muncul dari diskusi bersama anggota tim dan dosen pembimbing sebelum kompetisi berlangsung. Tim menyiapkan ide lebih awal agar dapat menentukan masalah yang ingin diselesaikan serta memilih kategori kompetisi yang sesuai.

“Gagasannya berangkat dari keinginan untuk mempertemukan sumber daya manusia dengan kebutuhan yang ada. Di satu sisi terdapat keluarga yang membutuhkan bantuan, sedangkan di sisi lain ada orang yang dapat memberikan layanan pendampingan,” jelasnya.

Membagi Peran dalam Waktu 30 Jam

Tim Universitas AMIKOM Yogyakarta terdiri atas empat anggota dengan pembagian tugas berdasarkan kemampuan masing-masing. Dua anggota berfokus pada pengembangan aplikasi, sedangkan dua anggota lainnya menangani pengembangan produk, pengelolaan proyek, dan persiapan presentasi. Dalam pembagian tersebut, Ulil bertanggung jawab pada pengembangan front-end atau tampilan aplikasi yang berinteraksi langsung dengan pengguna.

Pembagian peran menjadi bagian penting karena tim hanya memiliki waktu 30 jam untuk mengembangkan produk. Selain menyelesaikan fungsi utama aplikasi, mereka harus menyiapkan demonstrasi produk, materi presentasi, dan jawaban atas pertanyaan juri.

Ulil mengakui bahwa keterbatasan waktu menjadi tantangan utama selama kompetisi. Tim bahkan sempat merasa produk yang dikembangkan belum siap. Namun, mereka telah menyiapkan beberapa tahapan pengerjaan serta rencana alternatif sebelum memasuki proses pengembangan.

“Ketika ada target yang tidak dapat kami penuhi, kami langsung mengubah fokus dan mengurangi bagian yang belum menjadi prioritas. Tantangannya adalah menentukan alur agar produk dapat diselesaikan secara efisien dan cepat,” ungkap Ulil.

Setelah menyelesaikan tahap pengembangan, tim mengikuti sesi pitching. Dalam sesi tersebut, peserta harus menjelaskan masalah yang mereka angkat, solusi yang ditawarkan, serta mendemonstrasikan produk dalam waktu terbatas.

Tim tidak hanya menampilkan cara kerja aplikasi, tetapi juga menekankan relevansi masalah yang mereka angkat dengan kehidupan masyarakat. Kesibukan pekerjaan dapat membuat seseorang tidak memiliki cukup waktu untuk mendampingi orang tua atau anggota keluarga yang membutuhkan perhatian.

Menurut Ulil, pendekatan tersebut membantu tim menyampaikan manfaat “Kita Jaga” secara lebih jelas kepada juri. Tim berupaya menunjukkan bahwa teknologi yang mereka kembangkan tidak hanya berfungsi secara teknis, tetapi juga menawarkan solusi atas kebutuhan yang dekat dengan kehidupan keluarga.

Pembelajaran dari Belasan Kompetisi

Capaian pada Garuda Hacks 7.0 menjadi penghargaan pertama yang diperoleh Ulil setelah mengikuti belasan kompetisi sejak semester awal perkuliahan. Berbagai pengalaman tersebut membentuk pemahamannya mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan produk untuk kompetisi teknologi.

Ulil mengungkapkan bahwa sebelumnya ia lebih banyak berfokus pada aspek teknis dan kualitas kode. Melalui Garuda Hacks 7.0, ia memahami bahwa juri juga mempertimbangkan kemampuan produk dalam menyelesaikan masalah, memberikan manfaat, dan menyampaikan gagasan secara jelas.

“Selama ini saya terlalu fokus memikirkan teknis produknya, seperti bagaimana bentuk kodenya. Padahal, yang lebih penting adalah sejauh mana produk tersebut dapat menjadi solusi, seberapa bermanfaat produknya, dan bagaimana kami menyampaikannya kepada juri,” tuturnya.

Pengalaman tersebut mendorong Ulil dan tim untuk tidak berhenti pada hasil kompetisi. Mereka berencana menyelesaikan dan menyempurnakan “Kita Jaga” hingga dapat menjadi produk yang berfungsi secara lebih utuh. Tim juga membuka peluang untuk mengembangkan gagasan lain berdasarkan pengalaman yang mereka peroleh selama kompetisi.

Ulil turut mendorong mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta agar berani mengikuti kompetisi setelah memiliki kemampuan dasar. Menurutnya, menunggu hingga merasa sepenuhnya siap justru dapat menghambat seseorang untuk mulai mencoba.

“Kalau kita menunggu siap, kita tidak akan pernah benar-benar siap. Dalam kompetisi, kalau menang kita mendapat hadiah, sedangkan kalau kalah kita tetap mendapat pembelajaran,” pesannya.

Prestasi Muhammad Davin Al Hisyam, Muhammad Dekhsa Afnan, Ulil Absor, dan Faris Andi Muhammad dalam Garuda Hacks 7.0 diharapkan dapat mendorong mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta untuk terus mengembangkan kemampuan, memperkuat kerja sama, dan menghasilkan solusi teknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Terselenggaranya kompetisi ini juga diharapkan terus membuka ruang bagi mahasiswa untuk menguji gagasan, mengevaluasi kemampuan, serta memperluas pengalaman dalam pengembangan inovasi digital.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
Koresponden : Ulil Absor