Dosen Universitas AMIKOM Yogyakarta meraih 18 pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada Tahun Anggaran 2026. Dari jumlah tersebut, salah satu proposal yang memperoleh pendanaan berasal dari Erfina Nurussa’adah, S.Kom.I., M.I.Kom. Dalam artikel khusus ini, @amikomjogja mengangkat proposal beliau yang memperoleh pendanaan pada Program Fundamental Reguler, yakni:
Perancangan model literasi digital sebagai upaya menjembatani kesenjangan digital lansia di Indonesia
Proposal ini berfokus pada penyusunan model literasi digital yang lebih tepat sasaran bagi lansia, di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat namun belum diimbangi dengan kemampuan literasi digital kelompok usia lanjut. Penelitian ini menyoroti bahwa lansia kini ikut masuk ke dalam ekosistem digital, tetapi sering kali belum memiliki kesiapan yang cukup untuk menghadapi hoaks, disinformasi, penipuan, hingga berbagai risiko keamanan digital lainnya.
Erfina menjelaskan bahwa proposal ini berangkat dari kegelisahan terhadap posisi lansia dalam perkembangan teknologi digital di Indonesia. Menurutnya, teknologi selama ini kerap diasosiasikan dengan anak muda, padahal lansia juga ikut terdorong untuk menggunakan berbagai perangkat dan aplikasi digital dalam kehidupan sehari-hari. Namun, keterlibatan itu tidak selalu dibarengi dengan kemampuan memahami risiko dan cara penggunaan yang aman.
“Perkembangan teknologi ini tidak diimbangi dengan kemampuan literasi digital yang mereka ketahui,” ujarnya saat menjelaskan urgensi penelitian tersebut.
Di Proposal ini, Erfina merancang model yang disusun untuk memetakan faktor-faktor yang memengaruhi literasi digital lansia, sekaligus menawarkan arah kebijakan yang lebih relevan bagi pemerintah. Dalam rancangan model itu, Erfina menempatkan beberapa dimensi penting, mulai dari material access, digital motivation, digital skill, digital ethics, digital safety, hingga satisfaction atau manfaat penggunaan teknologi bagi lansia. Dengan kata lain, proposal ini berusaha menjelaskan bahwa literasi digital lansia bukan hanya soal bisa menggunakan gawai, tetapi juga soal bagaimana lansia memahami etika, keamanan, risiko, dan manfaat teknologi secara utuh.
Namun, yang paling menonjol dari proposal ini adalah temuan arah model yang menempatkan support and monitoring dari caregiver atau keluarga sebagai pusat. Erfina menilai bahwa selama ini banyak program literasi digital untuk lansia tidak tepat sasaran karena langsung menargetkan lansia sebagai peserta utama. Padahal, menurut hasil riset awalnya, lansia cenderung mudah lupa, kurang termotivasi untuk mempelajari teknologi secara mendalam, dan membutuhkan pendampingan yang konsisten. Dari situlah ia merancang model yang menempatkan caregiver, keluarga, atau orang terdekat sebagai aktor kunci dalam menjembatani kesenjangan digital lansia.
“Ternyata semua itu tetap berujung kepada support dan motivasi dari si caregiver family,” jelasnya.
Proposal ini juga menjadi menarik karena dibangun di atas data lapangan yang cukup luas. Erfina menyebut penelitiannya melibatkan 629 responden yang tersebar di enam wilayah, yaitu Sleman, Kota Yogyakarta, Magelang, Klaten, Bandung, dan Cirebon. Wilayah tersebut dipilih bukan secara acak biasa, tetapi berdasarkan pertimbangan statistik literasi digital agar dapat mewakili variasi kondisi kota, semi perkotaan, dan kabupaten. Dengan pendekatan itu, proposal ini tidak hanya membahas lansia secara umum, tetapi juga berupaya melihat bagaimana kesenjangan digital muncul berbeda-beda di tiap wilayah.
Dalam penjelasannya, Erfina juga menunjukkan berbagai contoh konkret yang memperlihatkan kerentanan lansia di ruang digital. Ada lansia yang dapat menggunakan YouTube dan TikTok, tetapi tidak menguasai keterampilan dasar seperti mengetik pesan dengan baik. Ada pula yang telah memakai mobile banking atau e-commerce, tetapi tidak memahami risiko di balik penggunaannya. Bahkan, menurutnya, banyak lansia masih mudah membagikan informasi tanpa verifikasi, menyimpan kata sandi secara sembarangan, atau memperlihatkan data pribadi kepada orang lain. Situasi inilah yang memperkuat argumen bahwa literasi digital lansia membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan kelompok usia produktif.
Erfina menegaskan bahwa nilai penting proposal ini terletak pada rekomendasi strategis yang akan dihasilkan. Dari model yang dirancang, ia ingin memberi masukan kepada pemerintah bahwa peningkatan literasi digital lansia tidak cukup dilakukan dengan pelatihan langsung kepada lansia saja. Menurutnya, kebijakan harus digeser ke arah penguatan caregiver sebagai pendamping aktif. Dengan demikian, proposal ini tidak hanya menawarkan analisis, tetapi juga perubahan sudut pandang dalam penyusunan program literasi digital nasional.
Dari sisi pengembangan, penelitian ini juga tidak berhenti pada satu tahap. Erfina menjelaskan bahwa proposal ini merupakan penelitian tahun kedua. Pada tahap lanjutan, analisis akan diperdalam dengan melihat karakter tiap wilayah secara lebih rinci, termasuk membandingkan bentuk kesenjangan digital di kota, wilayah semi-perkotaan, dan kabupaten. Dari sana, rekomendasi strategis yang dihasilkan diharapkan menjadi lebih spesifik dan lebih relevan bagi kebutuhan kebijakan di setiap wilayah. Bahkan ke depan, model ini juga berpotensi dikembangkan menjadi sistem pemetaan lansia dan caregiver di Indonesia.
Dalam pengembangannya, proposal ini juga dibangun secara kolaboratif. Erfina menggandeng peneliti dari bidang komunikasi dan informatika agar model yang dihasilkan tidak hanya kuat dari sisi teori komunikasi, tetapi juga didukung pengolahan data dan analisis kuantitatif yang memadai. Kolaborasi ini penting karena penelitian tentang literasi digital lansia tidak cukup dibaca hanya dari satu sudut pandang. Dibutuhkan perspektif komunikasi untuk membaca perilaku, motivasi, dan etika, sekaligus perspektif teknologi untuk mendukung analisis model dan data kuantitatif yang lebih luas.
“Kita juga perlu perspektif berpikir dari berbagai macam pihak, sehingga proposal itu akan terlihat logika berpikirnya. Dengan banyak orang yang memberikan perspektif dalam satu proposal, itu jauh lebih kuat,” jelasnya.
Keberhasilan proposal ini memperoleh pendanaan menunjukkan bahwa penelitian sosial memiliki peran penting dalam menjawab tantangan digital di masyarakat. Melalui perancangan model literasi digital untuk menjembatani kesenjangan digital lansia di Indonesia, Erfina memperlihatkan bahwa persoalan transformasi digital tidak cukup dijawab dengan perluasan akses teknologi saja, tetapi juga membutuhkan pemahaman tentang siapa yang mendampingi, bagaimana lansia belajar, dan kebijakan seperti apa yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka. Hal ini menegaskan satu hal penting: penelitian yang baik tidak hanya membaca masalah, tetapi juga mampu menunjukkan ke mana arah solusi perlu dibangun.
Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With : Erfina Nurussa’adah




