
Yogyakarta, 18 Juni 2026 — Universitas AMIKOM Yogyakarta menggelar kegiatan Penyamaan Persepsi Instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi (IAPT 4.1) di Ruang Citra 1 Universitas AMIKOM Yogyakarta. Agenda ini menghadirkan Prof. Slamet Wahyudi, Anggota Dewan Eksekutif Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) sekaligus Guru Besar Teknik Mesin Universitas Brawijaya, untuk memberikan pemahaman tentang instrumen akreditasi perguruan tinggi terbaru yang mengacu pada Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025 dan SAPTO 2.0.
Kegiatan ini diikuti jajaran pimpinan Universitas AMIKOM Yogyakarta, mulai dari wakil rektor, dekan, ketua program studi, hingga pengelola mutu di lingkungan kampus. Forum ini menjadi ruang bersama untuk menyamakan pemahaman terkait arah baru akreditasi perguruan tinggi, penguatan budaya mutu, serta kesiapan data kelembagaan dalam menghadapi sistem akreditasi yang semakin terintegrasi.
Dalam sambutannya, Hanif Al Fatta, M.Kom., Ph.D., Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas AMIKOM Yogyakarta, menyampaikan bahwa pencapaian akreditasi perlu dilihat sebagai tanggung jawab berkelanjutan. Menurutnya, akreditasi bukan hanya status administratif, tetapi bagian dari komitmen institusi untuk terus meningkatkan standar dan layanan pendidikan.
“Akreditasi bukan semacam stempel yang membuat kita berhenti. Kita harus segera merapikan barisan, meningkatkan standar, dan meningkatkan layanan,” ujarnya.
Melalui materi yang disampaikan, Prof. Slamet Wahyudi menjelaskan bahwa instrumen akreditasi terbaru menuntut perguruan tinggi untuk tidak hanya memenuhi Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN Dikti), tetapi juga memiliki standar internal yang lebih tinggi dan sesuai dengan misi institusi. Ia menekankan bahwa perguruan tinggi perlu menetapkan indikator mutu yang jelas, menjalankannya secara konsisten, mengevaluasi capaian, serta melakukan peningkatan secara berkelanjutan.
“Untuk unggul, perguruan tinggi tidak cukup hanya memenuhi SN Dikti. Perguruan tinggi harus menetapkan standar sendiri yang melampaui standar nasional dan menjalankannya secara konsisten,” jelas Prof. Slamet.
Prof. Slamet juga menyoroti pentingnya Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) melalui siklus Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan. Dalam konteks ini, Audit Mutu Internal dan Rapat Tinjauan Manajemen perlu berjalan secara rutin agar perguruan tinggi memiliki data, analisis, dan tindak lanjut yang kuat sebelum memasuki proses akreditasi.
Selain itu, materi juga membahas penggunaan SAPTO 2.0 sebagai sistem akreditasi berbasis web. Sistem ini mendorong perguruan tinggi untuk lebih tertib dalam menyiapkan data, termasuk data dosen, mahasiswa, lulusan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, publikasi, prestasi, dan kerja sama. Prof. Slamet menegaskan bahwa data akreditasi tidak dapat disiapkan secara mendadak, melainkan harus dibangun melalui pelaporan dan evaluasi yang berjalan setiap semester.
Dalam instrumen terbaru, penilaian akreditasi perguruan tinggi juga menekankan empat aspek utama, yaitu budaya mutu, relevansi, akuntabilitas, dan diferensiasi misi. Karena itu, Universitas AMIKOM Yogyakarta perlu semakin menegaskan arah pengembangan institusi, baik dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kewirausahaan, teknologi digital, maupun ekonomi kreatif yang menjadi bagian dari karakter kelembagaan.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kesiapan Universitas AMIKOM Yogyakarta dalam menghadapi siklus akreditasi berikutnya. Melalui penyamaan persepsi ini, setiap unit di lingkungan kampus diharapkan dapat bergerak lebih terarah dalam menyiapkan data, memperkuat budaya mutu, dan menjalankan standar perguruan tinggi secara berkelanjutan.
Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional




