Universitas AMIKOM Yogyakarta Gelar Pelatihan Literasi Keuangan

23 June 2026 | Berita Utama

Yogyakarta, 22 Juni 2026 — Universitas AMIKOM Yogyakarta menggelar pelatihan literasi keuangan bertema “Smart Spending & Saving: Memangkas Pengeluaran Tanpa Menurunkan Kualitas Hidup” pada Senin, 22 Juni 2026, pukul 09.00 WIB, di Ruang Citra 1 Universitas AMIKOM Yogyakarta. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Sumber Daya Manusia ini diikuti oleh dosen dan karyawan sebagai upaya meningkatkan pemahaman dalam mengelola keuangan pribadi dan keluarga secara lebih sehat, terarah, dan berkelanjutan.

Kegiatan tersebut menghadirkan Harryka Joddy P., S.Psi., CFP®, IFP®, seorang Islamic Financial Planner, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, Bpk. Joddy membahas pentingnya pengelolaan keuangan yang tidak hanya berfokus pada besarnya pendapatan, tetapi juga pada kebiasaan, perilaku konsumsi, serta kemampuan menyusun prioritas kebutuhan.

Wakil Rektor II Bidang Keuangan, Aset dan Sumber Daya Manusia Universitas AMIKOM Yogyakarta, Eny Nurnilawati, S.E., M.M., dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelatihan ini relevan dengan kondisi ekonomi saat ini. Menurutnya, setiap individu perlu memiliki strategi agar tetap mampu memenuhi kebutuhan hidup tanpa mengabaikan persiapan masa depan.

“Dalam kondisi saat ini, kita perlu mampu memangkas pengeluaran tanpa menurunkan kualitas hidup. Harapannya, melalui pelatihan ini Bapak dan Ibu tidak lagi cemas menghadapi kenaikan harga, tetapi tetap bisa mengatur kebutuhan dan menyiapkan masa depan,” ujar Eny.

Eny juga menyoroti pentingnya menjaga kesehatan keuangan agar tidak berdampak negatif pada kondisi emosional maupun suasana kerja. Ia mengingatkan bahwa pengelolaan keuangan yang kurang sehat dapat memengaruhi produktivitas dan kenyamanan seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Strategi Keuangan Sehat, Tanpa Menurunkan Kualitas Hidup

Dalam materinya, Bpk. Joddy menekankan bahwa pengelolaan keuangan tidak hanya bergantung pada besar kecilnya pendapatan. Menurutnya, kebiasaan sehari-hari, pola konsumsi, cara mengambil keputusan, serta kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan finansial.

“Financial planning sangat berkaitan dengan perilaku sehari-hari. Kalau ingin menabung, kita perlu membangun kebiasaan,” jelas Bpk. Joddy dalam sesi pemaparan.

Salah satu poin utama yang disampaikan adalah pentingnya melakukan financial check-up secara rutin. Bpk. Joddy mengajak peserta untuk memeriksa kembali pemasukan, pengeluaran, aset, utang, dan tujuan keuangan. Langkah ini diperlukan agar setiap individu memahami kondisi keuangannya secara lebih jelas, termasuk mengetahui pos pengeluaran yang paling besar dan potensi kebocoran anggaran setiap bulan.

Menurut Bpk. Joddy, financial check-up sebaiknya tidak berhenti pada pencatatan pemasukan dan pengeluaran. Peserta juga perlu meninjau aset yang dimiliki, membedakan utang produktif dan konsumtif, serta memastikan aset dapat mendukung tujuan keuangan jangka panjang. Ia mencontohkan bahwa aset seperti laptop atau ponsel dapat bernilai produktif apabila digunakan untuk bekerja dan menghasilkan pendapatan.

Materi kemudian berlanjut pada pembahasan budgeting atau penyusunan anggaran. Bpk. Joddy menjelaskan bahwa setiap keluarga perlu mengetahui angka kebutuhan minimum setiap bulan. Dari angka tersebut, seseorang dapat mengevaluasi apakah masalah keuangan yang dihadapi bersumber dari pengeluaran yang terlalu besar atau pendapatan yang perlu ditingkatkan.

“Kalau financial planning, intinya antara mengurangi pengeluaran atau menambah penghasilan. Karena kalau tidak ada uang lebih, keuangan tidak bisa diatur,” terang Bpk. Joddy.

Bpk. Joddy juga menyoroti pentingnya dana darurat. Menurutnya, dana darurat berfungsi sebagai perlindungan ketika muncul kebutuhan mendadak, seperti kerusakan kendaraan, alat elektronik, atau kebutuhan keluarga yang tidak masuk dalam anggaran rutin. Dengan dana darurat, seseorang tidak perlu langsung menggunakan uang kebutuhan pokok atau mengambil pinjaman ketika menghadapi kondisi mendesak.

Selain dana darurat, peserta juga diajak memahami pengelolaan utang. Bpk. Joddy mengingatkan bahwa cicilan perlu dijaga agar tidak mengganggu arus kas bulanan. Ia juga menekankan pentingnya membedakan utang yang digunakan untuk kebutuhan produktif dan utang yang hanya didorong oleh gaya hidup konsumtif.

Dalam sesi tersebut, Bpk. Joddy secara khusus membahas risiko pinjaman online, paylater, dan pola gali lubang tutup lubang. Ia menjelaskan bahwa kemudahan teknologi membuat seseorang lebih mudah mengambil keputusan finansial secara impulsif. Situasi ini dapat menjadi masalah ketika pinjaman digunakan untuk memenuhi gaya hidup, bukan kebutuhan mendesak atau produktif.

Bpk. Joddy juga mengingatkan peserta agar berhati-hati terhadap tawaran investasi dengan imbal hasil tinggi dalam waktu singkat. Menurutnya, seseorang perlu memahami instrumen yang dipilih, risiko yang menyertainya, serta kesesuaian dengan profil risiko masing-masing. Keputusan investasi tidak sebaiknya hanya mengikuti tren atau pengalaman orang lain.

Dalam konteks investasi, Bpk. Joddy mengenalkan sejumlah instrumen yang dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan, seperti emas, reksadana pasar uang, sukuk, dan instrumen berbasis syariah lainnya. Ia menekankan bahwa tujuan investasi bukan semata-mata mencari keuntungan, tetapi juga menjaga nilai uang agar tidak tergerus inflasi dan mendukung tujuan keuangan yang telah direncanakan.

Pembahasan materi juga menyentuh tujuan keuangan jangka panjang. Peserta diajak untuk mulai memetakan kebutuhan seperti dana pendidikan anak, persiapan pensiun, ibadah umrah atau haji, kepemilikan rumah, hingga rencana usaha setelah pensiun. Menurut Bpk. Joddy, tujuan keuangan yang jelas akan membantu seseorang lebih disiplin dalam menabung dan berinvestasi.

Bpk. Joddy menegaskan bahwa setiap individu memiliki kondisi keuangan yang berbeda. Karena itu, strategi keuangan tidak dapat disamaratakan. Faktor seperti jumlah tanggungan, posisi sebagai sandwich generation, kewajiban keluarga, pendapatan, aset, dan profil risiko perlu diperhitungkan sebelum menyusun rencana keuangan.

Melalui materi yang disampaikan Bpk. Joddy, pelatihan ini memberikan pemahaman praktis tentang pentingnya membangun kebiasaan finansial yang sehat. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong dosen dan karyawan Universitas AMIKOM Yogyakarta untuk lebih cermat mengatur pengeluaran, menghindari risiko keuangan yang merugikan, serta menyusun rencana keuangan pribadi dan keluarga dengan lebih matang.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
Koresponden : Puji Ariningsih