
Yogyakarta, 10 Juni 2026 — Universitas AMIKOM Yogyakarta menggelar pengajian bertema “Work-Life Balance Islami: Menyeimbangkan Profesionalitas di Kantor dan Keharmonisan di Rumah” pada Rabu, 10 Juni 2026, di Ruang Citra II. Kegiatan yang diikuti oleh dosen dan tenaga kependidikan Universitas AMIKOM Yogyakarta ini menghadirkan Ustadzah Astri Ivo sebagai pemateri, dengan tujuan memperkuat nilai spiritual, etos kerja profesional, serta keharmonisan keluarga dalam kehidupan sehari-hari.
Acara ini menjadi ruang refleksi bagi sivitas Universitas AMIKOM Yogyakarta untuk melihat kembali pentingnya keseimbangan antara tanggung jawab pekerjaan dan kehidupan rumah tangga. Dalam suasana yang hangat, kegiatan diawali dengan pembukaan, doa bersama, serta sambutan dari Rektor Universitas AMIKOM Yogyakarta, Prof. Dr. M. Suyanto, M.M.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. M. Suyanto, M.M. menyampaikan bahwa keluarga memiliki kedudukan penting dalam Islam. Ia menekankan bahwa keharmonisan rumah tangga tidak hanya dibangun melalui peran istri yang salehah, tetapi juga melalui peran suami yang mampu mencintai dan menjaga keluarganya dengan baik.
“Perhiasan yang paling indah di dunia adalah wanita salehah. Tetapi laki-laki yang paling hebat adalah suami yang sangat mencintai keluarganya,” ungkapnya.
Memasuki sesi kajian, Ustadzah Astri Ivo menyampaikan bahwa keseimbangan hidup dalam Islam tidak hanya berbicara tentang pembagian waktu antara pekerjaan dan keluarga, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menjadikan Allah sebagai pusat orientasi hidup. Menurutnya, kebahagiaan sejati bukan ditentukan oleh jabatan, harta, atau luasnya rumah, melainkan oleh ketenangan hati.
“Bahagia itu ketika kita tidak takut dan tidak sedih. Kalau kita mengenal Allah, kita akan tenang. Kalau kita tenang, ujian apa pun yang datang kepada kita akan mampu kita jawab,” jelas Ustadzah Astri Ivo.
Ia juga menegaskan bahwa bekerja merupakan bagian dari ibadah. Karena itu, profesionalitas di kantor harus dibangun dengan kesadaran bahwa setiap pekerjaan dilihat oleh Allah. Dalam konteks tersebut, seorang muslim tidak hanya dituntut untuk beribadah dengan ihsan, tetapi juga bekerja dengan itqan atau profesional.
Ustadzah Astri Ivo mengingatkan bahwa karyawan, dosen, maupun pimpinan memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan yang terbaik dalam pekerjaan, baik ketika diawasi maupun tidak. Sikap profesional tersebut, menurutnya, lahir dari keimanan dan kesadaran bahwa pekerjaan adalah amanah.
“Di kantor, berikan yang terbaik. Profesional dalam bekerja sebagaimana kita berusaha ihsan dalam beribadah,” pesannya.
Selain membahas etos kerja, kajian ini juga menyoroti pentingnya menjaga komunikasi dalam keluarga. Ustadzah Astri Ivo mengajak peserta untuk lebih berhati-hati dalam menjaga lisan, mengendalikan emosi, serta membiasakan komunikasi yang lembut, baik di rumah maupun di lingkungan kerja. Ia menekankan bahwa keluarga adalah pihak pertama yang paling berhak mendapatkan kasih sayang, kelembutan, dan kebaikan dari diri seseorang.
Dalam paparannya, ia juga menyampaikan bahwa setiap orang memiliki beberapa peran yang harus dijalankan secara seimbang, mulai dari sebagai hamba Allah, anak, suami atau istri, orang tua, pekerja, hingga anggota masyarakat. Keseimbangan tersebut dapat terwujud ketika seseorang memahami kewajibannya dengan ilmu dan menjalankannya dengan kesadaran spiritual.
Pada bagian akhir kajian, peserta juga diajak memperkuat kepedulian sosial melalui infak dan sedekah. Ajakan ini dikaitkan dengan pentingnya menghadirkan manfaat bagi sesama, termasuk melalui program pembangunan sumur dan penyaluran air bagi masyarakat yang membutuhkan. Dengan demikian, pengajian tidak hanya menjadi ruang penguatan spiritual pribadi, tetapi juga mendorong kepedulian sosial yang lebih luas.
Melalui kegiatan ini, Universitas AMIKOM Yogyakarta berharap dosen dan tenaga kependidikan dapat terus membangun budaya kerja yang profesional, religius, dan penuh tanggung jawab. Nilai-nilai yang disampaikan dalam pengajian ini diharapkan dapat menjadi bekal untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih harmonis, sekaligus memperkuat keluarga sebagai fondasi utama dalam kehidupan.
Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional




