Tim Maggot BSF Raih Pendanaan P2MW. Kembangkan Pelet Protein Tinggi

12 June 2026 | Berita Utama

Tim mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta yang diketuai oleh Yoshi Listya Dwi Septiana berhasil meraih pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha atau P2MW 2026 pada Tahapan Awal melalui proposal “Peningkatan Nilai Guna Maggot BSF Black Soldier Fly melalui Inovasi Pelet Protein Tinggi pada Usaha Mikro Pakan Ternak.” Proposal ini masuk dalam kategori Budidaya dan menjadi salah satu dari lima proposal mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta yang lolos pendanaan P2MW 2026.

Tim pengembang proposal ini terdiri atas Yoshi sebagai ketua tim, bersama Salsa dan Labib sebagai anggota tim. Ketiganya merupakan mahasiswa Prodi Kewirausahaan semester awal Universitas AMIKOM Yogyakarta yang mulai mengembangkan ide tersebut dari tugas kuliah hingga berlanjut menjadi proposal usaha pada P2MW 2026.

Produk yang dikembangkan oleh tim ini berfokus pada pemanfaatan maggot BSF sebagai bahan dasar pakan unggas. Maggot BSF dikenal memiliki kandungan protein yang tinggi dan berpotensi menjadi alternatif pakan. Namun, selama ini maggot lebih banyak dijumpai dalam bentuk segar atau kering, sehingga belum semua pengguna merasa nyaman dalam memanfaatkannya. Dari persoalan tersebut, tim menghadirkan inovasi dengan mengolah maggot menjadi bentuk pelet agar lebih praktis, mudah digunakan, dan memiliki nilai guna yang lebih tinggi.

Yoshi menjelaskan bahwa nilai unik produk ini berada pada bahan dasarnya, yaitu maggot. Selama ini, sebagian orang masih memandang maggot sebagai sesuatu yang kurang menarik karena bentuknya yang masih menyerupai larva. Karena itu, tim berupaya mengubah bentuk maggot menjadi pelet agar lebih mudah diterima oleh pengguna, khususnya peternak unggas.

“Nilai uniknya dari bahannya, yaitu maggot. Biasanya orang masih melihat maggot dalam bentuk segar, jadi ada yang merasa geli. Di sini kami ingin mengubah bentuknya menjadi pelet agar lebih enak dipegang, lebih praktis, dan bisa lebih tahan lama dibandingkan maggot segar,” jelas Yoshi.

Ide pengembangan produk ini berawal dari tugas kuliah. Pada awalnya, tim memperoleh kategori budidaya dan mulai merancang gagasan usaha berbasis maggot. Salah satu anggota tim pernah mengenal maggot sejak SMP melalui kegiatan outing class, sehingga memahami bahwa maggot memiliki potensi sebagai organisme yang dapat membantu mengurangi sampah organik. Dari pengalaman tersebut, tim mulai melihat peluang untuk mengembangkan maggot bukan hanya sebagai bahan budidaya, tetapi juga sebagai bahan pakan yang memiliki nilai ekonomi.

Perjalanan menuju P2MW dimulai ketika tim mendapatkan dorongan dari Kaprodi Kewirausahaan, Suyatmi, S.E., M.M. untuk mengikuti program tersebut. Dari tugas kuliah yang awalnya disusun untuk kebutuhan akademik, gagasan ini kemudian dikembangkan menjadi proposal usaha. Tim lalu menyempurnakan konsep, menyusun rencana, dan mengikuti proses seleksi hingga akhirnya dinyatakan lolos pendanaan P2MW 2026 pada Tahapan Awal.

“Awalnya dari tugas kuliah. Kemudian kami diajak oleh Bu Yatmi untuk ikut P2MW karena di kelas waktu itu kategori budidaya hanya ada dua, salah satunya proposal maggot ini,” ungkap tim dalam wawancara.

Dukungan dari Kaprodi Kewirausahaan juga terlihat dari proses penyusunan proposal. Tim menyampaikan bahwa Suyatmi memberikan arahan melalui format dan template yang membantu mahasiswa menyusun gagasan secara lebih terstruktur. Pendampingan tersebut memudahkan tim dalam mengembangkan ide yang semula masih bersifat akademik menjadi proposal usaha yang siap diajukan dalam program P2MW.

Bagi mahasiswa semester awal, proses tersebut menjadi pengalaman penting. Tim tidak hanya belajar menulis proposal, tetapi juga mulai memahami bagaimana sebuah ide bisnis perlu memiliki masalah yang jelas, produk yang ditawarkan, rencana pengembangan, serta potensi pasar. Dalam hal ini, pembelajaran kewirausahaan di Universitas AMIKOM Yogyakarta tidak berhenti pada teori, tetapi diarahkan pada praktik dan kesempatan kompetisi.

Meski berangkat dari tugas kuliah, tim menyadari bahwa menjalankan usaha membutuhkan proses yang lebih kompleks. Mereka tidak hanya perlu menyusun proposal, tetapi juga harus memahami produk, pasar, dan proses produksi. Terlebih, bidang budidaya maggot merupakan hal baru bagi sebagian besar anggota tim. Karena itu, mereka mulai belajar dari awal dengan melakukan survei ke tempat budidaya maggot di daerah Ngaglik.

Dalam survei tersebut, tim mempelajari berbagai hal, mulai dari cara perawatan maggot, proses breeding, siklus hidup maggot, hingga kebutuhan dasar dalam budidaya. Mereka juga membeli telur dan maggot untuk kebutuhan uji coba. Proses ini menjadi langkah awal untuk memahami karakter bahan baku sebelum mengolahnya menjadi produk pelet.

“Awalnya kami masih nol banget. Belum tahu maggot itu apa, bagaimana cara perawatannya, bagaimana breeding-nya, dan siklusnya seperti apa. Dari survei itu kami mulai belajar dan membeli telur serta maggot untuk uji coba,” ungkap Salsa.

Keunggulan utama produk ini terletak pada upaya meningkatkan nilai guna maggot. Jika biasanya maggot digunakan dalam bentuk segar atau kering, tim ingin menghadirkannya dalam bentuk pelet yang lebih praktis untuk pakan unggas. Bentuk pelet dinilai dapat memudahkan peternak dalam pemberian pakan, menjaga kebersihan, serta meningkatkan kenyamanan pengguna dalam memanfaatkan maggot.

Selain bentuknya yang lebih praktis, kandungan protein pada maggot menjadi alasan utama produk ini dikembangkan. Tim melihat bahwa maggot memiliki potensi untuk mendukung pertumbuhan unggas. Dalam pengamatan awal, mereka menemukan bahwa unggas yang mendapatkan tambahan maggot berpotensi tumbuh lebih cepat dibandingkan unggas yang hanya diberi pakan konvensional. Temuan ini menjadi dasar awal bagi tim untuk mengembangkan maggot menjadi produk pelet protein tinggi.

Meski demikian, tim masih berada pada tahap awal pengembangan. Produk pelet maggot BSF ini belum diuji secara luas kepada peternak. Setelah memperoleh pendanaan P2MW 2026, tim akan memulai proses pembuatan pelet, melakukan uji coba pada unggas, serta melihat respons dari peternak, pecinta unggas, dan pelaku budidaya ayam. Fokus utama mereka dalam waktu dekat adalah memperkuat produk agar benar-benar layak digunakan.

“Untuk awal, kami ingin mencoba membuat peletnya dulu. Setelah itu, kami ingin melihat respons pada unggas, respons peternak, dan respons dari sekitar, terutama pecinta unggas atau pembudidaya ayam,” jelas Yoshi.

Tantangan terbesar yang dihadapi tim adalah karena usaha ini benar-benar baru bagi mereka. Tim harus belajar dari nol tentang maggot, proses budidaya, pengolahan menjadi pelet, hingga potensi penerimaan pasar. Selain itu, mereka juga perlu mengelola waktu sebagai mahasiswa semester awal yang masih beradaptasi dengan perkuliahan.

Labib menyampaikan bahwa keterlibatan dalam P2MW menjadi pengalaman baru yang mendorong mereka keluar dari zona nyaman. Menurutnya, meskipun gagasan ini awalnya lahir dari tugas kuliah, proses menuju P2MW membuat tim belajar menghadapi tantangan nyata dalam mengembangkan produk.

“Awalnya memang dari tugas, tetapi di sisi lain ini menjadi tantangan baru. Saya senang eksplorasi hal-hal baru, dan ini menjadi pengalaman untuk belajar lebih jauh,” ujar Labib.

Pendanaan P2MW 2026 juga menjadi amanah bagi tim untuk menjalankan rencana pengembangan secara serius. Tim menyebut bahwa pendanaan yang diperoleh akan digunakan untuk kebutuhan penguatan produk, terutama pada tahap eksperimen pembuatan pelet dan uji coba. Mereka memahami bahwa P2MW bukan sekadar program pemberian dana, tetapi juga proses pembinaan yang menuntut perkembangan usaha secara nyata.

Keikutsertaan dalam P2MW 2026 menjadi pengalaman penting bagi tim, terutama karena mereka masih berada di semester awal. Dari tugas kuliah, gagasan ini berkembang menjadi proposal yang lolos pendanaan. Bagi tim, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa ide sederhana dapat berkembang ketika dikerjakan dengan serius, dipelajari secara bertahap, dan mendapat pendampingan yang tepat.

Ke depan, tim berharap produk pelet maggot BSF ini dapat dikembangkan lebih matang dan memberikan manfaat bagi usaha mikro pakan ternak. Mereka ingin menguji kelayakan produk, memperkuat formula pelet, serta melihat potensi penerimaan dari peternak. Jika hasil uji coba menunjukkan respons positif, produk ini dapat menjadi alternatif pakan unggas yang lebih praktis, bernilai protein tinggi, dan memiliki peluang untuk dikembangkan secara berkelanjutan.

Melalui inovasi ini, tim mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta menunjukkan bahwa bidang budidaya dapat menjadi ruang pengembangan usaha yang menarik bagi mahasiswa. Pemanfaatan maggot BSF tidak hanya membuka peluang dalam pengembangan pakan ternak, tetapi juga mendukung pengelolaan limbah organik dan peningkatan nilai ekonomi bahan budidaya.

Universitas AMIKOM Yogyakarta berharap pendanaan P2MW 2026 dapat menjadi langkah awal bagi tim untuk memperkuat produk, memperluas pembelajaran, dan menunjukkan perkembangan usaha yang terukur. Dengan proses uji coba, pendampingan, dan pengembangan yang berkelanjutan, inovasi pelet maggot BSF ini diharapkan mampu menjadi produk yang bermanfaat bagi peternak serta membuka peluang bagi tim untuk melanjutkan perjalanan hingga tahap berikutnya.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
Koresponden : Suyatmi