Tim konsorsium Sumbawa Digital Ranch Lakukan Audiensi dengan Bupati Sumbawa

26 May 2026 | Berita Utama

Sumbawa, 21 Mei 2026 — Tim konsorsium riset Sumbawa Digital Ranch yang dipimpin oleh Prof. Dr. Kusrini, M.Kom., Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas AMIKOM Yogyakarta, melakukan audiensi dengan Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., di Kabupaten Sumbawa. Pertemuan tersebut menjadi ruang penyampaian rencana pengembangan teknologi peternakan sapi umbaran berbasis Artificial Intelligence dan Internet of Things yang dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata peternak di Sumbawa.

Audiensi ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan konsorsium riset Sumbawa Digital Ranch, setelah sebelumnya tim melakukan koordinasi dengan mitra, survei lapangan, pengujian teknologi komunikasi LoRa, serta Focus Group Discussion bersama dinas, dokter hewan, akademisi, penyuluh, dan peternak lokal. Dalam pertemuan dengan Bupati Sumbawa, tim memaparkan arah riset, potensi implementasi teknologi, serta peluang pengembangan riset lanjutan yang dapat mendukung sektor peternakan daerah.

Prof. Kusrini menjelaskan bahwa Sumbawa Digital Ranch tidak membawa program pembagian sapi, melainkan menghadirkan teknologi yang akan dipasang pada sapi milik peternak. Teknologi tersebut dikembangkan agar mampu membantu pemantauan ternak secara lebih akurat, mulai dari lokasi sapi, kondisi kesehatan, pergerakan, hingga potensi ternak keluar dari area aman.

“Kami jelaskan bahwa yang kami bawa bukan sapi, tetapi teknologi yang dipasangkan pada sapi. Peternak menyediakan sapinya di bawah koordinasi dinas, sementara kami menyiapkan teknologinya agar bisa dimanfaatkan dalam pengelolaan ternak,” jelas Prof. Kusrini.

Penjelasan tersebut mendapat respons positif dari Bupati Sumbawa. Prof. Kusrini menyampaikan bahwa Bupati Syarafuddin Jarot menyambut baik teknologi yang ditawarkan, terutama karena sistem tersebut berpotensi membantu menjawab persoalan nyata di lapangan, termasuk pemantauan ternak dan risiko pencurian sapi.

Dalam audiensi tersebut, Bupati Syarafuddin Jarot juga memberikan sejumlah masukan berdasarkan pengalamannya di sektor pertanian dan peternakan. Salah satu perhatian utama adalah kondisi sapi umbaran di Sumbawa yang cenderung liar, sehingga perangkat seperti smart collar dan RFID perlu dirancang agar kuat, aman, dan sesuai dengan karakter ternak di lapangan.

Masukan tersebut menjadi catatan penting bagi tim peneliti. Prof. Kusrini menyampaikan bahwa penerapan teknologi di Sumbawa tidak bisa hanya mengandalkan rancangan laboratorium, tetapi harus benar-benar disesuaikan dengan kondisi peternakan rakyat. Karena itu, masukan dari pemerintah daerah, dinas teknis, dokter hewan, penyuluh, dan peternak menjadi bagian penting dalam penyempurnaan prototipe.

Sumbawa Digital Ranch sendiri dikembangkan sebagai sistem peternakan sapi umbaran berbasis AI-IoT yang mengintegrasikan smart collar, GPS, sensor suhu, sensor gerak, komunikasi LoRa, dashboard pemantauan, marketplace ternak, investasi ternak digital, hingga konsep livestock tourism atau wisata berbasis peternakan. Sistem ini juga diarahkan agar dapat terhubung dengan data pemerintah daerah, termasuk aplikasi SiJinak.

Melalui teknologi tersebut, peternak dan pemerintah daerah diharapkan dapat memantau ternak secara lebih real time. Data dari sapi akan dikirim ke sistem pusat dan ditampilkan melalui dashboard yang dapat digunakan oleh berbagai pihak, mulai dari peternak, dinas, calon pembeli, hingga investor.

Audiensi dengan Bupati Sumbawa juga memperkuat arah riset agar tidak berhenti pada pengembangan teknologi semata, tetapi dapat diterapkan secara nyata untuk meningkatkan tata kelola peternakan. Dengan dukungan pemerintah daerah, riset ini diharapkan mampu membantu modernisasi peternakan sapi umbaran, memperluas akses pasar, mengurangi risiko kehilangan ternak, serta membuka peluang ekonomi baru melalui investasi dan wisata peternakan.

Setelah rangkaian kegiatan di Sumbawa, tim konsorsium akan menyesuaikan rancangan teknologi berdasarkan hasil survei, FGD, dan masukan pemerintah daerah. Prof. Kusrini menyampaikan bahwa tim menargetkan kembali ke Sumbawa pada November dengan membawa prototipe untuk diuji lebih lanjut di lapangan.

Melalui Sumbawa Digital Ranch, Universitas AMIKOM Yogyakarta menegaskan komitmennya dalam menghadirkan riset yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat. Program ini menjadi contoh bagaimana teknologi kampus dapat hadir untuk membantu menyelesaikan persoalan lokal dan memperkuat ketahanan pangan nasional.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With : Kusrini