Mengenal Peraih Pendanaan Kemdiktisaintek 2026, Drone Penyemprot Presisi

20 April 2026 | UMUM

Dosen Universitas AMIKOM Yogyakarta meraih 18 pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada Tahun Anggaran 2026. Dari jumlah tersebut, salah satu dosen yang turut memperoleh pendanaan adalah Prof. Arief Setyanto, S.Si., M.T., Ph.D. Dalam artikel khusus ini, @amikomjogja mengangkat salah satu proposal Prof. Arief yang memperoleh pendanaan pada Program Penelitian skema Penelitian Terapan Luaran Prototipe, yakni:

“Deteksi obyek terkompresi untuk penyemprotan presisi pada pesawat nirawak menggunakan edge computing”

Penelitian ini merupakan pengembangan prototipe pesawat nirawak yang mampu mendeteksi objek target penyemprotan secara akurat di area pertanian dengan komputasi ringan, cepat, dan hemat energi. Riset ini menjadi bagian dari penelitian terapan yang menargetkan luaran berupa prototipe yang siap diuji untuk mendukung efisiensi penyemprotan pada komoditas pertanian, termasuk kelapa sawit.

Prof. Arief menjelaskan bahwa penelitian ini sebenarnya merupakan lanjutan dari riset dasar yang telah dikerjakan sebelumnya. Pada tahap terdahulu, timnya telah berhasil mengembangkan model pendeteksi obyek yang ringan, cepat, dan hemat energi. Model tersebut dirancang agar bisa dijalankan pada perangkat kecil dengan kebutuhan daya terbatas, sehingga cocok digunakan pada kendaraan seperti drone yang tidak mungkin membawa komputer besar. Penelitian saat ini kemudian bergerak ke tahap berikutnya, yaitu menerapkan model itu secara langsung pada penyemprotan presisi di bidang pertanian.

“Riset yang sebelumnya kan membahas bagaimana membuat algoritma pendeteksi obyek yang ringan, yang cepat, yang hemat energi, sehingga bisa dieksekusi pada device-device yang kecil dan ringan, yang juga tidak membutuhkan baterai yang besar,” jelas Prof. Arief

Dalam penerapannya, penelitian ini diarahkan pada komoditas pertanian seperti kelapa sawit. Prof. Arief menjelaskan bahwa pada kebun kelapa sawit, bagian yang perlu disemprot bukan seluruh tanaman, melainkan titik tertentu, seperti buah atau bagian yang memang membutuhkan perlakuan. Jika penyemprotan dilakukan secara umum ke seluruh area tanaman, maka penggunaan bahan akan lebih boros. Karena itu, drone perlu dibekali kemampuan untuk mengenali obyek mana yang benar-benar menjadi target penyemprotan. Dari sinilah kebutuhan terhadap deteksi obyek terkompresi menjadi sangat penting.

“Kalau kita punya kebun kelapa sawit, kalau nyemprot itu yang perlu disemprot hanya buahnya saja, bukan batangnya, bukan daunnya. Jadi drone-nya itu harus diberikan kemampuan untuk memindai atau menandai mana yang buah, jadi obyek mana yang buah yang harus disemprot,” ujarnya.

Yang membuat penelitian ini menarik adalah penggunaan pendekatan edge computing. Dalam penjelasan Prof. Arief, sistem komputasi pada drone harus dirancang sekecil mungkin agar tidak membebani daya angkut dan konsumsi energi. Drone tidak mungkin membawa perangkat komputasi besar seperti laptop, sehingga seluruh proses deteksi harus dapat dijalankan pada perangkat yang kecil, ringan, dan hemat daya. Dengan pendekatan ini, kecerdasan sistem dipindahkan ke perangkat yang lebih ringkas agar drone tetap mampu bekerja secara efektif di lapangan.

Target dari penelitian ini adalah menghadirkan prototipe drone yang mampu terbang, mengenali obyek yang perlu disemprot, lalu melakukan penyemprotan dengan arah dan takaran yang tepat. Dengan kata lain, sistem yang dibangun bukan hanya harus mampu mendeteksi, tetapi juga harus dapat membuktikan bahwa hasil deteksi itu benar-benar dapat digunakan dalam pengendalian penyemprotan. Inilah yang membedakan penelitian terapan luaran prototipe dengan riset dasar. Keberhasilan penelitian tidak hanya diukur dari model yang bekerja di atas kertas, tetapi juga dari kemampuan prototipe untuk menjalankan fungsi yang dijanjikan.

“Targetnya nanti adalah drone yang bisa terbang, yang bisa mendeteksi mana buah yang akan disemprot, bisa nyemprot dengan takaran yang pas, arah yang pas. Jadi jangan sampai buahnya di sini, dia nyemprot sebelahnya, jadi nggak ada manfaatnya nanti,” kata Prof. Arief

Selain menarik dari sisi teknologi, penelitian ini juga memperlihatkan pentingnya kerja sama lintas pihak. Prof. Arief menjelaskan bahwa pada penelitian ini timnya bekerja sama dengan perusahaan PT FROGS, yang diharapkan dapat berperan dalam proses komersialisasi ketika prototipe sudah siap digunakan. Selain itu, tim juga bekerja sama dengan rekan-rekan dari Elektronika dan Instrumentasi UGM untuk mendukung sistem kontrol, baik pada kendali penerbangan maupun alat penyemprotannya. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa riset semacam ini memang tidak bisa dibangun oleh satu bidang keahlian saja.

“Satu kuncinya adalah kerja sama, kita enggak bisa bekerja sendiri, kita harus bekerja sama dengan teman-teman yang lain,” tegas Prof. Arief

Baginya, kerja sama bukan hanya soal mempertemukan banyak orang dalam satu tim, tetapi tentang menggabungkan keahlian yang berbeda agar satu teknologi bisa bekerja secara utuh. Pada penelitian ini, deteksi obyek saja tidak cukup. Sistem juga membutuhkan kendali penerbangan, pengaturan alat semprot, dan kesiapan komersialisasi. Karena itu, kolaborasi antara kampus, perusahaan, dan mitra akademik lain menjadi fondasi penting dalam mengembangkan riset sampai ke tahap pemanfaatan yang lebih luas.

Prof. Arief juga menegaskan bahwa riset seperti ini tidak boleh berhenti pada tahap prototipe. Setelah teknologi terbukti dapat berjalan, langkah berikutnya adalah mendorong proses hilirisasi atau komersialisasi, agar manfaatnya benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat. Dalam konteks pertanian, ia melihat bahwa teknologi ini berpotensi membantu penghematan tenaga, meningkatkan ketepatan penyemprotan, dan pada akhirnya mendukung efisiensi serta produktivitas sektor pertanian.

“Harapan kita setelah program ini jadi, masuk ke langkah berikutnya adalah hilirisasi atau komersialisasi, sehingga itu bisa bermanfaat buat masyarakat,” ujarnya.

Penelitian ini memperoleh pendanaan melalui skema Penelitian Terapan Luaran Prototipe, yaitu skema dalam Program Penelitian yang ditujukan untuk mendorong hasil riset terapan agar berkembang menjadi prototipe yang dapat diuji dan dibuktikan kegunaannya. Dalam skema ini, target utama tidak hanya berupa publikasi ilmiah, tetapi juga terwujudnya luaran prototipe yang sesuai dengan apa yang dijanjikan di dalam proposal. Karena itu, riset seperti ini tidak berhenti pada konsep atau algoritma semata, tetapi diarahkan sampai ke bentuk teknologi yang benar-benar dapat diuji di lapangan.

Keberhasilan proposal ini memperoleh pendanaan menunjukkan bahwa penelitian terapan dapat tumbuh menjadi karya yang kuat secara akademik sekaligus relevan secara praktis. Melalui riset deteksi obyek terkompresi untuk penyemprotan presisi pada pesawat nirawak, Prof. Arief memperlihatkan bahwa teknologi kecerdasan buatan, sistem kendali, dan komputasi ringan dapat diarahkan untuk membantu kebutuhan nyata di sektor pertanian. Hal ini menegaskan satu hal penting: riset yang baik tidak hanya lahir dari kekuatan teknologi, tetapi juga dari kemampuan membaca persoalan lapangan dan membangunnya menjadi solusi yang dapat diuji, dimanfaatkan, dan dikembangkan lebih lanjut.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With Arief Setyanto