
Universitas AMIKOM Yogyakarta memperkuat jejaring internasional melalui program mobilitas akademik di Polytechnic University of the Philippines (PUP), Manila, pada 24–29 Agustus 2026. Empat dosen dari Fakultas Ekonomi dan Sosial mengikuti rangkaian kuliah tamu, diskusi akademik, penjajakan penelitian, dan pertemuan antarlembaga untuk memperluas implementasi kerja sama kedua perguruan tinggi.
Delegasi Universitas AMIKOM Yogyakarta terdiri atas Ketua Program Studi Hubungan Internasional Seftina Kuswardini, S.IP., M.A.; Sekretaris Program Studi Hubungan Internasional Aditya Maulana Hasymi, S.IP., M.A.; Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Rivga Agusta, S.IP., M.A.; serta Ketua Program Studi Ekonomi Anggrismono, S.E., M.Ec.Dev.
Salah satu agenda utama dalam kunjungan tersebut adalah PUP CPSPA x UAY Public Lecture Series 2026 yang mempertemukan delegasi AMIKOM dengan mahasiswa dan sivitas akademika College of Political Science and Public Administration (CPSPA) PUP. Materi yang disampaikan mencakup diplomasi, keamanan regional, media sosial dan gerakan politik, pembangunan ekonomi, serta inklusivitas.
Selain kuliah tamu, delegasi mengikuti forum terbuka dan round-table discussion bersama mahasiswa, dosen, serta pimpinan PUP. Pertemuan tersebut juga digunakan untuk membahas peluang penelitian bersama dan menghubungkan organisasi mahasiswa dari kedua kampus agar dapat mengembangkan kegiatan kolaboratif.
Berawal dari Hubungan Akademik sejak 2018
Ketua Program Studi Hubungan Internasional Universitas AMIKOM Yogyakarta, Seftina Kuswardini, S.IP., M.A., menjelaskan bahwa hubungan dengan PUP mulai dibangun pada 2018 melalui pertemuan informal. Kunjungan awal tersebut mendapatkan respons positif dan dilanjutkan dengan kunjungan balasan PUP ke AMIKOM, kegiatan teaching mobility, serta penyusunan nota kesepahaman antarinstitusi.
Kerja sama tetap berjalan pada masa pandemi melalui sejumlah kegiatan daring. Program Studi Ilmu Komunikasi, misalnya, berkolaborasi dengan PUP dalam konferensi internasional dan lokakarya penelitian yang turut melibatkan mahasiswa sebagai pemakalah. Setelah itu, kerja sama berkembang melalui dosen tamu dan kegiatan tridarma lainnya.
“Visiting lecture menjadi gerbang untuk membuka banyak hal strategis. Dari sana terbangun kepercayaan, sehingga kerja sama lain menjadi lebih mudah dijalankan,” ujar Seftina.
Menurutnya, mobilitas akademik memiliki nilai strategis karena mendukung internasionalisasi universitas sekaligus membuka ruang implementasi tridarma perguruan tinggi. Interaksi di luar negeri juga menjadi bagian dari diplomasi akademik karena delegasi tidak hanya membawa identitas Universitas AMIKOM Yogyakarta, tetapi juga memperkenalkan perspektif Indonesia di ruang akademik internasional.
Seftina menilai kemiripan sejumlah persoalan sosial dan politik Indonesia dengan Filipina membuat diskusi berlangsung relevan bagi kedua pihak. Pembahasan mengenai keamanan regional, diplomasi, dan persoalan politik memungkinkan dosen serta mahasiswa saling membandingkan pengalaman kedua negara tanpa melepaskan konteks sosial dan budayanya masing-masing.
Diskusi Interaktif dan Pertukaran Perspektif
Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas AMIKOM Yogyakarta, Rivga Agusta, S.IP., M.A., mengatakan materi yang dibawa delegasi disesuaikan dengan bidang keilmuan dan kebutuhan mahasiswa PUP. Dalam kuliahnya, Rivga membahas hubungan media sosial dengan gerakan politik menggunakan sejumlah konteks yang berkembang di Indonesia.
Perbedaan konteks tersebut justru membuka ruang pertukaran pengetahuan. Mahasiswa PUP dapat melihat bagaimana media sosial, budaya, agama, dan kondisi sosial memengaruhi gerakan politik dan respons masyarakat di Indonesia. Pada saat yang sama, delegasi AMIKOM memperoleh perspektif mengenai kondisi komunikasi politik dan kehidupan akademik di Filipina.
“Dari kolaborasi ini, kita mendapatkan wawasan dari para pengajar dan mahasiswa di luar negeri. Mereka juga memperoleh perspektif dari kita. Pertukaran itulah yang menghadirkan kebaruan bagi masing-masing institusi,” kata Rivga.
Respons mahasiswa PUP menjadi salah satu catatan penting selama kegiatan. Seusai pemaparan, mahasiswa mengantre untuk mengajukan pertanyaan, menanggapi jawaban narasumber, dan melanjutkan diskusi. Sejumlah mahasiswa juga meminta kontak para dosen agar komunikasi akademik dapat diteruskan setelah kegiatan berakhir.
Rivga melihat semangat belajar dan kepercayaan diri mahasiswa PUP sebagai pengalaman yang dapat dibagikan kepada mahasiswa AMIKOM. Keberanian memulai percakapan, mengajukan pertanyaan yang relevan, dan membangun relasi merupakan bagian dari kemampuan akademik yang dibutuhkan untuk terlibat dalam kegiatan lintas negara.
Selama berada di Filipina, delegasi juga mempelajari sejumlah praktik pendidikan dan kehidupan sosial setempat. Salah satunya adalah Education on Wheels, yaitu bus yang dirancang menjadi ruang kelas bergerak untuk membawa layanan pendidikan kepada masyarakat dengan akses terbatas. Delegasi turut mengamati penerapan sistem peringatan dini bencana melalui telepon seluler serta kebijakan pembelajaran daring ketika hujan lebat dan banjir menghambat aktivitas kampus. 
Membuka Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa
Kunjungan tersebut menghasilkan sejumlah peluang tindak lanjut, mulai dari publikasi dan penelitian bersama, pengajaran daring lintas kampus, pengabdian kepada masyarakat, hingga kegiatan yang melibatkan organisasi mahasiswa. Kedua pihak juga menjajaki seminar, lomba esai, debat, kompetisi, dan simulasi sidang internasional seperti Model United Nations.
Pada bidang Ilmu Komunikasi, kolaborasi diarahkan untuk memperluas Amikom Communication Award 2026 ke tingkat internasional dengan melibatkan PUP. Mahasiswa diharapkan mengambil peran dalam menyiapkan kegiatan bilingual, menjalin komunikasi dengan mitra, dan mengembangkan kolaborasi karya.
Seftina menekankan bahwa kedalaman implementasi perlu menjadi ukuran utama kerja sama internasional. Kemitraan yang terpelihara dan menghasilkan kegiatan nyata dinilai lebih bermanfaat daripada banyak kesepakatan yang tidak ditindaklanjuti.
Kemampuan berbahasa Inggris menjadi salah satu hal yang perlu dipersiapkan mahasiswa agar dapat mengambil bagian lebih besar. Selain kemampuan bahasa, mahasiswa juga perlu mengembangkan kepercayaan diri, kecakapan membangun jejaring, dan kesiapan beradaptasi dengan lingkungan akademik serta budaya yang berbeda.
Melalui mobilitas akademik ini, Universitas AMIKOM Yogyakarta dan PUP melanjutkan kerja sama yang dibangun sejak 2018 ke dalam kegiatan yang semakin beragam. Kolaborasi tersebut diharapkan memberi lebih banyak ruang bagi dosen dan mahasiswa kedua kampus untuk belajar, meneliti, serta menghasilkan program bersama dalam lingkup internasional.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional








