Kuliah Umum “Integrasi Agroteknologi dan GeoAI dalam Pengelolaan Lahan Pertanian Berkelanjutan”, Bahas Perlindungan Lahan dan GeoAI

3 September 2026 | UMUM

Perlindungan lahan pertanian dan pemanfaatan kecerdasan buatan berbasis geospasial menjadi pembahasan utama dalam kuliah umum “Integrasi Agroteknologi dan GeoAI dalam Pengelolaan Lahan Pertanian Berkelanjutan” di Universitas Amikom Yogyakarta, Selasa (1/9/2026). Kegiatan yang berlangsung secara hybrid ini mempertemukan perspektif pertanian dan geografi untuk membahas tantangan pengelolaan lahan serta ketahanan pangan.

Diselenggarakan oleh Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Amikom Yogyakarta bersama Fakultas Pertanian Universitas Udayana, kuliah umum menghadirkan Prof. Dr. Ir. Ni Made Trigunasih, M.P., dan Fitria Nucifera, S.Si., M.Sc. Diskusi dipandu Widiyana Riasasi, M.Sc., dengan pembahasan yang menghubungkan kondisi lahan di lapangan, pengetahuan masyarakat, dan pemanfaatan teknologi digital.

Perlindungan Lahan Memerlukan Keterlibatan Petani

Prof. Ni Made Trigunasih membuka sesi dengan materi Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Dosen Fakultas Pertanian Universitas Udayana tersebut menyoroti perubahan lahan pertanian menjadi permukiman, fasilitas pariwisata, dan bangunan lainnya.

Melalui contoh penelitian di Denpasar dan Kabupaten Karangasem, ia menjelaskan bahwa alih fungsi lahan tidak hanya mengurangi kawasan produktif. Perubahan tersebut juga menjadi tantangan bagi ketahanan pangan dan kelestarian subak di Bali.

Menurutnya, keberadaan aturan perlu diikuti pelaksanaan dan pengawasan yang konsisten. Perlindungan lahan juga membutuhkan perbaikan jaringan irigasi, dukungan sarana pertanian, penguatan kelembagaan petani, serta pemahaman masyarakat mengenai manfaat mempertahankan lahan pertanian.

Dalam konteks tersebut, pemetaan partisipatif menjadi bagian penting dari penyediaan informasi yang sesuai dengan kondisi lapangan. Petani dan pengelola subak memiliki pengetahuan mengenai batas kepemilikan, pola tanam, jaringan irigasi, hingga perubahan penggunaan lahan.

Keterlibatan mereka dapat membantu memperbarui data sekaligus memvalidasi hasil pemetaan. Dengan demikian, teknologi geospasial tidak terpisah dari pengalaman masyarakat yang sehari-hari mengelola lahan.

Memahami Ketahanan Pangan melalui GeoAI

Pada sesi kedua, Fitria Nucifera membahas peran GeoAI dalam pemantauan ketahanan pangan. Dosen Program Studi Geografi Universitas Amikom Yogyakarta tersebut mengikuti kegiatan secara daring dari Jepang, tempatnya menempuh studi doktoral di Graduate School of Engineering, The University of Osaka.

Nuci mengajak peserta menelusuri asal bahan makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Dari contoh tersebut, ia menjelaskan keterkaitan antara pangan dengan lokasi produksi, jaringan distribusi, daya beli, dan pola konsumsi masyarakat.

Ia menguraikan empat pilar ketahanan pangan, yakni ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas. Persoalan pangan karena itu tidak cukup dilihat dari banyaknya hasil panen, tetapi juga dari kemampuan masyarakat memperoleh makanan yang aman dan bergizi secara berkelanjutan.

GeoAI mengintegrasikan kajian geospasial dengan kecerdasan buatan untuk membantu menganalisis persoalan tersebut. Pemanfaatannya mencakup pemetaan lahan pertanian, perkiraan hasil panen, identifikasi jaringan distribusi, serta pemantauan ancaman kekeringan dan gagal panen.

Analisis dapat menggabungkan citra satelit, data cuaca, kondisi tanah, dan informasi sosial ekonomi. Pendekatan ini membuka peluang untuk memahami hubungan antara kondisi wilayah dan kebutuhan pangan masyarakat secara lebih menyeluruh.

Data Lapangan Tetap Menjadi Penentu

Meski menawarkan berbagai kemampuan analisis, GeoAI tetap memiliki keterbatasan. Nuci mengingatkan bahwa resolusi citra, tutupan awan, dan ketidakpastian model perlu diperhatikan sebelum hasil pemodelan digunakan sebagai dasar kebijakan.

Pemeriksaan menggunakan data lapangan tetap diperlukan agar hasil analisis sesuai dengan kondisi sebenarnya. Teknologi berperan membantu manusia memahami informasi, bukan menggantikan pertimbangan manusia dalam menentukan tindakan.

“GeoAI itu hanya sebuah alat untuk membantu manusia mengambil keputusan. Keputusannya diambil manusia, bukan GeoAI,” tegasnya.

Sesi diskusi memperluas pembahasan mengenai pelaksanaan perlindungan lahan di Bali, penerapan teknologi pertanian di Jepang, serta pengintegrasian empat pilar ketahanan pangan dalam analisis geospasial.

Melalui pertukaran pengetahuan tersebut, kuliah umum menegaskan pentingnya mempertemukan kepakaran pertanian, teknologi geospasial, dan pengalaman masyarakat. Ketiganya diperlukan agar pemanfaatan teknologi dapat mendukung pengelolaan lahan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With: Ika Afianita Suherningtyas, Vidyana Arsanti