Mahasiswa semester IV Program Studi D3 Manajemen Informatika Politeknik Negeri Lampung mengikuti kunjungan akademik di Cinema Universitas AMIKOM Yogyakarta pada Selasa, 4 Agustus 2026. Kegiatan tersebut mempertemukan dosen dan mahasiswa untuk bertukar wawasan mengenai pendidikan vokasi, pembelajaran berbasis proyek, magang, tugas akhir, kesiapan kerja, serta pemanfaatan kecerdasan buatan dalam perkuliahan.
Rombongan terdiri atas mahasiswa dari empat kelas bersama sejumlah dosen pendamping. Kesamaan bidang pendidikan menjadi dasar bagi peserta untuk mempelajari pengelolaan Program Studi D3 Manajemen Informatika Universitas AMIKOM Yogyakarta sekaligus membandingkan pengalaman pembelajaran secara konstruktif.
Dosen Program Studi Manajemen Informatika Politeknik Negeri Lampung, Kurniawan Saputra, S.Kom., M.Kom., menjelaskan bahwa kunjungan tersebut terlaksana setelah pihaknya memperoleh rekomendasi dari rekan yang sedang menempuh studi lanjut. Universitas AMIKOM Yogyakarta kemudian merespons permohonan kunjungan dalam waktu singkat.
Kurniawan menyampaikan bahwa rombongan datang untuk mencari referensi pengembangan program studi, fasilitas, kegiatan mahasiswa, dan hubungan pendidikan dengan industri. Hasil kunjungan diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi serta masukan bagi pengembangan pembelajaran di Politeknik Negeri Lampung.
“Kami bukan datang untuk membandingkan, tetapi ingin belajar. Kami ingin melihat hal-hal yang dapat ditiru, diikuti, atau dikembangkan sesuai kebutuhan program studi kami,” ujar Kurniawan.
Ia turut menyoroti pentingnya ruang penyaluran bagi kemampuan mahasiswa. Peserta yang menguasai desain, animasi, pengembangan aplikasi, maupun produksi video membutuhkan proyek dan lingkungan yang memungkinkan keterampilannya digunakan untuk menjawab kebutuhan nyata.
Materi utama disampaikan oleh Ketua Program Studi D3 Manajemen Informatika Universitas AMIKOM Yogyakarta, Akhmad Dahlan, M.Kom. Ia mengawali pemaparan dengan membahas rasa kurang percaya diri yang terkadang dialami mahasiswa diploma dibandingkan mahasiswa program sarjana.
Menurut Akhmad Dahlan, pendidikan diploma mempunyai kekuatan pada pembelajaran yang bersifat terapan. Mahasiswa diarahkan untuk menghasilkan produk, menunjukkan kompetensi, dan memahami penerapan teknologi dalam kegiatan organisasi maupun industri.
“D3 merupakan pendidikan vokasi. Mahasiswa harus mampu menunjukkan apa yang dapat mereka buat sesuai konsentrasi dan kompetensinya,” jelas Akhmad Dahlan.
Program Studi D3 Manajemen Informatika Universitas AMIKOM Yogyakarta memberikan ruang pengembangan kemampuan melalui bidang aplikasi web, aplikasi perangkat bergerak, dan multimedia. Mahasiswa tetap mempelajari dasar-dasar teknologi informasi secara umum, tetapi dapat memperdalam bidang yang sesuai dengan minatnya.
Pengenalan bidang tersebut dimulai sejak mahasiswa menyelesaikan materi dasar pada semester pertama. Memasuki semester kedua, peserta mulai mengembangkan proyek secara bertahap melalui perkuliahan, praktikum, pendampingan dosen, dan kegiatan di laboratorium.
Model tersebut menempatkan proyek sebagai bagian penting dalam pembelajaran. Mahasiswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga diminta menerjemahkan pengetahuan menjadi situs web, aplikasi, media digital, maupun produk teknologi lainnya.
Pada semester kelima, mahasiswa diwajibkan mengikuti magang. Kegiatan tersebut dirancang agar peserta memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kompetensinya, bukan sekadar membantu aktivitas administratif di tempat magang.
Program studi melakukan evaluasi terhadap mitra untuk memastikan mahasiswa memperoleh kesempatan meningkatkan kemampuan. Peserta juga dapat mencari tempat magang secara mandiri selama pekerjaan yang dijalankan relevan dengan bidang pendidikan dan menghasilkan pengalaman profesional.
Menurut Akhmad, magang menjadi tempat mahasiswa mempelajari hal-hal yang sulit diperoleh sepenuhnya di ruang kelas. Mereka berlatih menjalankan tanggung jawab, memenuhi tenggat waktu, berkomunikasi dengan atasan, memahami kebutuhan pengguna, serta bekerja bersama tim.
Proyek yang dikembangkan selama magang dapat dilanjutkan menjadi tugas akhir. Mekanisme tersebut membantu mahasiswa menghubungkan pembelajaran akademik dengan permasalahan yang benar-benar ditemukan di perusahaan maupun masyarakat.
Selain jalur reguler, mahasiswa dapat menyelesaikan pendidikan melalui beberapa jalur berbasis capaian. Produk usaha digital, publikasi ilmiah, prestasi kompetisi, proyek perusahaan, karya kreatif, dan aktivitas sebagai kreator konten dapat dipertimbangkan selama relevan dengan kompetensi program studi serta memenuhi ketentuan akademik.
Akhmad menekankan bahwa fleksibilitas tersebut bukan berarti mahasiswa dapat mengajukan kegiatan apa pun sebagai tugas akhir. Setiap karya tetap harus membuktikan kemampuan yang sesuai dengan bidang pendidikan, mempunyai proses yang dapat dijelaskan, serta dapat dipertanggungjawabkan dalam ujian.
Ia turut memperkenalkan sejumlah karya mahasiswa yang telah digunakan oleh perusahaan tempat mereka menjalani magang. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa diploma dapat menghasilkan produk yang diterapkan di lingkungan kerja bahkan sebelum mengikuti wisuda.
Program Studi D3 Manajemen Informatika Universitas AMIKOM Yogyakarta juga mendorong mahasiswa menyelesaikan pendidikan tepat waktu. Konsentrasi yang dimulai lebih awal, pembelajaran berbasis proyek, dan keterhubungan magang dengan tugas akhir membantu mahasiswa menyusun perjalanan studi secara lebih terarah.
Lulusan selanjutnya dapat memilih bekerja, melanjutkan pendidikan, atau berwirausaha. Pengalaman kerja juga dapat menjadi bagian dari proses pendidikan berikutnya melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau sesuai ketentuan perguruan tinggi yang dituju.
Pembahasan berkembang melalui sesi diskusi mengenai penggunaan kecerdasan buatan dalam pendidikan vokasi. Dosen dan mahasiswa Politeknik Negeri Lampung mengajukan pertanyaan tentang batas penggunaan kecerdasan buatan, penerapannya dalam pemrograman, serta kesiapan kurikulum menghadapi perubahan industri teknologi informasi.
Akhmad memandang kecerdasan buatan sebagai alat yang dapat digunakan dengan aturan dan strategi evaluasi yang tepat. Mahasiswa boleh memanfaatkannya untuk mencari referensi maupun membantu pengembangan produk, tetapi tidak boleh menyerahkan seluruh proses berpikir kepada teknologi.
“AI boleh digunakan sebagai alat bantu, tetapi mahasiswa tetap harus memahami cara kerja produk dan bertanggung jawab terhadap hasil yang dibuat,” ujar Akhmad Dahlan.
Tanggung jawab tersebut diuji melalui kemampuan mahasiswa menjelaskan logika, proses bisnis, struktur program, fungsi kode, dan solusi yang dikembangkan. Produk yang selesai dibuat belum cukup apabila pembuatnya tidak memahami cara kerja maupun alasan di balik keputusan teknisnya.
Sekretaris Program Studi D3 Manajemen Informatika Universitas AMIKOM Yogyakarta, Lilis Dwi Farida, S.Kom., M.Eng., menambahkan bahwa penggunaan kecerdasan buatan tidak dapat dilarang secara menyeluruh. Namun, dosen perlu menyusun batasan berdasarkan tingkat kemampuan dan tujuan mata kuliah.
Pada pembelajaran dasar, mahasiswa dapat diminta menulis logika maupun rancangan program secara manual terlebih dahulu. Pendekatan tersebut membantu mereka memahami proses berpikir sebelum menerapkannya ke dalam bahasa pemrograman atau menggunakan bantuan teknologi.
Sementara itu, mahasiswa tingkat lanjut dapat menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu pengembangan proyek. Evaluasi kemudian diarahkan pada kemampuan mereka menguji hasil, menemukan kesalahan, menjelaskan fungsi, dan menyesuaikan produk dengan studi kasus yang diberikan.
Pembelajaran mengenai machine learning dan sains data juga tersedia sebagai pilihan pengembangan kemampuan. Mahasiswa yang tertarik dapat menambahkan teknologi tersebut pada aplikasi maupun sistem informasi yang dibuat, sedangkan kompetensi utama program tetap berorientasi pada kemampuan menghasilkan produk terapan.
Diskusi turut membahas rasa kurang percaya diri ketika mahasiswa melihat kemampuan teman yang berbeda. Akhmad menjelaskan bahwa setiap peserta mempunyai minat dan kekuatan masing-masing sehingga tidak harus menguasai seluruh bidang teknologi pada tingkat yang sama.
Mahasiswa yang tertarik pada desain antarmuka dapat memperdalam pengalaman pengguna, sedangkan peserta lain dapat berfokus pada pemrograman, aplikasi perangkat bergerak, multimedia, basis data, jaringan, atau pengelolaan sistem. Kemampuan dasar tetap diperlukan, tetapi spesialisasi membantu mahasiswa membangun identitas profesional.
Akhmad juga mengajak peserta aktif mengikuti seminar, pelatihan, kompetisi, pertukaran mahasiswa, dan kegiatan lintas kampus. Kesempatan tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membantu mahasiswa membangun relasi dan memperoleh informasi mengenai proyek maupun pekerjaan.
Menurutnya, istilah “orang dalam” sering digunakan secara kurang tepat ketika seseorang memperoleh kesempatan melalui kenalan. Dalam lingkungan profesional, kesempatan tersebut dapat tumbuh dari jejaring yang dibangun melalui prestasi, komunikasi, kepercayaan, dan keterlibatan dalam berbagai kegiatan.
“Mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang dikenal dosennya melalui proses dan kemampuannya. Bangunlah relasi dengan cara yang positif serta tunjukkan karya yang dapat dipercaya,” jelas Akhmad Dahlan.
Ia menambahkan bahwa kualitas program studi tidak hanya ditentukan oleh fasilitas. Mahasiswa dan dosen mempunyai peran utama melalui karya, prestasi, pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan keberanian mencoba hal baru.
Kegiatan diakhiri dengan pertukaran cendera mata dan foto bersama antara Universitas AMIKOM Yogyakarta dan Politeknik Negeri Lampung. Para mahasiswa kemudian mengikuti pengenalan mengenai lingkungan serta unit industri di Universitas AMIKOM Yogyakarta secara bergantian berdasarkan kelas.
Kunjungan tersebut diharapkan memperkaya perspektif mahasiswa dan dosen Politeknik Negeri Lampung mengenai pengelolaan pendidikan vokasi. Pembelajaran berbasis proyek, magang yang relevan, pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab, dan penguatan jejaring dapat menjadi bekal untuk meningkatkan kompetensi serta kesiapan menghadapi dunia kerja.
Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional




