
SMK Muhammadiyah 1 Prambon, Nganjuk mengikuti kunjungan industri di Universitas AMIKOM Yogyakarta pada Sabtu, 2 Juni 2026. Kegiatan yang diikuti siswa kelas XI Kompetensi Keahlian Desain Komunikasi Visual (DKV) di Cinema Universitas AMIKOM Yogyakarta tersebut menjadi kunjungan ketiga sejak 2024 untuk memperdalam produksi film, animasi, pengembangan portofolio, serta keterkaitan pendidikan dengan industri kreatif.
Rombongan didampingi Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 1 Prambon, Budi Haryanto, S.Pd., bersama kepala program keahlian dan para guru. Kunjungan tersebut tidak hanya memperkenalkan lingkungan perguruan tinggi, tetapi juga menjadi ruang untuk melihat perkembangan pembelajaran kreatif yang telah dilakukan sekolah setelah kunjungan sebelumnya.
Budi menjelaskan bahwa kunjungan pertama pada 2024 memberikan inspirasi bagi sekolah untuk menghadirkan ruang pemutaran karya. Gagasan tersebut kemudian diwujudkan secara bertahap melalui pembangunan mini bioskop berkapasitas sekitar 40 penonton.
“Sejak berkunjung pada 2024, kami terinspirasi dengan ruang yang dimiliki Amikom. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit kami dapat mewujudkan mini bioskop di sekolah,” ujar Budi.
Sekolah turut menampilkan profil dan perkembangan fasilitas tersebut kepada Universitas AMIKOM Yogyakarta. Mini bioskop dapat digunakan sebagai tempat pemutaran karya siswa sekaligus mendukung pembelajaran DKV yang berkaitan dengan produksi audiovisual.
Budi berharap kunjungan ketiga dapat memperluas pengetahuan siswa mengenai animasi. Selama ini, pembelajaran DKV di sekolah lebih banyak diarahkan pada produksi film dan desain, sehingga pengenalan teknologi animasi diharapkan membuka kemungkinan pengembangan kompetensi baru.
Ia juga menyampaikan keinginan sekolah untuk menjajaki kegiatan lanjutan yang memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar secara lebih dekat. Pelatihan, pendampingan, maupun kesempatan mengenal proses produksi dapat membantu peserta memahami standar kerja di bidang kreatif digital.
Materi dari Universitas AMIKOM Yogyakarta disampaikan oleh Staf Kunjungan dan LPJ Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional, Yusnia Andra Puspitaloka, S.Kom. Menanggapi perkembangan mini bioskop tersebut, Andra mengajak peserta melihat kunjungan industri sebagai awal dari proses pengembangan karya, bukan sekadar kegiatan melihat fasilitas kampus.
Pengenalan Cinema Universitas AMIKOM Yogyakarta memberikan gambaran mengenai beragam fungsi ruang pemutaran. Fasilitas tersebut digunakan untuk pemutaran film, seminar, kegiatan institusi, penayangan tugas akhir, serta apresiasi karya mahasiswa.
Bagi siswa DKV, ruang sinema dapat menjadi titik pertemuan berbagai kemampuan. Sebuah karya audiovisual memerlukan pengembangan gagasan, desain visual, pengambilan gambar, penyuntingan, tata suara, animasi, penyajian, hingga komunikasi kepada penonton.
Andra kemudian menggunakan perjalanan Universitas AMIKOM Yogyakarta sebagai contoh bahwa pengembangan sebuah institusi berlangsung melalui proses panjang. Kampus tersebut memulai kegiatan pendidikan pada 1994 dengan 32 mahasiswa dan fasilitas terbatas, kemudian berkembang melalui pengelolaan sumber daya serta pembangunan yang dilakukan secara bertahap.
Cerita tersebut diarahkan untuk mendorong siswa berani memulai karya menggunakan kemampuan dan fasilitas yang tersedia. Keterbatasan tidak harus menunda proses belajar selama peserta mempunyai tujuan dan terus meningkatkan kualitas pekerjaannya.
“Boleh bermimpi setinggi-tingginya, tetapi kalau berani bermimpi, kalian juga harus berusaha untuk mencapainya,” ujar Andra.
Pembahasan selanjutnya tidak berhenti pada pilihan program studi. Andra menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dapat menjadi tempat untuk menghubungkan pengetahuan, proyek, jejaring, dan pengalaman industri. Mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan melalui praktikum, magang, kompetisi, komunitas, program internasional, serta kolaborasi bersama dosen dan perusahaan.
Siswa DKV memperoleh gambaran mengenai jalur pendidikan yang berkaitan dengan desain, animasi, permainan digital, penyiaran, film, media kreatif, dan pemasaran. Program Studi Teknologi Informasi, misalnya, mempunyai bidang pembelajaran yang berkaitan dengan animasi dan pengembangan permainan digital. Sementara itu, Program Studi Ilmu Komunikasi memberikan ruang pengembangan kemampuan visual, pemasaran, penyiaran, dan sinema.
Menurut Andra, kemampuan digital dapat membuka peluang berkarya tanpa dibatasi lokasi. Ia memperkenalkan pengalaman mahasiswa yang memperoleh pendapatan melalui pembuatan situs web, film, iklan, dan animasi. Karya tersebut dapat dipasarkan kepada pengguna maupun perusahaan dari berbagai daerah.
“Walaupun berada di desa, kita boleh berpenghasilan dolar. Kemampuan digital memungkinkan karya menjangkau pasar yang lebih luas,” jelas Andra.
Peserta juga memperoleh contoh mahasiswa yang mengembangkan diri sebagai kreator konten. Aktivitas tersebut dapat menjadi pilihan profesi, tetapi tetap membutuhkan konsistensi, pengelolaan waktu, tanggung jawab, dan kemauan menyelesaikan pendidikan.
Melalui berbagai contoh tersebut, siswa diajak memahami bahwa portofolio tidak dibangun menjelang kelulusan. Karya dapat mulai dikembangkan sejak sekolah melalui tugas kelas, film pendek, desain promosi, animasi sederhana, dokumentasi kegiatan, maupun konten digital yang menyelesaikan kebutuhan tertentu.
Andra turut mengajak peserta melihat penerapan desain dan teknologi di luar media konvensional. Amikom Creative Economy Park menghubungkan pendidikan dengan industri perangkat lunak, animasi, penyiaran, permainan digital, teknologi imersif, jaringan komunikasi, dan pengembangan perusahaan rintisan.
Sejumlah produk diperkenalkan untuk menunjukkan luasnya penerapan kemampuan kreatif. Video imersif dapat digunakan untuk menghadirkan pengalaman baru di tempat wisata, sedangkan permainan simulasi dapat dikembangkan sebagai media edukasi. Teknologi interaktif juga dimanfaatkan di museum agar pengunjung tidak hanya melihat koleksi, tetapi dapat berinteraksi dengan konten digital.
Pengenalan tersebut memberikan perspektif bahwa siswa DKV tidak hanya dipersiapkan untuk membuat poster atau materi promosi. Kompetensi visual dapat dikembangkan menjadi ilustrasi, animasi, pengalaman interaktif, identitas produk, film, permainan digital, serta berbagai bentuk komunikasi yang memadukan kreativitas dengan teknologi.
Pada bidang film dan animasi, peserta menyaksikan trailer Battle of Surabaya. Film animasi dua dimensi tersebut mengangkat peristiwa 10 November melalui sudut pandang Musa, seorang penyemir sepatu yang menjadi kurir pada masa perjuangan.
Pengembangan karya tersebut tidak berakhir setelah film ditayangkan. Cerita dan karakter dilanjutkan menjadi berbagai produk turunan sebagai bagian dari pengelolaan kekayaan intelektual. Proses tersebut memperlihatkan bahwa sebuah karya dapat mempunyai nilai artistik sekaligus nilai ekonomi ketika dikembangkan secara berkelanjutan.
Peserta juga dikenalkan dengan keterlibatan alumni Universitas AMIKOM Yogyakarta dalam produksi film animasi Jumbo. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa proyek dan portofolio yang dibangun selama pendidikan dapat menjadi bekal untuk memasuki industri kreatif nasional.
Selain itu, siswa menyaksikan cuplikan film Kinah dan Rejo serta trailer animasi tiga dimensi Ajisaka. Ketiga karya tersebut memperlihatkan pendekatan produksi yang berbeda, mulai dari animasi dua dimensi, film dengan pemeran nyata, hingga pengembangan animasi tiga dimensi yang mengolah cerita mengenai sejarah dan kebudayaan Jawa.
Rangkaian kegiatan diakhiri dengan pertukaran cendera mata dan foto bersama antara Universitas AMIKOM Yogyakarta dan SMK Muhammadiyah 1 Prambon. Para peserta kemudian mengikuti tur untuk melihat lingkungan pembelajaran serta unit industri di bawah Yayasan AMIKOM Yogyakarta.
Kunjungan tersebut diharapkan memperkuat langkah SMK Muhammadiyah 1 Prambon dalam mengembangkan pembelajaran kreatif digital. Mini bioskop yang telah dibangun dapat menjadi ruang bagi siswa untuk bereksperimen, menayangkan karya, menerima masukan, dan mempersiapkan portofolio sebelum memasuki pendidikan tinggi maupun industri.
Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional




