
Yogyakarta — Universitas AMIKOM Yogyakarta menggelar seminar dan workshop penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) digital bagi mahasiswa arsitektur. Agenda ini menghadirkan materi tentang dasar penyusunan RAB, perhitungan volume pekerjaan, Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP), serta praktik penggunaan platform Smesticon sebagai alat bantu penyusunan RAB secara digital.
Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran praktis bagi mahasiswa untuk memahami proses penyusunan anggaran proyek konstruksi secara lebih terstruktur. Melalui agenda tersebut, peserta tidak hanya menerima penjelasan teori, tetapi juga diarahkan untuk mencoba langsung tahapan input data proyek, pengelompokan pekerjaan, pengisian volume, hingga simulasi pencetakan laporan RAB.
Dalam sesi awal, Mas Wika menyampaikan bahwa penyusunan RAB membutuhkan pemahaman menyeluruh terhadap proses pembangunan. Seorang estimator atau quantity surveyor perlu memahami pekerjaan sejak tahap persiapan, pekerjaan tanah, pondasi, struktur, hingga pekerjaan arsitektur.
“Seorang quantity surveyor atau estimator dalam menyusun RAB sudah harus mengetahui proses berdirinya bangunan yang mau dibuat, mulai dari persiapan, pekerjaan tanah, pekerjaan galian pondasi, dan item pekerjaan lainnya,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya kemampuan membaca gambar kerja sebelum melakukan perhitungan volume. Menurutnya, perhitungan volume pekerjaan harus memiliki dasar yang jelas agar dapat dipertanggungjawabkan kepada klien maupun pihak pelaksana proyek. Volume pekerjaan tidak hanya berkaitan dengan meter kubik, tetapi juga bisa menggunakan satuan meter persegi, meter lari, unit, titik, atau satuan lain sesuai jenis pekerjaan.
Materi kemudian berlanjut pada pembahasan AHSP. Dalam sesi tersebut, peserta dikenalkan pada komponen biaya yang meliputi bahan atau material, tenaga kerja, alat, koefisien, serta harga satuan. Narasumber juga menjelaskan bahwa harga satuan dapat berbeda di setiap daerah karena mengikuti kondisi empiris dan lokasi proyek.
Salah satu contoh yang dibahas adalah pekerjaan pasangan dinding bata. Peserta diajak memahami bagaimana ukuran bata, jenis pasangan, ketebalan spesi, serta faktor kehilangan material dapat memengaruhi koefisien kebutuhan bahan. Penjelasan ini membantu peserta melihat bahwa penyusunan RAB tidak hanya menghitung angka, tetapi juga membaca kondisi teknis dan kebutuhan di lapangan.

Pada sesi berikutnya, Silvi menjelaskan praktik penyusunan RAB digital menggunakan Smesticon. Ia menyampaikan bahwa Smesticon dikembangkan melalui kolaborasi lintas bidang, termasuk arsitektur, sipil, dan teknologi informasi. Platform ini dirancang untuk membantu proses penyusunan RAB agar lebih rapi, terdokumentasi, dan mudah diperiksa kembali.
“Dari sudut pandang arsitek, hal penting yang harus diketahui adalah formula pekerjaan. Formula itu didapat dari gambar kerja yang dibuat oleh arsitek,” ungkap Silvi.
Peserta kemudian diarahkan untuk login ke platform, membuat data proyek, menentukan tipe proyek, mengisi jumlah lantai, luas bangunan, estimasi nilai proyek, status pekerjaan, serta menambahkan item pekerjaan pada RAB master. Dalam praktiknya, peserta bekerja secara berkelompok sesuai pembagian yang telah disiapkan oleh Pak Nuris dari Universitas AMIKOM Yogyakarta.
Silvi juga menjelaskan pentingnya digitalisasi RAB dalam pekerjaan konstruksi. Menurutnya, dokumen RAB memiliki banyak item pekerjaan, bahkan untuk bangunan sederhana sekalipun. Jika penyusunan masih dilakukan secara manual tanpa dokumentasi yang rapi, potensi kesalahan dapat meningkat dan berdampak pada perencanaan biaya.
Selain input data pekerjaan, peserta juga mendapat penjelasan tentang fitur overhead, kontingensi, TKDN, AHSP master, AHSP lokal, hingga cetak laporan. Dalam penyusunan laporan, peserta dikenalkan pada perbedaan RAB untuk owner estimate, RAB penawaran, serta RAP atau Rencana Anggaran Proyek.
Pada bagian akhir kegiatan, peserta juga dikenalkan dengan fitur kalkulator besi untuk membantu menghitung kebutuhan tulangan pada pekerjaan beton bertulang. Fitur ini menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi dapat mendukung proses perhitungan teknis yang membutuhkan ketelitian tinggi.
Nurizka Fidali, ST, M. Sc sebagai perwakilan dari Prodi Arsitektur Universitas AMIKOM Yogyakarta, menyampaikan apresiasi kepada tim pemateri atas materi yang diberikan. Ia menilai kegiatan ini membantu mahasiswa memahami proses penyusunan RAB dengan cara yang lebih mudah diikuti, terutama melalui praktik langsung menggunakan platform digital.
“Materi ini sangat membantu. Dalam penyusunan RAB, mahasiswa bisa lebih mudah karena tinggal mengikuti alur yang sudah dijelaskan,” ujarnya dalam penutupan kegiatan.
Melalui seminar dan workshop ini, Universitas AMIKOM Yogyakarta berharap mahasiswa dapat memahami penyusunan RAB tidak hanya sebagai proses administratif, tetapi juga sebagai bagian penting dari perencanaan proyek yang membutuhkan ketelitian, pemahaman gambar kerja, serta kemampuan membaca kebutuhan lapangan. Kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkuat kesiapan mahasiswa dalam menghadapi kebutuhan industri konstruksi yang semakin adaptif terhadap teknologi digital.
Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
Koresponden : Ani Hastuti Arthasari,
Source Video : https://www.instagram.com/reels/DaC3PFdJACp/




