
Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Universitas AMIKOM Yogyakarta, Prof. Arief Setyanto, S.Si., M.T., Ph.D., menjadi salah satu panelis dalam RI–EU Science & Technology Collaboration Forum: Green Technology for Sustainable Climate Solution yang digelar di Grha Diktisaintek, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Jakarta, pada Rabu, 22 April 2026.
Forum ini mempertemukan perwakilan pemerintah, akademisi, peneliti, perguruan tinggi, kedutaan besar negara anggota Uni Eropa, organisasi internasional, serta mitra strategis yang memiliki perhatian pada isu pembangunan hijau berkelanjutan. Melalui tema Green Technology for Sustainable Climate Solution, kegiatan ini menempatkan teknologi hijau sebagai salah satu pendekatan penting dalam menjawab tantangan perubahan iklim, transisi energi, pengelolaan lingkungan, dan penguatan inovasi berbasis riset.
Forum ini menghadirkan sejumlah tokoh penting, di antaranya Prof. Brian Yuliarto (Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi); H.E. Denis Chaibi, (Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia); Dr. Ahmad Najib B., M.A., (Direktur Jenderal Sains dan Teknologi); serta Prof. Dr. Eng. Yudi Darma, M.Si., (Direktur Diseminasi dan Utilisasi Sains dan Teknologi). Sebagai Keynote Speaker, Forum ini juga Menghadirkan Mr. Jean-Marc Roda (Regional Director at CIRAD, French Agricultural Research Centre for International Development, yang mewakili INRAE dan AGREEnium untuk kawasan Asia Tenggara).
Salah satu fokus penting dalam agenda tersebut adalah pengenalan peluang Horizon Europe Funding, yaitu skema pendanaan riset Uni Eropa yang dapat diakses oleh peneliti dan akademisi Indonesia melalui kolaborasi global. Agenda ini juga menjadi upaya untuk menjembatani informasi pendanaan agar lebih mudah dipahami dan diakses oleh perguruan tinggi serta peneliti di Indonesia.
Selain itu, Dalam forum tersebut juga dilakukan peluncuran EU Green Engineering Hub, yaitu platform yang menyediakan informasi terkait program studi, beasiswa, peluang karier, sumber pendanaan, dan kolaborasi di bidang green engineering di kawasan Uni Eropa. Platform ini ditujukan untuk mahasiswa, dosen, peneliti, dan profesional yang ingin mengembangkan kompetensi dalam bidang teknologi hijau dan keberlanjutan.
Kolaborasi Riset Silvanus untuk Mitigasi Kebakaran Hutan

Dalam sesi panel, Prof. Arief menjelaskan bahwa Silvanus merupakan proyek riset yang didanai Uni Eropa melalui program Horizon 2020. Proyek ini melibatkan konsorsium internasional dari berbagai negara dan diarahkan untuk menghasilkan inovasi teknologi dalam mitigasi serta pengelolaan kebakaran hutan. Universitas AMIKOM Yogyakarta terlibat sebagai salah satu mitra dari Indonesia dengan kontribusi utama pada pengembangan teknologi berbasis informatika.
“Silvanus merupakan proyek penelitian yang bertujuan menghasilkan inovasi teknologi untuk mengatasi kebakaran hutan. Dalam forum ini, kami berbagi pengalaman tentang bagaimana Universitas AMIKOM Yogyakarta terlibat dalam riset internasional, mulai dari proses mendapatkan pendanaan, pelaksanaan proyek, hingga dampak yang dihasilkan,” jelas Prof. Arief.
Salah satu kontribusi penting Universitas AMIKOM Yogyakarta dalam proyek tersebut adalah pengembangan Open Forest Map, yaitu sistem yang digunakan untuk memantau proses rehabilitasi hutan setelah terjadi kebakaran. Sistem ini memanfaatkan data citra satelit untuk melihat perubahan kondisi hutan dari waktu ke waktu, sehingga proses pemulihan kawasan terdampak dapat diamati secara lebih terukur.
Prof. Arief menjelaskan, setelah kebakaran terjadi, kondisi hutan dapat berubah secara drastis. Area yang sebelumnya hijau dapat berubah menjadi tanah terbuka atau kawasan bekas terbakar. Namun, dalam beberapa kasus, hutan dapat mengalami pemulihan secara alami, sementara pada kasus lain diperlukan intervensi melalui penanaman kembali atau program rehabilitasi. Di sinilah teknologi pemantauan menjadi penting untuk mengetahui apakah suatu kawasan menunjukkan perkembangan yang membaik atau justru membutuhkan penanganan tambahan.
“Melalui Open Forest Map, pengguna dapat memilih daerah yang ingin diamati, menentukan rentang waktu pemantauan, lalu melihat bagaimana perkembangan kondisi hutannya. Dari data tersebut, kita dapat mengetahui apakah kawasan bekas kebakaran mengalami perbaikan atau belum,” ungkap Prof. Arief.
Menurutnya, sistem tersebut telah diuji di beberapa lokasi percontohan, baik di Indonesia maupun di kawasan Uni Eropa, dengan kondisi lapangan yang berbeda. Pengujian di berbagai wilayah ini menjadi penting karena karakter hutan tidak selalu sama. Hutan gambut, hutan mineral, kawasan monokultur, hingga hutan yang berada dekat permukiman memiliki karakteristik dan tantangan penanganan yang berbeda.
Selain Open Forest Map, Prof. Arief juga memaparkan kontribusi lain yang dikembangkan dalam proyek Silvanus. Salah satunya adalah pemanfaatan social media sensing untuk mendeteksi informasi kebakaran secara lebih cepat. Menurutnya, dalam beberapa kondisi, informasi awal tentang kebakaran tidak selalu muncul dari pemberitaan resmi, tetapi dapat muncul lebih cepat melalui media sosial, terutama jika kebakaran terjadi di kawasan yang dekat dengan penduduk.
Teknologi tersebut memungkinkan data dari media sosial dianalisis untuk melihat lokasi, intensitas percakapan, serta kemungkinan titik kejadian. Dengan pendekatan ini, informasi awal dapat membantu proses respons sebelum laporan formal tersedia. Selain itu, Universitas AMIKOM Yogyakarta juga terlibat dalam pengembangan aplikasi pemantauan keragaman hayati dan sistem pendukung distribusi sumber daya pemadam kebakaran.
Prof. Arief menekankan bahwa kebakaran hutan tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan lokal. Dampaknya dapat meluas hingga melewati batas negara, baik melalui asap, emisi, maupun dampak ekologis. Karena itu, ia menilai penyelesaiannya membutuhkan kerja sama lintas negara dan lintas bidang ilmu.
“Masalah kebakaran hutan adalah masalah global. Kalau terjadi kebakaran di satu wilayah, dampaknya bisa dirasakan oleh banyak pihak. Karena itu, penyelesaiannya tidak bisa dilakukan sendirian. Harus ada kolaborasi antara peneliti, pemerintah, dan berbagai bidang keilmuan,” ujarnya.
Prof. Arief Tekankan Kolaborasi Setara dalam Riset Internasional
Prof. Arief menyampaikan bahwa pengalaman dalam Silvanus menunjukkan pentingnya kerja tim dalam riset berskala internasional. Sebuah gagasan riset, menurutnya, akan lebih kuat jika melibatkan banyak keahlian sejak awal. Dengan begitu, hasil penelitian tidak berhenti pada konsep, tetapi dapat diarahkan menjadi produk, sistem, atau solusi yang memiliki manfaat lebih luas.
Ia juga menyoroti pentingnya prinsip kesetaraan dalam kolaborasi internasional. Menurut Prof. Arief, peneliti dan mahasiswa Indonesia tidak perlu merasa lebih rendah ketika bekerja sama dengan mitra dari Eropa. Indonesia memiliki keahlian, pengalaman, dan data yang sangat penting, khususnya dalam isu hutan tropis dan keanekaragaman hayati.
“Kolaborasi itu membutuhkan kesetaraan. Kita di Indonesia juga memiliki kapabilitas yang sama. Dalam isu biodiversity, misalnya, Indonesia memiliki pengalaman yang sangat penting karena kekayaan hayatinya ada di sini,” ujarnya.
Prof. Arief menambahkan, kerja sama internasional seharusnya dibangun melalui kesadaran bahwa setiap pihak memiliki kontribusi yang saling melengkapi. Uni Eropa memiliki pengalaman, jejaring, dan akses pendanaan riset yang kuat, sementara Indonesia memiliki konteks lapangan, keanekaragaman hayati, serta persoalan nyata yang dapat menjadi dasar pengembangan riset berdampak.
Terselenggaranya RI–EU Science & Technology Collaboration Forum diharapkan dapat memperluas kerja sama antara Indonesia dan Uni Eropa dalam bidang sains, teknologi hijau, dan inovasi berkelanjutan. Pesan kolaborasi yang disampaikan Prof. Arief juga menjadi pengingat bahwa penyelesaian masalah global membutuhkan kerja bersama, kesetaraan, dan keterbukaan lintas disiplin.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With : Arief Setyanto




