Dosen Universitas AMIKOM Yogyakarta meraih 18 pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada Tahun Anggaran 2026. Dari jumlah tersebut 4 di antaranya diraih oleh Prof. Dr. Kusrini, M.Kom. Dalam artikel khusus ini, @amikomjogja mengangkat salah satu proposal beliau. yang memperoleh pendanaan pada Program Hilirisasi Riset Prioritas, yakni:
“LAUNDRY BOX: Sistem Layanan Laundry Berbasis Loker Pintar Terintegrasi AI-IoT”
LAUNDRY BOX adalah sistem layanan laundry berbasis loker pintar yang terintegrasi dengan AI dan IoT agar layanan laundry mandiri dapat dikembangkan dengan pendekatan yang lebih terjangkau dan lebih adaptif terhadap kebutuhan pengguna.
Prof. Kusrini menjelaskan bahwa Laundry Box merupakan pengembangan lanjutan dari riset sebelumnya yang berangkat dari kebutuhan usaha laundry self service. Dalam penelitian terdahulu, tim mengembangkan sistem bernama Kioska, yaitu solusi self service laundry yang memungkinkan mesin cuci biasa dioperasikan secara mandiri oleh pengguna melalui dukungan teknologi Internet of Things (IoT). Dari fondasi itulah, penelitian Laundry Box kemudian diarahkan untuk memperkuat kesiapan produk menuju pemanfaatan yang lebih luas.
Prof. Kusrini menjelaskan bahwa LAUNDRY BOX lahir dari kebutuhan konkret di sektor usaha laundry. Ia melihat bahwa model self service laundry sebenarnya semakin dibutuhkan, tetapi investasi awal untuk menggunakan mesin laundry koin khusus masih cukup tinggi. Dalam penjelasannya, ia membandingkan harga mesin cuci biasa yang jauh lebih terjangkau dengan mesin laundry model koin yang nilainya bisa melonjak berkali-kali lipat. Dari situ, timnya mencoba membangun pendekatan baru dengan memanfaatkan mesin cuci biasa yang dipadukan dengan IoT, sehingga konsep layanan mandiri tetap bisa dihadirkan tanpa bergantung pada mesin dengan biaya sangat besar.
Dengan pendekatan ini, sistem tidak dibangun dari mesin khusus yang mahal, tetapi dari perangkat yang lebih terjangkau dan lebih dekat dengan kemampuan investasi usaha kecil. Penelitian ini dengan demikian tidak hanya berorientasi pada inovasi teknis, tetapi juga pada keterjangkauan implementasi di lapangan.

Proposal ini memperoleh pendanaan melalui Program Hilirisasi Riset Prioritas, yaitu program yang diarahkan untuk mendorong hasil riset agar tidak berhenti pada tahap prototipe, tetapi bergerak menuju pemanfaatan yang lebih dekat dengan masyarakat dan pasar. Dalam konteks LAUNDRY BOX, tahapan hilirisasi menjadi penting karena pengembangan inovasi ini tidak lagi hanya berfokus pada penciptaan teknologi, melainkan juga pada kesiapan implementasi, pengujian lanjutan, dan kemungkinan komersialisasinya.
Dengan kata lain, penelitian ini tidak hanya berbicara tentang bagaimana teknologi dibuat, tetapi juga bagaimana teknologi itu bisa diterapkan, diterima, dan memberi manfaat langsung bagi pelaku usaha. Inilah yang membedakan hilirisasi dari penelitian awal: fokusnya bukan hanya menghasilkan sistem, tetapi menyiapkan jalan agar sistem itu dapat hidup di dunia nyata.
“Kalau di hilirisasi ini lebih ke arah gimana caranya persiapan untuk komersialisasi. Jadi luarannya tidak lagi prototype, karena kami sudah punya prototype, tetapi berikutnya adalah gimana caranya kita bisa mendekatkan ini ke pasar,” jelasnya
Laundry Box dirancang bukan sekadar untuk menciptakan teknologi baru, tetapi untuk menghadirkan solusi yang realistis dan dapat diterapkan. Arah penelitian ini bukan semata sebagai konsep teknologi, melainkan sebagai solusi yang diharapkan dapat menjawab kebutuhan riil di sektor usaha jasa. Dengan memadukan efisiensi perangkat, dukungan IoT, dan orientasi pada model bisnis, penelitian ini membuka peluang hadirnya layanan laundry mandiri yang lebih mudah diakses oleh pelaku usaha kecil. Pendekatan semacam ini juga memperlihatkan bagaimana riset perguruan tinggi dapat diarahkan untuk menyelesaikan persoalan konkret di masyarakat.
Lebih jauh, penelitian Laundry Box memperkuat komitmen Universitas AMIKOM Yogyakarta dalam mendorong hasil riset agar tidak berhenti pada laboratorium. Riset ini bergerak dari identifikasi masalah, pengembangan solusi teknologi, hingga persiapan menuju adopsi pasar. Dengan demikian, penelitian tidak hanya menghasilkan luaran akademik, tetapi juga membangun peluang lahirnya produk yang relevan, aplikatif, dan berdaya guna.
Keberhasilan proposal ini memperoleh pendanaan menunjukkan bahwa hasil riset Universitas AMIKOM Yogyakarta memiliki potensi untuk berkembang lebih jauh ke tahap pemanfaatan. Melalui LAUNDRY BOX, Kusrini, memperlihatkan bahwa inovasi yang berangkat dari kebutuhan lapangan, dibangun melalui proses yang berkelanjutan, dan diarahkan dengan visi hilirisasi yang jelas, memiliki peluang besar untuk memberi manfaat lebih luas. Hal ini menegaskan satu hal penting: riset yang baik tidak berhenti pada temuan, tetapi terus bergerak hingga menemukan jalannya sendiri untuk hadir di tengah masyarakat.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With Kusrini




