Perjalanan Mei Parwanto Kurniawan Menyelesaikan Studi Doktoral di Universitas AMIKOM Yogyakarta

7 July 2026 | UMUM

Menyelesaikan studi doktoral bukan hanya tentang kemampuan melakukan penelitian, tetapi juga tentang ketekunan, konsistensi, dan kemampuan untuk menghadapi berbagai tantangan akademik. Hal tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang dilalui Mei Parwanto Kurniawan, M.Kom., dosen Program Studi S1 Sistem Informasi sekaligus Direktur Direktorat Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (DAAK) Universitas AMIKOM Yogyakarta.

Setelah menempuh pendidikan doktoral selama enam semester, Mei berhasil menyelesaikan studinya dan menjadi mahasiswa pertama yang mengikuti ujian tertutup pada Program Doktor Universitas AMIKOM Yogyakarta.

Menurut Mei, salah satu tantangan terbesar selama studi doktoral adalah menjaga konsistensi dalam publikasi ilmiah. Sejak awal, ia menargetkan agar setiap tahapan penelitian menghasilkan luaran yang dapat dipublikasikan, sehingga penelitian tidak berhenti pada dokumen disertasi semata.

Pada tahap seminar proposal, ia memublikasikan hasil kajian awal melalui proceedings internasional yang diterbitkan oleh IEEE dan terindeks di Scopus. Penelitian tersebut kemudian berkembang menjadi dua artikel pada jurnal nasional terakreditasi Sinta 2 dan satu artikel internasional terindeks Scopus yang membahas penerimaan pengguna terhadap model DEGREE dengan menggunakan pendekatan Technology Acceptance Model (TAM). Selain itu, satu artikel internasional lainnya masih dalam proses review di jurnal bereputasi kategori Q2.

Perjalanan publikasi tersebut tidak selalu berjalan mulus. Mei mengaku pernah mengalami penolakan dari beberapa jurnal sebelum akhirnya memperoleh publikasi yang sesuai dengan target akademik.

“Kalau ada revisi, ya revisi. Kalau ditolak, perbaiki lagi dan cari jurnal yang lebih sesuai. Yang penting jangan berhenti menulis dan terus belajar dari setiap masukan yang diberikan reviewer,” ujarnya.

Dalam proses publikasi internasional, Mei menerapkan strategi yang menurutnya cukup membantu. Ia tidak hanya mencari jurnal yang sesuai dengan bidang penelitian, tetapi juga aktif berkomunikasi dengan editor jurnal untuk memperoleh gambaran tentang proses review dan estimasi waktu pengambilan keputusan.

Menurutnya, langkah tersebut penting karena mahasiswa doktoral harus mampu mengelola risiko keterlambatan publikasi yang sering kali sulit diprediksi. Ia biasanya mengidentifikasi sejumlah jurnal yang relevan dengan topik penelitiannya, kemudian menghubungi editor atau publisher untuk memperoleh informasi mengenai alur dan perkiraan waktu review. Informasi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan tujuan publikasi, terutama karena publikasi merupakan bagian penting dari persyaratan akademik pada jenjang doktoral.

Menurutnya, publikasi ilmiah membutuhkan strategi, kesabaran, dan kemampuan mengelola berbagai kemungkinan selama proses review. Karena itu, ia selalu menyiapkan beberapa artikel berdasarkan data penelitian yang berbeda sebagai bagian dari manajemen risiko agar target studi tetap dapat dicapai sesuai rencana.

Di balik perjalanan akademik tersebut, Mei mengakui bahwa motivasi terbesarnya berasal dari keluarga. Ayahnya, Nurhadi, dan ibunya, Partumi, yang berprofesi sebagai pendidik, telah menanamkan nilai-nilai penting tentang pendidikan, kerja keras, dan ketekunan sejak kecil.

Sebagai anak laki-laki satu-satunya di antara empat bersaudara, ia memiliki keinginan besar agar kedua orang tuanya dapat menyaksikan langsung penyelesaian studi doktoralnya. Namun, Tuhan memiliki rencana yang berbeda. Tiga bulan sebelum pelaksanaan ujian tertutup, sang ayah berpulang untuk selama-lamanya.

“Saya sebenarnya ingin sekali Bapak bisa menyaksikan langsung proses akhir studi ini dan hadir saat wisuda nanti. Namun Allah berkehendak lain. Saya hanya berharap ilmu yang saya peroleh dapat menjadi amal jariah bagi beliau,” ungkap Mei.

Ia juga menyampaikan bahwa dukungan istri, Wafa Sofiah Muchtar, serta ketiga putrinya, Aqeela Yasmin Azzahra, Ayyusha Maryam Mafaza, dan Almeera Syaquena Muafa, menjadi sumber semangat yang membantu menjaga konsistensi selama menjalani penelitian, menyusun artikel ilmiah, menghadapi revisi, hingga mempersiapkan ujian tertutup.

“Keberhasilan ini bukan hasil kerja saya sendiri. Ada doa orang tua, dukungan keluarga, arahan promotor dan pembimbing, serta bantuan banyak pihak yang membuat saya bisa sampai pada tahap ini,” katanya.

Selain dukungan keluarga, Mei juga mengakui bahwa lingkungan akademik di Program Doktor Universitas AMIKOM Yogyakarta berperan penting dalam menjaga semangatnya selama menjalani studi. Menurutnya, pengelola Program Doktor senantiasa memberikan pendampingan, arahan, dan motivasi agar mahasiswa dapat menyelesaikan setiap tahapan studi sesuai dengan target yang telah direncanakan.

Dukungan yang tidak kalah berarti juga datang dari rekan-rekan Angkatan Pertama Program Doktor Universitas AMIKOM Yogyakarta. Bersama Asro Nasiri, Bayu Yanuargi, Anggit Dwi Hartanto, Mujiyanto, dan Agus Purwanto, mereka membangun komunikasi yang intens melalui grup WhatsApp sebagai sarana untuk berbagi informasi, pengalaman, dan motivasi selama menjalani studi doktoral. Grup tersebut menjadi ruang untuk saling mengingatkan, menyemangati, dan saling menguatkan saat menghadapi berbagai tantangan akademik.

Mei menilai kebersamaan tersebut sebagai salah satu faktor yang membantu menjaga konsistensi dan semangat belajar. Selain rekan satu angkatan, dukungan serta berbagi pengalaman dari para senior Program Doktor Universitas AMIKOM Yogyakarta juga memberikan banyak pelajaran berharga dalam menghadapi proses penelitian, publikasi, hingga penyelesaian disertasi.

Dukungan moral juga datang dari sahabat-sahabat yang telah dikenalnya sejak masa sekolah melalui grup alumni SD Negeri Donohudan 1, SMP Negeri 9 Surakarta, dan SMA Negeri 6 Surakarta, ia mendapatkan banyak doa, motivasi, dan semangat selama menempuh pendidikan doktoral. Meskipun telah menjalani profesi dan kehidupan yang berbeda-beda, komunikasi yang tetap terjalin dengan para sahabat lama tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan panjang pendidikan tidak pernah dilalui seorang diri.

Menurutnya, perhatian sederhana berupa doa, ucapan penyemangat, serta dukungan dari para sahabat sering kali menjadi energi tambahan di tengah kesibukan penelitian, publikasi, pekerjaan, dan penyelesaian disertasi. Baginya, keberhasilan menyelesaikan studi doktoral merupakan hasil dari dukungan banyak pihak yang hadir dalam berbagai fase hidupnya.

Salah satu pelajaran yang paling membekas baginya berasal dari promotornya, Prof. Dr. M. Suyanto, M.M.

“Prof. Suyanto pernah berpesan kepada saya, setelah lulus S3, jangan sombong atau jumawa. Ilmu yang kita miliki sejatinya hanya seujung kuku dibandingkan luasnya ilmu pengetahuan yang ada,” kenangnya.

Bagi Mei, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa gelar doktor bukanlah akhir dari proses belajar. Sebaliknya, gelar tersebut merupakan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk terus belajar, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Perjalanan yang dilaluinya menunjukkan bahwa keberhasilan akademik tidak hanya dibangun oleh kemampuan intelektual, tetapi juga oleh ketekunan, kerendahan hati, doa, dukungan keluarga, persahabatan, serta lingkungan akademik yang positif. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain bahwa keberhasilan tidak diraih dalam semalam, melainkan melalui proses panjang yang dijalani dengan kesungguhan, kesabaran, dan komitmen untuk terus belajar.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With : Mei Parwanto Kurniawan