Mengenal Peraih Pendanaan Kemdiktisaintek 2026, Kembangkan Riset Peramalan Inflasi Regional

20 April 2026 | UMUM

Dosen Universitas AMIKOM Yogyakarta meraih 19 pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknataan pada Tahun Anggaran 2026. Dari jumlah tersebut, salah satu proposal yang memperoleh pendanaan berasal dari Ferian Fauzi Abdullah, S.Kom., M.Kom. Dalam artikel khusus ini, @amikomjogja mengangkat proposal Ferian yang memperoleh pendanaan pada Program Penelitian skema Fundamental Reguler, yakni:

“Residual Attention-based Spatio-Temporal Graph Convolutional Network berbasis Non-Euclidean Socio-Economic Embeddings untuk peramalan presisi inflasi regional di Indonesia”.

Penelitian ini berfokus pada pengembangan model kecerdasan artifisial untuk memprediksi inflasi dengan lebih akurat melalui pendekatan Residual Attention-based Temporal Convolutional Network berbasis non-Euclidean socio-economic graph. Penelitian ini berangkat dari persoalan yang cukup mendasar dalam peramalan time series atau rentetan data waktu. Ferian menjelaskan bahwa dalam banyak kasus, kecerdasan buatan cenderung bekerja lebih baik ketika dilatih dengan data yang panjang.

Namun, untuk peramalan ekonomi seperti inflasi, tidak semua data lama selalu relevan untuk memprediksi kondisi masa depan. Perubahan perilaku masyarakat, pola konsumsi, dan dinamika ekonomi bisa membuat data lama justru kurang tepat dijadikan dasar proyeksi. Karena itu, penelitiannya berusaha menjawab tantangan ketika data yang relevan justru relatif pendek, tetapi tetap dituntut menghasilkan akurasi yang tinggi.

“Kelemahan dari machine learning, artificial intelligence, itu kalau datanya sedikit kan bodoh. Karena sebenarnya AI itu harus di-training dengan data yang banyak, sehingga tambah pintar. Nah problemnya, data banyak ini tidak relevan dengan masa depan,” ujarnya.

Dari persoalan itulah lahir gagasan untuk memperkaya data yang pendek agar tetap bisa digunakan untuk peramalan yang presisi. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah dengan melihat kedekatan antardaerah, tidak hanya dari sisi geografis, tetapi juga dari sisi sosial ekonomi. Menurut Ferian inflasi tidak selalu merambat hanya karena wilayahnya berdekatan secara fisik. Ada daerah-daerah yang secara geografis berjauhan, tetapi memiliki pola konsumsi dan dinamika ekonomi yang mirip, sehingga perubahan inflasi di satu daerah bisa berhubungan dengan daerah lain yang tidak berada tepat di sebelahnya. Dari situ, ia menggunakan pendekatan non-Euclidean untuk membaca relasi yang tidak hanya bertumpu pada jarak fisik, tetapi juga pada kemiripan karakter sosial ekonomi.

Ferian mencoba “memperkaya” data pendek tersebut dengan menambahkan informasi hubungan sosial-ekonomi antardaerah, bukan hanya kedekatan geografis. Ia melihat bahwa rambatan inflasi tidak selalu mengikuti jarak wilayah, tetapi juga dipengaruhi oleh kemiripan pola konsumsi masyarakat, sehingga kota yang berjauhan pun bisa memiliki pola inflasi yang saling terkait. Dengan menggabungkan pola waktu, perhatian model terhadap informasi penting, dan graf sosial-ekonomi antarkota, penelitian ini ditujukan untuk menghasilkan prediksi inflasi yang lebih presisi dan relevan sebagai dasar analisis ekonomi di masa depan.

Penelitian ini memperoleh pendanaan melalui skema Fundamental Reguler, yaitu skema dalam Program Penelitian yang ditujukan untuk mendukung riset yang bersifat mendasar dan teoritis, dengan luaran utama berupa publikasi ilmiah. Dalam skema ini, penelitian difokuskan pada penguatan gagasan, metode, dan kebaruan ilmiah yang nantinya bisa menjadi pijakan bagi penelitian terapan pada tahap berikutnya.

Proposal ini juga lahir dari kerja tim yang solid. Ferian menegaskan bahwa riset yang berkelanjutan tidak mungkin dibangun sendirian. Ia menyebut bahwa sejak 2022, tim riset yang ia bangun bersama rekan-rekan dosen terus bergerak dengan arah yang jelas, saling mendukung, dan saling menguatkan dari satu proposal ke proposal berikutnya. Menurutnya, riset yang sustain memang harus bertumpu pada tim, bukan pada kerja personal semata.

“Kalau untuk menurut penelitian itu yang berkelanjutan, yang sustain, itu harus tim. Penelitian itu kalau personal itu sulit, jadi tim dan tools itu penting sekali,” jelasnya.

Yang membuat penelitian ini semakin menarik adalah potensi penerapannya di masa depan. Meski saat ini masih berada pada tahap fundamental dengan luaran utama berupa paper, Ferian melihat bahwa hasil riset ini bisa menjadi alternatif pendekatan untuk mendukung kebutuhan lembaga atau pihak yang memerlukan peramalan inflasi secara lebih akurat. Ia mencontohkan bahwa model seperti ini pada akhirnya dapat menjadi alternatif dalam membaca tren ekonomi masa depan di berbagai daerah di Indonesia. Dengan kata lain, penelitian ini berangkat dari ranah metodologis, tetapi memiliki arah manfaat yang sangat praktis.

Keberhasilan proposal ini memperoleh pendanaan menunjukkan bahwa penelitian fundamental dapat tumbuh menjadi karya yang kuat secara akademik sekaligus relevan dengan kebutuhan kebijakan dan masyarakat. Melalui riset tentang peramalan presisi inflasi regional di Indonesia, Ferian memperlihatkan bahwa tantangan ekonomi yang kompleks dapat dibaca dengan pendekatan kecerdasan buatan yang lebih peka terhadap dinamika sosial ekonomi antardaerah. Hal ini menegaskan satu hal penting: penelitian yang baik tidak hanya lahir dari metode yang canggih, tetapi juga dari kemampuan membaca persoalan nyata, membangun tim yang solid, dan menjalaninya sebagai proses jangka panjang yang terus berkembang.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With Ferian Fauzi Abdullah