Dosen Universitas AMIKOM Yogyakarta meraih 18 pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada Tahun Anggaran 2026. Dari jumlah tersebut, satu pendanaan berasal dari Program Pengabdian kepada Masyarakat. Dalam artikel khusus ini, @amikomjogja mengangkat proposal Windha Mega Pradnya Dhuhita, M.Kom. yang memperoleh pendanaan pada skema Pemberdayaan Desa Binaan, yakni:
“PDB Teknologi Pengelolaan Sampah Terpadu Menjadi Bahan Bakar Minyak di Desa Triharjo Sleman Yogyakarta”.

Proposal ini memperoleh pendanaan melalui skema Pemberdayaan Desa Binaan, yaitu bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat yang diarahkan untuk mendampingi desa secara bertahap dan berkelanjutan. Dalam penjelasannya, Windha menyampaikan bahwa program yang dijalankannya merupakan skema multi years selama tiga tahun. Artinya, kegiatan tidak hanya dilaksanakan sekali, tetapi dirancang bertahap dari tahun ke tahun dengan fokus yang terus berkembang. Pada tahun pertama, program diarahkan pada sosialisasi dan manajemen lingkungan. Tahun kedua berfokus pada aspek produksi. Sementara pada tahun ketiga, perhatian diarahkan pada pemasaran hasil yang telah dikembangkan.
“Kalau yang di multi years ini, tahun pertama dulu kita sosialisasi untuk manajemen lingkungan, terus tahun kedua ke produksinya, terus tahun ketiga ini nanti aspeknya pemasaran,” jelasnya.
Windha menjelaskan bahwa Program Pengabdian Masyarakat ini berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi desa. Setelah pengelolaan sampah di tingkat akhir mengalami perubahan, desa-desa dituntut lebih mandiri untuk menyelesaikan persoalan sampah di wilayah masing-masing. Kondisi itu membuat Desa Triharjo membutuhkan solusi yang tidak hanya menyelesaikan masalah lingkungan, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan sampah secara lebih produktif.
“Kita ingin mengatasi masalah sampah yang ada di Desa Triharjo, karena sekarang pengelolaan sampah itu harus selesai di tingkat desa, jadi dikelola sendiri,” jelasnya.
Inti inovasi dalam sistem ini terletak pada pengolahan sampah plastik melalui proses pirolisis untuk menghasilkan bahan bakar minyak. Menurut Windha, sampah plastik yang tidak lagi memiliki nilai jual, seperti kantong kresek dan jenis limbah plastik lain yang sulit dimanfaatkan, justru dapat diolah menjadi produk yang lebih bernilai.
“Dari sampah menjadi berarti. Jadi kita masih bisa memanfaatkan sampah ini menjadi barang yang memiliki nilai jual,” ujarnya.
Dalam rancangan tersebut, hasil bahan bakar minyak yang diperoleh diarahkan untuk kebutuhan yang dekat dengan aktivitas masyarakat desa. Produk itu diharapkan dapat dimanfaatkan untuk menjalankan mesin-mesin pertanian atau peralatan lain yang digunakan warga, seperti traktor dan mesin pemotong rumput. Dengan demikian, ini tidak hanya membahas penanganan sampah, tetapi juga merancang alur manfaat yang langsung bisa dirasakan masyarakat.
Yang membuat Program Pengabdian Masyarakat ini menarik adalah pendekatannya yang benar-benar bertumpu pada kebermanfaatan. Program ini tidak berhenti pada pengolahan teknologi semata, tetapi juga menyiapkan alur pemanfaatannya. Sampah yang masih memiliki nilai jual tetap diarahkan untuk dijual, sedangkan sampah yang tidak bisa dijual diproses lebih lanjut agar menjadi produk yang berguna. Dalam konteks ini, pengabdian masyarakat dijalankan sebagai proses yang menyentuh persoalan lingkungan, ekonomi, dan pemberdayaan sekaligus.
Fokus utamanya adalah membantu masyarakat mengelola sampah plastik yang selama ini sulit tertangani, lalu mengubahnya menjadi bahan bakar minyak agar memiliki nilai guna dan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Dengan demikian, pengabdian ini tidak hanya berangkat dari persoalan lingkungan, tetapi juga dari upaya mendorong manfaat ekonomi bagi masyarakat desa.
“Dari sampah itu kan sebenarnya yang sudah nggak punya arti. Jadi dari sampah menjadi berarti, jadi kita masih bisa memanfaatkan sampah ini menjadi barang yang memiliki nilai jual,” Ujarnya
Program ini juga menunjukkan kuatnya kolaborasi lintas bidang. Windha menjelaskan bahwa tim yang terlibat tidak hanya berasal dari satu disiplin ilmu. Dari Universitas AMIKOM Yogyakarta, ia berkontribusi pada sisi informatika, khususnya yang nantinya mendukung aspek pemasaran. Tim juga bekerja sama dengan pihak dari teknik mesin untuk pengembangan alat, serta melibatkan keahlian teknik kimia agar bahan bakar minyak yang dihasilkan benar-benar memenuhi kualitas yang dibutuhkan. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat yang kuat memang membutuhkan perpaduan keahlian yang saling melengkapi.
Selain dampak langsung di desa, program ini juga memiliki target luaran yang jelas. Pada skema multi years, ada capaian yang harus dipenuhi pada setiap tahapan, mulai dari peningkatan aspek lingkungan, produksi, hingga pemasaran. Pada tahun ketiga, luaran yang ditargetkan tidak hanya berupa penguatan pemasaran, tetapi juga mencakup publikasi dan paten. Hal ini menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat tidak sekadar hadir sebagai kegiatan lapangan, tetapi juga sebagai proses yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Windha juga menekankan bahwa nilai utama dari pengabdian masyarakat justru terletak pada rasa manfaat yang bisa dirasakan bersama. Baginya, pengabdian bukan semata soal hibah atau pendanaan, tetapi tentang bagaimana hasil kerja akademik dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Pandangan ini menjadi salah satu bagian paling menarik dari proposal yang dijalankannya.
“Pengabdian itu merasa kita jadi bermanfaat, jadi rasanya senang. Jangan lihat, wah saya dapat hibah ini untuk saya pakai. Itu memang mindset yang harus diubah, karena pengabdian ya benar-benar mengabdi,” tegasnya.
Keberhasilan proposal ini memperoleh pendanaan menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat dapat tumbuh menjadi kerja kolaboratif yang kuat, relevan, dan berdampak. Melalui program pengelolaan sampah terpadu di Desa Triharjo, Windha memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan yang selama ini dianggap rumit dapat didekati dengan inovasi, pendampingan, dan semangat pemberdayaan. Hal ini menegaskan satu hal penting: pengabdian yang baik tidak hanya selesai pada kegiatan, tetapi meninggalkan manfaat yang bisa terus dirasakan oleh masyarakat.
Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With Windha Mega Pradnya Dhuhita




